Kisah Inspiratif dari Tukang Singkong Menunaikan Ibadah Haji lewat Sedekah

109

Judul : Tukang Singkong Naik Haji
Penulis : Satria Nova
Penerbit : Mizania
Cetakan : I, Februari 2017
Tebal : 194 Halaman
ISBN : 978-602-418-083-6

Bersedekah merupakan suatu perbuatan yang sangat sulit jika kesadaran kita sebagai manusia masih melihat segala sesuatu dari aspek materi. Tetapi, bersedekah akan menjadikan hidup berkah jika dilakukan sepenuh hati. Bukan hanya itu, bersedekah menjadikan kehidupan yang kita jalani akan penuh makna dan berkah. Jika sedekah dibagikan dengan tulus, maka kebahagiaan pasti datang menjumpai kita.

Kesadaran akan pentingnya interaksi sosial diharapkan bisa lahir dari setiap indivindu, sehinga semua itu bisa berimplikasi pada lahirnya kepekaan sosial, ada waktu di mana manusia lainnya, terutama bagi mereka yang konidisinya sedang dalam kesulitan. Dalam islam, konsep kepekaan sosial lumrah dipraktikkan dalam bentuk saling memberi yang kemudian populer disebut sedekah. Buku ini mengisahkan tentang kesedekah dalam menjalani bekerja ditengah penghasilan kecil. Bekerja sebagai tukang singkong mampu menabung di celengan beberapa tahun hingga mendapatkan amanah dari Allah untuk melakukan ibadah haji yang mabrur. Buku ini mengurai tentang mukjizat sedekah, bagaimana kemudian sedekah mampu berubah seseorang kepada suasana yang tidak pernah diduga sebelumnya. Ketulusan memberi telah mengantarkan seseorang pada satu keadaan yang tidak pernah dipikirkan. Inilah kedahsyatan sedekah, tidak diduga tapi sungguh nyata.

Untuk membuka kesadaran di balik fakta mengagumkan di balik rahasia bersedekah, kiranya kita membutuhkan motivasi dan inspirasi. Padahal kita, harus menyadari bahwa setiap manusia yang hidup lingkungan sosial, tradisi berbagi atau bersedekah dari sebagian yang kita mampu atau miliki menjadi suatu keharusan. Karena tidak mungkin kita bisa menjadi kaya-raya: makan penuh dengan kecukupan, tanpa ada sumbangsih dari orang-orang di sekitar kita. Sementara kita bersifat angkuh tanpa mau berbagi dengan sesama.

Baca Juga:  Filosofi Dakwah Cinta, Sosial, dan Romantika

Perlu diketahui bersama, bahwa setiap yang hidup akan menemukan kematiannya. Kita sebagai manusia yang akan menemukan kematian suatu hari nanti, seharusnya berpikir tentang kehidupan berikutnya yang tidak dipandang secara materi belaka. Tetapi, amal perbuatan baik selama masih hidup yang akan menjadi ukuran. Dari itu, sedekah memiliki pahala yang sangat luar biasa, selain memang di dunia kenikmatannya yang bisa dirasakan (hal 43).

Seperti kisah Budi, seorang penjual gorengan yang tiba-tiba bisa naik haji lantaran ketulusannya memberikan sepotong buntut singkong kepada seorang yang kebetulan lalu lalang di depan gerobaknya. Peristiwa itu terjadi dalam kurun waktu 24 tahun, saat itu ada anak kecil bersama bapaknya sedang berjalan tak tentu arah, Budi pun memanggil anak kecil itu dan menyodorkan buntut singkong, betapa gembiranya anak kecil itu.

Hingga pada suatu ketika, setelah 24 tahun yang berlalu, ada seseorang pemuda dengan mobil mewah yang dikendarainya berhenti persis di depan gerobaknya. Pemuda itu bertanya buntut singkong, tapi Budi mengatakan tidak ada. Pemuda itu kemudian dengan santun bilang bahwa dia adalah anak kecil yang dahulu pernah diberi buntut singkong oleh Budi. “Abang tidak sekadar memberi saya buntut singkong, tapi juga kebahagiaan, saya mungkin tidak bisa membalas budi baik abang, tapi saya ingin memberangkatkan abang berhaji. Semoga abang bahagia.” (hal 138).

Sebuah kisah yang cukup sederhana, tetapi membawa pesan moral tinggi untuk hidup bersosial dengan sesama. Meskipun yang disedekahkan hanya buntut singkong goreng yang tidak ada artinya, hal itu menjadi sangat berharga bagi mereka yang tidak memiliki harta benda untuk sekadar makan. Tidak heran jika berkah bersedekah kita bisa menemukan kebahagiaan selain di akhirat kelak pahala menunggu. Buku ini akan mengantarkan kita penyadaran diri untuk mengingat betapa sangat penting bersedekah, baik bagi diri sendiri atau bagi orang lain. Sedekah dijalani sejak dini.