Koalisi Gemuk Tidak Menguntungkan Jokowi

342

Ada anggapan, popularitas Jokowi menyamai popularitas SBY yang akan maju di putaran kedua saat itu, SBY begitu populer ibarat siapapun calon pendampingnya tidak punya pengaruh yang signifikan pada tingkat elektabilitasnya. SBY begitu populer sehingga SBY bermain aman dengan memilih Budiono sebagai cawapresnya.

Alih alih ingin menyelamatkan suksesi di pilpres 2014 tetapi terpaan badai kasus Century membuat pamor Budiono tidak bisa terangkat dan malah sebaliknya.

SBY tidak mempunyai second opinion tokoh yang dimunculkan untuk melanjutkan suksesi kekuasaan di pemerintahan, ditambah banyaknya kasus-kasus korupsi yangg terungkap yang dilakukan oleh para kadernya sehingga Demokrat harus rela lengser dan kalah telak di pemilu Legislatif 2014.

SBY saat itu juga dihadapkan oleh pilihan-pilihan yang salah dalam mengisi orang- orang yang duduk  di  jajaran kabinetnya.  Kabinet SBY banyak diisi dari kalanga birokrat serta kader-kader dari partai koalisinya.

Kepopuleran SBY saat itu hampir sama dengan kepopuleran Jokowi saat ini

Kepopuleran Jokowi  saat ini tak terbendung, ditambah tingkat kepuasan masyarakat atas kinerja pemerintahan Jokowi yang tembus diatas angka 70%. Adalah suatu mekanisme yang harus dilakukan bahwa seorang calon presiden harus diusung oleh partai yang memiliki keterwakilan dengan jumlah kursi minimal 20% di legislatif.

Seandainya kita berpikir secara logis, Jokowi hanya butuh dukungan PDIP dan salah satu partai koalisi saja. Pilihan partai tersebut yang tepat adalah Nasdem atau Hanura. Pendapat ini tentu bukan tanpa alasan, dilihat dari kinerja dan suport kedua partai ini dipemerintahan cukup pantas mendapatkan apresiasi. Bila keduanya harus dipilih lagi salah satu pilihan itu jatuh pada partai Nasdem.

Pertimbangannya adalah karena Partai Nasdem terlihat lebih solid di lingkungan internalnya dibandingkan Hanura yang baru saja digoyang dgn isue ketidak harmonisan OSO ketumnya dengan beberapa elit partai.

Baca Juga:  Mengapa Jokowi Harus Menang?

Terlepas dari  pendapat diatas tentu yang jauh lebih penting adalah terwujudnya program Nawacita secara tuntas di 5 tahun mendatang serta suksesi kepemimpinan di pilpres 2024 agar jatuh ditangan anak terbaik bangsa untuk memimpin Indonesia.

Program ini tentu harus didukung oleh orang-orang yang tulus dan mau bekerja keras serta ahli dibidangnya di jajaran kabinet bentukan Jokowi. Tidak bisa dipungkiri dukungan partai politik pengusung Jokowi tentu mereka berharap mendapatkan jatah kursi di jajaran kabinet.  Pekerjaan yang tidak mudah dari presiden Jokowi untuk mengotak atik skema kabinetnya.

Baca Juga: Grand Master dari Solo

Disatu sisi Jokowi harus memilih calon-calon pembantunya yang kredibel, sedang disisi lain harus mempertimbangkan jatah kursi untuk partai-partai pendukungnya.

Kita sudah melihat bersama sepak terjang para menteri di kabinet kerja saat ini. Kita tahu dan bisa membandingkan menteri-menteri Jokowi yg dipilih dari kalangan profesional dan dari usulan partai.

Nama-nama seperti Susi Pujiastuti, Mulyono Hadikusumo, Ignatius Jonan, Sri Mulyani, Pratikno, dan lain lain, adalah garansi nama-nama diluar kader partai yang bekerja sangat baik. Kita tentu masih berharap andai Jokowi terpilih lagi di periode ke-2 nanti akan muncul lebih banyak nama-nama anak bangsa terbaik dari kalangan profesional yg mengisi pos menteri di kabinet kerja Jokowi.

Apa mungkin dan mau partai pendukung tidak mendapatkan jatah kursi menteri di kabinet?

Sesuatu yang hampir sangat tidak mungkin. Dari paparan diatas jelaslah koalisi gemuk pendukung Jokowi tidak menguntungkan dilihat dari sisi ini. Betapa sulitnya nanti presiden Jokowi harus memilih calon-calon menterinya dengan pertimbangan jatah kursi yang harus diberikan pada partai-partai pendukungnya.

Semua sudah terjadi, koalisi gemuk pendukung Jokowi tdk terhindari.  Kita hanya berharap mudah-mudahan partai yang belum menentukan sikap dukungan pada salah satu poros tidak merapat ke poros Koalisi Jokowi.

Baca Juga:  Pilpres 2019 dan Perubahan Peta Politik Nasional

Bersyukurlah Koalisi pendukung Jokowi tanpa PAN, PKB dan juga Demokrat, belum mememastiskan dukungannya ( PAN & PKB ) walaupun disatu sisi kadernya ada yang masuk di jajaran kabinet kerja Jokowi . Untuk mewujudkan program Nawacita kuncinya hanya satu “Jokowi harus menang di pilpres 2019 nanti

Pemerhati Politik, Aktivis Relawan Jokowi.