Kolaborasi ITS dan ITB Kembangkan Potensi Maritim Indonesia

21
ITS
Ilustrasi (its.ac.id)

SERIKATNEWS.COM – Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata, Ir. Rizki Handayani Mustafa memaparkan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki potensi ekonomi dan bahari yang melimpah. Namun sayangnya, potensi bahari itu masih kalah dengan negara Asia Tenggara lainnya, seperti Thailand dan Singapura.

Pernyataan tersebut diungkapkan Ir. Rizki Handayani Mustafa saat memaparkan potensi wisata maritim dalam Seminar Nasional Kemaritiman di Gedung Research Center Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Sabtu (23/2/2019).

Seminar itu dihelat oleh ITS dan Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai rangkaian menjelang peringatan 100 tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia pada tahun 2020 mendatang. Seminar tersebut mengusung tema “Pengembangan Sains dan Teknologi Kemaritiman untuk Pengembangan Berkelanjutan”.

Menurut Rizki yang diundang sebagai pembicara utama seminar, pariwisata berbasis laut merupakan sektor yang menjanjikan dan dapat dilakukan secara berkelanjutan.

“Kementerian Pariwisata akan mengembangkan sepuluh destinasi wisata baru di Indonesia, tujuh di antaranya berbasis maritim,” kata Rizki.

Wanita yang kerap disapa Kiki itu menambahkan, kerja sama harus dilakukan untuk mempersiapkan pengembangan pariwisata pesisir, antara lain kerja sama dengan pemerintah lokal untuk menata dan mempersiapkan aksesibilitas menuju tempat wisata, serta kerja sama dengan Kementerian Perhubungan untuk mempersiapkan kebijakan terkait harga tiket pesawat..

“Ini karena mayoritas wisatawan yang berkunjung ke Indonesia masih menggunakan maskapai penerbangan LCC (low-cost carrier),” imbuhnya.

Tidak hanya itu, Kementerian Pariwisata juga berperan menginisiasi pembinaan masyarakat di kawasan wisata pesisir. Kemudian menyusun masterplan di daerah tersebut untuk mengembangkan dan menatanya. Investor juga berperan dalam mengembangkan utilitas di kawasan tersebut, sehingga perlu kebijakan agar investor dengan mudah masuk dan berperan dalam industri wisata bahari.

Baca Juga:  Penamaan Laut Natuna Utara Memperkuat Kepentingan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia

Sebelumnya, dalam sambutan pembuka Rektor ITS Prof. Ir. Joni Hermana MScES PhD menyebutkan, potensi maritim Indonesia sangat besar mencapai USD 1,35 triliun, delapan kali lebih besar jika dibandingkan dengan APBN Indonesia saat ini.

“Tetapi 25 persen kemiskinan di Indonesia justru tersebar di kawasan pesisir, hal ini merupakan suatu tantangan bagi Indonesia,” kata Joni.

Joni menambahkan, keberadaan Revolusi Industri 4.0 juga harus dimanfaatkan untuk mengembangkan Indonesia menjadi rujukan negara lain dalam bidang maritim. Inovasi dan kolaborasi harus dilakukan untuk mengembangkan potensi ini. Mulai dari pariwisata berbasis bahari hingga inovasi yang diperlukan untuk mengelola kawasan pesisir.

“Saat ini tidak perlu lagi ada kompetisi, namun perlu dijalin suatu kolaborasi,” imbuh Guru Besar Departemen Teknik Lingkungan ini.

Hal senada diungkapkan Rektor ITB Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi DEA. Menurutnya, maritim merupakan isu penting yang terangkum dalam empat bidang tujuan utama pembangunan berkelanjutan.

Empat bidang itu yakni food, energy, water dan climate change yang bermuara pada maritim. Laut dapat dimanfaatkan untuk potensi energi dan pariwisata yang dapat memberikan kontribusi terbaik dalam membangun Indonesia.

“Isu ini dapat diatasi dengan inovasi yang dilakukan oleh akademisi dari lintas disiplin, agar kita kuat dan lekas maju,” ujar alumnus Teknik Industri ITB tersebut.

Tidak hanya dari kalangan akademisi, seminar itu turut mendatangkan figur dari kalangan pemerintah. Mereka adalah Kepala SKK Migas Dr. Ir. Dwi Soetjipto MM yang memaparkan potensi migas Indonesia dan Wakil Gubernur Jawa Timur Dr. H. Emil Elestianto Dardak MSc yang ditunjuk sebagai pembicara mengenai pemberdayaan ekonomi Jawa Timur di masa mendatang.

Dengan seminar itu, diharapkan kalangan akademisi dan juga pemerintah dapat berperan aktif dalam mengembangkan potensi maritim negara, untuk mendorong cita-cita Indonesia sebagai poros maritim dunia.