Krisis Intelektual dan Ruang Diskusi Generasi Muda: Sebuah Kontemplasi Mahasiswa Milenial

589

Entah apa yang menyebabkan lorong-lorong kampus menjadi sedemikian sepi dari pembahasan mengenai isu-isu masa kini, bedah buku hingga diskusi sejarah pada malam ketika saya beberapa kali lewat. Ada pun yang membuat ramai sudut-sudut kampus adalah mereka yang sedang duduk-duduk santai di gazebo-gazebo kampus untuk sekedar berkutat dengan tugas maupun makalah lomba atau suara-suara ribut dari dalam ruang-ruang kelas yang melibatkan para mahasiswa dalam suatu perdebatan tentang acara-acara talkshow atau event-event panggung yang sedang dirancang.

Sudah lebih dari setahun saya berkuliah di Jogja, teringat saya pada harapan-harapan ketika saya memutuskan untuk berkuliah di tempat saya bernaung saat ini. Datang dari Solo, saya mengharapkan adanya sebuah ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan daya berpikir kritis dan revolusioner di tengah tugas saya sebagai mahasiswa yang seyogyanya belajar dan membaca buku. Jogja dan kampus tempat saya bernaung menjadi sebuah harapan bagi saya untuk menemukan ruang di mana saya mampu menuangkan ide serta pikiran dan mengolahnya menjadi sebuah pemahaman kritis yang membangun. Itu sebabnya saya membaca banyak sekali buku pada libur tahun ajaran baru di tengah kesibukan saya mempersiapkan diri menempuh ujian masuk perguruan tinggi.

Di hari pertama masuk kuliah, sempat saya terkejut ketika saya bercerita dengan sangat menggebu tentang penulis favorit saya, Pramoedya Ananta Toer dan Ahmad Tohari yang rupanya tidak pernah terdengar namanya di telinga kakak-kakak tingkat maupun teman-teman sebaya saya. Hal ini sempat membuat saya kecewa, sebab nama Pramoedya dan Ahmad Tohari bukanlah nama yang asing bagi sejarah sastra dan gerakan pembebasan di Indonesia. Kedua nama itu adalah nama-nama besar yang memiliki andil khusus dalam menjadikan sastra sebagai sebuah senjata untuk melawan suatu tirani dan menggambarkan sebuah penindasan, namun tetap saja hal tersebut masih mendapat pemakluman sebab tidak semua orang menyukai sastra dan barangkali itu yang terjadi pada kakak tingkat dan teman-teman sebaya saya, meskipun barangkali ada pula yang tidak demikian namun belum sempat saya temui. Tetapi tetap saja, fenomena ini menimbulkan perasaan yang aneh di dalam diri saya, ditambah lagi ketika saya menemukan sebuah surat terbuka yang ditulis oleh Gunawan Muhtar, seorang alumni dari Akademi Teknik Mesin dan Industri (ATMI) Cikarang yang secara implisit mendiskreditkan aksi demonstrasi dan secara gamblang menyatakan hidup ini akan lebih bermakna apabila diisi dengan berkarya daripada berorasi, di mana beliau melupakan bahwa aksi orasi maupun unjuk rasa atau demonstrasi pun merupakan sebuah sarana untuk menciptakan sebuah karya.

Baca Juga:  Perlukah Kodam Menggusur Warga Cijantung 2

Berbagai pertanyaan berkecamuk dan terlintas: ada apa dengan mahasiswa? Apa saya yang salah menempatkan diri sebagai anak yang dididik dengan begitu kolot untuk terus belajar dan membaca buku oleh kedua orang tua saya sehingga tidak tumbuh sesuai dengan lingkungan pergaulan era milenial ini? Atau memang terjadi pergeseran budaya yang mengubah corak mahasiswa masa kini dengan era lampau sehingga dapat dikatakan bahwa harapan yang saya bawa ke Jogja merupakan harapan yang terlalu muluk? Fenomena-fenomena di atas tentu menunjukkan bahwa ada suatu hal yang salah dalam praktek kemahasiswaan di era milenial ini.

Seorang teman yang sangat baik selalu mengingatkan saya pada suatu pemahaman bahwa selalu ada nomena di balik setiap fenomena. Dalam situasi tersebut, saya membaca kembali sebuah tulisan berjudul, “Ke Mana Intelektual Kritis?” yang tertuang di dalam rubrik Editorial dan dimuat oleh situs Berdikari Online pada tahun 2012 silam yang rupanya sedang gundah akan situasi yang sama dengan saya pada saat ini. Tulisan itu beberapa kali menggugat kenyataan tentang sunyinya suara-suara kaum intelektual, terutama mereka yang merupakan bagian terbesar dari suatu lembaga yang disebut kampus, dalam menghadapi keadaan negara yang semakin darurat; kemiskinan makin meluas, korupsi merajalela, ketidakadilan terus dipertontonkan, sumber daya alam dikuasai segelintir perusahaan asing, dan negara yang makin tak berdaulat.

Dalam kegundahan ini saya setuju pada keputusan tim editorial Berdikari Online yang menyatakan bahwa, “Kampus sudah meninggalkan peran klasik mereka: sumber atau pusat kritik. Peran kaum intelektual telah bergeser; dari pengeritik kapitalisme menjadi pengusung atau pelayan kapitalisme.” Sebab memang benar bahwa konstruksi pendidikan dan kehidupan seputar kampus pun memang telah direduksi dan berhenti pada pemahaman bahwa kampus hanya sekedar bangunan tembok yang terdiri dari campuran batu dan semen untuk mencetak nilai-nilai yang terangkum dalam istilah Indeks Prestasi Kumulatif demi ‘mencetak’ manusia-manusia yang pada akhirnya akan menjadi mesin dari kapitalisme

Baca Juga:  Pilpres 2019 dan Perubahan Peta Politik Nasional

Kampus tak ubahnya menjadi suatu “Pabrik yang memproduksi manusia dengan harapan agar manusia yang diproduksinya bisa menjadi manusia yang bermutu tinggi, siap pakai dan mampu bersaing dengan manusia lainnya,” demikian Chu-Diel pernah berkata dalam karyanya yang berjudul “Sekolah Dibubarkan Saja”. Berkaitan dengan ini, tim editorial Berdikari Online menanggapi dengan menuliskan bahwa, “Sejak neoliberalisme berkuasa di dunia pendidikan, logika komoditas juga makin menggejala dan merasuki gaya hidup Universitas. Lihatlah bagaimana para dosen menciptakan fantasi kepada murid-muridnya tentang dunia luar (dunia kerja) yang begitu indah. Sementara murid, yang sudah terobsesi dengan gaya hidup mewah, tidak sabar lagi untuk menuntaskan studi dan ditempatkan di sebuah perusahaan besar.” Hal ini pun menggenapi apa yang pernah direnungkan oleh Marx ratusan tahun yang lalu yang menyatakan bahwa, “Kita hidup dalam sebuah masyarakat yang telah menentukan apa yang harus kita lakukan sebelum kita  punya kesempatan untuk menentukannya.”

Tentu saja, pemaparan itu semakin mendukung kegundahan yang saya rasakan selama ini. Sepinya lorong kampus dari dengung-dengung diskusi kritis yang dilakukan secara ikhlas oleh para mahasiswa tanpa embel-embel sertifikat atau reward dari kampus terhadap mahasiswanya, acara bedah buku sastra maupun segala kegiatan yang mampu menyumbang bentuk pemikiran radikal bukanlah tanpa alasan. Mahasiswa masa kini lebih senang untuk aktif sebagai event organizer acara-acara talkshow yang mengundang pembicara-pembicara terkenal dan dekat dengan masyarakat melalui bakti sosial dibanding berkumpul dan berdiskusi untuk melakukan kajian ilmiah dalam merumuskan solusi bagi permasalahan di lingkungan warganya. Inilah yang tanpa disadari membentuk mental mahasiswa sebagai sekrup-sekrup kapitalis ketika selesai dengan studinya

Baca Juga:  Aksi Terorisme Melanggar HAM, Negara Harus Tegas!

Dalam fenomena yang demikian, mahasiswa tak lagi memiliki ruang-ruang untuk berdialektika sebab kampus yang ubahnya menyediakan ruang yang demikian tak lagi menjalankan fungsinya dengan baik. Inilah yang menyebabkan kaum terpelajar tak lagi menyadari perannya dalam masyarakat, tak menyadari adanya persoalan yang harus dikaji dari akarnya hingga tak menyadari kewajibannya untuk berpikir secara radikal dan menentukan keberpihakannya dalam alam kapitalistik yang semakin menggoncang kedaulatan negara dan mengoyak masyarakat miskin yang membutuhkan keberpihakan itu sendiri. Dalam hal ini tentu saja tak salah apabila kita mengutip puisi Rendra yang tertuang dalam Sajak Sebatang Lisong dan merenungkannya dalam setiap lini-kehidupan.

Mahasiswa adalah tonggaknya sejarah suatu bangsa, maka tak dapat dibenarkan apabila mahasiswa kehilangan idealisme dan radikalisme-nya. Era generasi milenial tentu menjadi suatu era di mana mahasiswa mampu menjadi sebuah agen dari berbagai perubahan yang ada di dalam masyarakat dengan berbagai teknologi dan kemudahan yang ada di seluruh segi kehidupannya, mampu menciptakan rumus-rumus baru untuk menciptakan kedaulatan rakyat atas tanah airnya, bukan menjadi budak yang semakin menjurangi rakyat dengan kesejahteraan yang merupakan haknya. Benar kata Rendra, “Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing. Diktat-diktat hanya boleh memberi metode, tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan. Kita mesti keluar ke jalan raya, keluar ke desa-desa, mencatat sendiri semua gejala, dan menghayati persoalan yang nyata.”
Sebab, apa artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan?

*Penulis Adalah Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya
Yogyakarta.