Opini

Kiai Ageng Muhammad Besari Sosok Mahaguru Para Maharaja

Foto Dokumen (Afrizal)

Selain masyhur dengan Bumi Reog, Ponorogo juga menjadi zona spiritualitas massa yang kaya. Kekayaannya melimpah-ruah dalam cerita tutur riyadhoh para pendirinya yang gagah, menerjang badai dan hutan di Bumi Wengker tersebut.

Setelah kemarin penulis membahas tentang Batoro Katong, Adipati pertama Ponorogo di bawah kuasa Majapahit. Yang menyebarkan Islam dan mempertahankan adat istiadat Wengker dengan bijak, misal ihwal Reog.

Pada kesempatan kali ini, penulis mencoba mengudarakan sosok Mahaguru dari para Maharaja di Jawa. Dia bernama Kiai Ageng Muhammad Hasan Besari, seorang Pendiri Pesantren Tegalsari pada awal abad 18 M, Jetis, Ponorogo yang mengkombinasikan dua kutub antara Islam dan Nasionalisme.

Gus Dur di sebuah konsorsium pernah berkata: “Kiai Hasan Besari merupakan monumem berpadunya antara Islam dan Nasionalisme”. Ungkapan menemui kebenarannya ketika Anda melihat silsilah dari Kiai Besari sendiri.

Bahwasannya dari jalur Ayah (Kiai R. Nedo Kusumo), dia merupakan keturunan dari Pendiri Kerajaan Majapahit: Raden Wijaya. Sedangkan dari garis keturunan Ibu (Nyai Anom Besari), nasabnya sampai kepada Rasulullah Saw. melalui garis Sayyidati Fatimah Az-Zahro.

Sebuah landasan yang menarik, perpaduan antara seorang bangsawan dan negarawan dengan seorang ulama’ dan penganut Islam taat. Berkat persilangan tersebut lahirlah Kiai Ageng Muhammad Hasan Besari. Sosok monumen harmoni Islam dan Nasionalisme.

Selain dari segi nasab, bukti lain yang menguak bahwa dari tangan beliau lahirlah sosok Pakubuwono II (Sultan Kartasura), Raden Ngabeh Ronggowarsito (Begawan Kasultanan Kartasura) dan H.O.S Cokroaminoto (Tokoh Pergerakan Nasional Raja Jawa tanpa Mahkota).

Kelak dari ketiga tokoh itulah yang menginspirasi Presiden Pertama Republik Indonesia: Ir. Soekarno dalam memperjuangkan dan membangun NKRI.
Tapi sebelum itu, keilmuan Kiai Besari juga sampai pada pendiri kekuatan organisasi keagamaan Islam terbesar di dunia, yakni KH. Hasyim Asy’ari (NU) dan KH. Ahmad Dahlan (Muhammadiyah).

Meski konsentrasi keilmuan Kiai Besari lebih menonjol pada keilmuan Tasawwuf, yang menyikapi dunia dengan laku zuhud, akan tetapi intrepetasi nilai-nilai sufi oleh para santrinya yang membuat perkembangan makna Tasawwuf itu menjadi lain.

Semisal Pakubowono, posisi dia sebagai bangsawan seorang Sultan Kartasura, pasti laku Tasawwuf itu akan diintegrasikan dengan laku politik Kesultanan secara kolektif. Pasalnya dia sebagai Raja dan mempunyai kendali legitimatif.

Lain dengan Pakubowono, Raden Ngabehi Ronggowarsito merupakan seorang sastrawan masyhur Keraton. Didikan Kiai Besari ini mampu mengartikulasikan ajaran Tasawwuf dengan menciptakan Serat Kalatida berupa dua belas bait sinom atau biasa dikenal dengan kidung Zaman Edan.

Serat itu berisi ajaran hidup untuk mengenali zaman, mengenali diri sendiri dan mengenali tindakan yang akan diperbuat, supaya disesuaikan atau dipadukan dengan tindakan kaum agama dalam masyarakat. Potongan baitnya seperti berikut:

Begja-begjaning kang lali, luwih begja kang éling klawan waspada. (sebahagia-bahagianya orang yang lalai, akan lebih bahagia orang yang ingat dan waspada).

Jika terlahir Raja dan Begawan dari tangan Kiai Besari, lain dengan H.O.S Cokroaminoto. Dia sosok tokoh pergerakan nasional, yang mendirikan sebuah organisasi bernama Serikat Islam (SI). Organisasi dagang yang bertujuan untuk mengembalikan kedaulatan rakyat tersebut didasarkan pada kaidah hukum Islam.

Lebih spesifik lagi, dia telah memadukan antara Islam dan Sosialisme (1924). Perpaduan itu, menitikberatkan pada tanggung jawab sosial secara kolektif. Kekeluargaan, gotong royong untuk menyejahterakan satu sama lain. Sosialisme Bung Cokro: “Cara hidup yang hendak mempertunjukkan kepada kita bahwa kita adalah yang memikul tanggung jawab atas perbuatan kita satu sama lain.” (Tjokroaminoto, Islam dan Sosialisme, 1963:9).

Kritik atas sosialisme barat pun dilancarkan oleh Bung Cokro, bahwa materialisme historis-nya Marx mendasarkan segala asal dari benda, untuk benda dan kembali ke benda. Tapi bagi sosialisme Islam, segalanya betumpu dan bertolak kepada Allah.

Melalui kearifan, keilmuan serta keteguhan akan prinsip Islam tersebut, Raja tanpa Mahkota itu menjadi Mahaguru dari para founding fathers di Indonesia. Adapun wasiat atau pesannya yang paling masyhur adalah : Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat.

Ala kulli hal, kehebatan Pesantren Tegalsari tak terlepas dari kecemerlangan pendirinya, yakni Ki Ageng Muhammad Besari. Ramuan kurikulum yang diterapkan olehnya, mampu melahirkan banyak bangunan pemikiran bersejarah dalam bidang Islam dan Nasionalisme bagi bangsa Indonesia. Wallahu A’lam.

Popular

To Top