Kisah-kisahTapol Mereka yang Tanpa Mengerti Apa G30S 1965. Tanpa Proses Peradilan Di Hukum Puluhan Tahun

204
Foto: Utati
Foto: Utati

Oleh: Mang Uu

Oktober 1965 ketika Utati sedang mengajar, tiba-tiba Kepala Sekolah memanggilnya dan memberi surat pemecatan. Tak ada penjelasan, namun Utati menduga hal itu ada hubungannya dengan penculikan para jendral beberapa hari yang lalu. Dan benar saja, di bulan Februari 1967, di tengah malam saat hujan deras, serombongan tentara mengepung rumahnya. Ia dibawa ke kantor tentara, ditahan di penjara Bukit Duri. Siang malam ia dicecar dan dihajar perihal tuduhan keterlibatannya dalam peristiwa lubang buaya.
Pedih akibat pukulan bisa hilang dalam hitungan hari, namun tidak dengan trauma akibat tentara hendak menelanjanginya. “Saya muter-muter keliling meja, menangis, takut sekali”. Bibirnya bergetar, fisiknya sudah disiksa dan dipenjara, tapi ia menolak mentalnya diruntuhkan paksa.

Sebelas tahun ia dipenjara tanpa proses pengadilan. Ketika keluar dari penjara Bukit Duri tahun 1978, ia menikah dengan Koesalah Soebagyo Toer, sesama tahanan politik yang baru bebas dari Rutan Salemba. Mereka dikaruniai dua orang anak dan tinggal di rumah yang berada di gang sempit di Depok, Jawa Barat. Utati enggan merutuki nasibnya. “Setidaknya saya sudah berusaha menjadi apa yang saya cita-citakan, yaitu menjadi seorang guru….”.

Utati menyanyi bersama paduan suara Dialita, paduan suara yang terdiri dari ibu-ibu eks tapol 65 bersama keluarganya dan para aktivis. Lagu-lagu yang dinyanyikan itu berdasarkan cerita hidupnya dan juga teman-temannya yang dipindahkan ke kamp tahanan Platungan. “Saya ingin sejarah kami diketahui banyak orang”.
Utati lahir di Purworejo tahun 1944

*Penulis Adalah Seniman Sunda

Baca Juga:  PHK karena Persekusi (Lawan !)