Opini

Ketika Rasa Dalam Agama dan Kata Telah Mati

Ilustrasi: Sukmawati mencium tangan Ketua MUI Maruf Amin/istimewa

Puisi “Ibu Indonesia” karya Sukmawati dan dibacakannya sendiri pada pagelaran “29 tahun Anne Avantie berkarya”, di Indonesia Fashion Week 2018, menimbulkan kontroversi dan perdebatan tak berkesudahan. Saling tentang dan dukung masih berseliweran di beranda media sosial. Bahkan meski Sukmawati telah meminta maaf jika puisi yang telah dibuatnya tidak dimaksudkan untuk menyinggung perasaan umat Islam, namun tak ayal ketika Ketua Umum MUI sekaligus Rois Syuriyah PBNU KH. Ma’ruf Amin menyampaikan agar Umat Islam memaafkan Sukmawati, kini berganti Beliau yang mendapat hujatan dari netizen.

Pada saat yang bersamaan, saya tengah membaca Novel Origin karya Dan Brown, yang mengisahkan penemuan tentang kehidupan Masa Depan tanpa Agama oleh Ilmuwan Edmond Kirsch, “karena menganggap agama hanya sebagai penghambat kemajuan peradaban di dunia“. Meski masih belum selesai membaca novel ini, saya hanya menarik benang merah tentang ketakutan, dan phobia yang berlebihan terhadap sekian hal yang dianggap bertentangan dengan ajaran agama. Jika dalam Origin, kecemasan itu akibat penemuan sains dan teknologi yang akan mematikan fungsi agama, sedangkan pada kasus Sukmawati ada kekhawatiran bila bait syair puisi akan meracuni pikiran orang Indonesia, tentang konde vs cadar, dan kidung Ibu Indonesia vs suara adzan.

Padahal, seringkali saya menuliskan tentang ini, agama hanyalah ruang, bentuk, wujud, simbol. Yang terpenting adalah inti dari ajaran agama itu yang bersumber dari hati kita, penuh kebaikan, ketulusan, pemaafan, keikhlasan, kesalingan, dan hal-hal positif lainnya. Justru ketika ada nilai-nilai yang bertentangan dengan itu semua, maka itu bukan bagian dari agama, dan dia harus belajar beragama lagi, bagaimana meneladani sikap dan perilaku para bijak bestari di masa lalu. Bukankah Islam sendiri berasal dari kata salam yang maknanya adalah perdamaian, jika percik api kecil saja sudah dianggap sebagai pemantik yang sanggup membakar bangunan keberagaman, maka bagaimana api itu bisa dipadamkan, bila terus menerus ditiup, dihembuskan dengan kalimat penuh cacian, makian, hujatan dan cibiran. Tahukah teman, sikap yang demikian sama sekali tidak mencerminkan perilaku orang beragama, apalagi yang mengaku sebagai orang Islam.

Disisi lain sebagai pencinta puisi dan prosa, berkaca pada penafsiran yang beragam tentang Puisi Ibu Indonesia itu, saya hanya ingin mengatakan jika kata-kata telah mati, bagi dia yang tak memahami kalimat yang terdiri dari frasa dan diksi. Karena disetiap kata itu mempunyai nyawa dengan makna yang berbeda, tergantung bagaimana mengintrepretasikannya. Meski setiap orang bebas untuk menafsirkan sesuai dengan kehendaknya, namun tetap bagi saya tak bisa dengan rasa telanjang membaca puisi, lalu mengartikannya dengan cara biasa. Atau bahasa lain yang seringkali saya pakai juga, kata-kata memiliki sayap makna yang berbeda, ia diartikan selain sesuai keinginan pembaca, juga harus mengetahui bagaimana proses sebuah kata akhirnya lahir dan menjadi bait-bait puisi yang indah.

Satu hal lagi mungkin yang perlu pula diketahui, dalam setiap proses kreatif lahirnya sebuah karya telah melewati banyak tahapan. Ia tidak serta mewujud tanpa melewati jalan panjang, alasan dan tujuan mengapa karya itu dibuat. Meski yang lebih tahu pasti tentang bagaimana proses itu menjelma nyata, adalah tentu penulisnya sendiri, yang membuat kata-kata akhirnya lahir, untuk dinikmati sebagai bagian dari karya, bukan untuk dicaci dan dicela.

Kita tidak bisa menggeneralisir menurut pandangan satu pihak saja, terlebih membuat pernyataan tanpa konfirmasi atau mempertanyakan terlebih dahulu, tabayyun atau klarifikasi kepada yang bersangkutan, sebelum akhirnya menjadi liar tak terkendali, dan kembali memposisikan kita sebagai anak bangsa, berhadap-hadapan saling serang, antara mendukung atau menentang, hingga bahkan ada yang mengusulkan untuk membuat demo berjilid-jilid seperti kasus penistaan agama yang menimpa Mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama

Jika boleh mengatakan, kita ini tak pernah belajar dari kesalahan. Sudah berapa kali berseteru hanya karena persoalan “Bias Kata dan Agama” yang berlindung atas nama penistaan agama. Bagai Sisyphus dalam mitologi Yunani menurut Albert Camus, “yang mendorong batu besar ke arah gunung. Terus menerus dan berulang, tak sampai-sampai, karena beban batu yang berat dan tanjakan gunung yang semakin curam“. Seperti menahbiskan juga rasa kita dalam beragama yang kaku dan telah mati. Bersamaan dengan hal itu kata-kata pun ikut tiada. Ketika permintaan maaf, anjuran untuk memaafkan semakin dibalas dengan lontaran kalimat negatif, maka sempurna sudah hati yang tak beragama itu, dan kata sebagai sayap puisi dan prosa, kalimat-kalimat indah yang menetramkan jiwa, melembutkan hati, menyejukkan nurani, menjadi hilang makna, tiada suara dan tanpa rupa. Jiwa yang tak pernah mengenal kata akan kering kerontang, gersang, dan semakin menghilang, hanya tinggal gemuruh, rusuh, keruh, penuh dengan debu muslihat dan siasat. Lalu iri serta dengki kelak yang akan menguasai.

Penulis Adalah Aktivis Perempuan, Penggila Baca, Penyuka Sastra dan Hobi Menulis. Tinggal di Indramayu

Popular

To Top