Kyai Sanusi

377

Oleh: Diniar Nur Fadilah

Jalanan masih lengang. Matahari belum sepenuhnya naik ke cakrawala. Beberapa tempat di kampungku bahkan masih tersaput kabut

Aku mempercepat langkahku demi bisa sampai secepatnya ke rumah Kyai Sanusi. Sepanjang perjalanan aku sibuk menyusun alasan dan ucapan selamat tinggal yang sekiranya tidak akan menyinggung perasaannya.

Perjalananku kali ini kurasai sangat berbeda dari perjalanan-perjalanan sebelumnya. Bukan hanya karena ini pertama kalinya aku melewati jalanan kampung untuk menuju ke rumahnya seperti yang biasa dilakukan orang banyak, tapi juga karena mungkin ini adalah perjalanan terakhirku ke rumah itu. Ingatanku melayang pada kenangan dua tahun yang lalu.

———–
Aku menyusuri jalan setapak yang membelah hutan pinus muda untuk sampai ke rumah Kyai Sanusi. Rute yang kuambil memang lebih jauh. Tapi itu adalah satu-satunya jalan paling aman agar aku tak bertemu banyak orang.

Sebenarnya, ini bukanlah kali pertamaku datang ke rumah orang paling berpengaruh di kampungku itu. Sudah dua bulan aku mengabdi di sana. Tapi situasi akhir-akhir ini memang tak terkendali. Kelaparan merajalela di kampugku. Semuanya tidak lain adalah karena krisis pangan yang juga tengah melanda negeri kami. Impor ini dan itu yang semakin marak dilakukan pemerintah nyatanya belum cukup menyelesaikan permasalahan.

Kyai Sanusi dan pesantren kecilnya adalah satu-satunya yang tak goyah dihantam badai krisis pangan. Beliau adalah satu-satunya orang yang masih mempertahankan ladangnya disaat warga yang lain menjualnya kepada investor yang berniat membangun pabrik di kampung kami. Itu lah mengapa krisis pangan dan ancaman mati suren tidak menjamah kehidupannya.

Ketidakgoyahan itu pula yang membuat sebagian warga kampung datang padanya untuk bekerja atau mengabdi di pesantren demi serantang beras setiap harinya. Termasuk di dalamnya adalah aku, Guntoro. Tapi tak sedikit pula warga kampung yang mencibirnya. Mereka menebar fitnah macam-macam, menuduh Kyai Sanusi memelihara jin sehingga berasnya tak pernah habis. Dan satu hal yang paling membuatku sedih dari situasi itu adalah Bapakku sendiri nyatanya ikut memusuhi Kyai Sanusi.

Dan golongan warga yang menuduhnya macam-macam semakin menggila dari hari kehari. Mereka bukan hanya menebar fitnah tapi juga sudah mulai berani mengacau. Mula-mula mereka mencuri buah-buahan dari kebun Kyai Sanusi. Ada juga yang meracun beberapa ternak milik pesantren serta banyak tindakan lainnya yang membuat suasana semakin gaduh.

Ditengah kegaduhan itu pula aku memutuskan untuk tetap bekerja padanya. Bukan hanya demi serantang beras yang kini sangat langka di kampungku yang membuat aku terus bekerja padanya, tapi juga kekagumanku pada kebijaksanaannya dalam mengahadapi situasi kacau akhir-akhir ini. Seringkali beliau hanya tersenyum saat kuberi laporan kelompok perusuh yang merusak kebunnya.

Tugasku hari ini adalah mepe gabah. Menggelar alas, meratakan bulir-bulir padi agar semuanya terjemur merata, dan menungguinya seharian. Memastikan tidak ada ayam tetangga ataupun burung dara Gus Imam yang mematuknya.

Baca Juga:  UBUD

Pekerjaan itu kulakukan di halaman belakang rumah Kyai Sanusi. Selain pekarangan luas untuk menjemur padi, di bagian belakang rumah juga terdapat kolam ikan yang di atasnya berdiri sebuah gazebo tempat Kyai Sanusi biasa mendengarkan berita dari radio.

Hari itu beliau mendengarkan berita tentang kuota impor yang semakin ditambah oleh pemerintah. Di akhir berita, radio kesayangannya memutar lagu Kolam Susu yang entah dibawakan oleh siapa aku tak tahu. Beliau juga menanyai pendapatku tentang berita tadi.

“Lucu sekali ya, bah”, kataku singkat

“Apanya yang lucu, Gun? “

“Lagu itu. Abah tidak melihat kelucuannya?” Aku mengikuti santri-santrinya yang memanggilnya dengan sebutan ‘Abah’.

“Owalah bocah. Ditanyai tentang berita malah mengomentari lagunya. Memangnya lucu bagaimana? Kan lagu itu benar? Negeri kita memang sangat kaya. Gemah ripah loh jinawi kalau kata buyut-buyutmu. Bukan cuma tanahnya, tapi perairannya juga sangat kaya.”

“Abah kyai percaya lagu itu? Guntoro sih tidak. Kalau memang kayu dan batu saja boleh jadi tanaman di tanah kita, barang tentu makanan tidak langka, kan bah? Tidak perlu pemerintah impor ini impor itu kalau kayu dan batu saja bisa tumbuh di negeri kita. Dan tentunya, tidak perlu Guntoro ada disini demi serantang beras kalau batu bisa ditanam di tanah belakang rumah. Hehehe.”

“Ah kau ini, Gun. Lanjutkan saja kerjamu.”

Dari seberang kolam ikan aku tahu beliau juga ikut terkekeh. Barangkali juga menertawakan lagu itu atau justru menertawakanku. Radionya masih saja menyiarkan berita tentang kuota impor yang semakin meningkat saat segerombolan massa mendatangi kediamannya.

Kyai Sanusi bergegas menemui mereka yang mulai berteriak-teriak di halaman depan. Aku mengikuti beberapa langkah di belakangnya.

“Tidak ada orang baik yang memendam hartanya sendirian.”suara lantang dari kerumunan itu sontak membuat langkahku terhenti. Itu suara Bapakku.

“Ada apa ini? Bukankah orang tua dan guru-guru kalian selalu mengajarkan untuk menyelesaikan permasalahan dengan cara baik-baik?”Suara lantang Bapakku dijawab Kyai Sanusi dengan suara yang tak kalah lantangnya.

Melihat aku ada di belakang Kyai Sanusi, Bapakku langsung naik pitam. Aku hanya semakin mendekat dan berlindung di balik tubuh Kyai Sanusi saat ia memaki-maki di depan umum.

“Dasar anak bodoh. Kudidik kau susah payah selama ini. Kau malah membela si kikir yang memelihara jin agar tak pernah kelaparan itu.”

“Kalau kau memang Kyai, kau pasti sakti, bukan? Buktikan pada kami semua kesaktianmu, Sanusi. Kau tentunya tahu kami semua dihantui kelaparan selama ini. Kau harus datangkan makanan yang melimpah dari langit untuk kami semua.” Kali ini giliran Mad Rakum, kawan Bapakku yang menantang. Seketika kerumunan warga yang sudah dikuasi nafsu hitam itu bersorak sorai mendengar tantangannya.
“Kau fikir aku Nabi Muhammad yang diberi mukjizat untuk melakukan yang demikian, Rakum?” jawaban Kyai Sanusi sangat tenang. Aku dan beberapa santrinya di belakangnya justru khawatir jawabannya yang tenang itu akan membuat kerumunan warga tersinggung dan bertindak semakin menggila.

Baca Juga:  Rahmat

“Itu artinya kau memang memelihara jin. Kau tidak bisa buktikan kesaktianmu sendiri karena memang kau hidup bergantung dari kesaktian jin-jin yang kau pelihara.” Bapakku masih meluap-luap emosinya. Kerumunan yang tak henti-hentinya bersorak sepertinya menambah energinya untuk berteriak semakin lantang.

“Tanyakan saja pada anakmu atau pada santriku yang lainnya. Mereka semua tahu apa yang kulakukan dan kuusahakan selama ini.”

“Abah kyai benar. Beliau orang yang baik.” Kuberanikan diriku untuk berbicara kepada mereka. Dan responnya tentu seperti dugaanku ; mereka semakin menggila.

“Tahu apa kau, anak kecil? Hah? Tidak ada orang baik seperti dia yang membiarkan tetangganya kelaparan. Tidak ada orang baik yang memendam hartanya sendirian.”

“Baiklah kau benar, aku memang bukan orang baik. Tapi aku tidak memendam hartaku sendiri dan aku juga tak pernah membiarkan tetanggaku kelaparan. Apakah semua salahku jika kalian semua kelaparan? Apakah itu salahku juga jika kalian menjual semua ladang yang kalian miliki hanya untuk beberapa juta rupiah kepada mereka yang membuat kalian tidak bisa lagi bertani? Apa itu juga adalah salahku sudah mengingatkan untuk tidak menjual ladang yang jadi satu-satunya sumber penghasilan kita?”

Kerumunan warga yang sedari tadi bersorak seketika menjadi hening. Beberapa diantaranya kulihat menundukan kepala. Merasa sudah mampu mengendalikan keadaan, Kyai Sanusi melanjutkan ucapnnya

“Dahulu saat mereka, para investor itu datang, bukankah berulangkali kuingatkan pada kalian untuk tidak menjual ladang? Kala itu kalian malah memusuhiku. Menganggap aku tak mau melihat kalian bisa menikmati uang dari mereka. Padahal, aku hanya tak ingin ladang kalian yang sangat subur dibeli untuk membangun pabrik. Dan sekarang, ketika harga-harga melambung tingi dan uang kalian dari para investor itu sudah habis tandas, serta sudah tak punya lagi ladang untuk menopang hidup, aku kembali kalian salahkan.”

“Lalu sekarang kami harus bagaimana?” itu suara dari seorang pemuda di tengah kerumunan. Semakin banyak orang yang menundukkan kepala.

Sepertinya mereka semua menyadari kejatuhannya yang disebabkan nafsu sesaat mereka masing-masing.

“Masuklah kalian semua. Biar kujamu selayaknya saudara yang datang bertamu dengan cara yang baik. Kita selesaikan masalah ini bersama-sama.”

Mereka semua masuk, termasuk Bapakku yang awalnya terlihat enggan bergabung. Musyawarah dimulai dan dipimpin oleh Kyai Sanusi. Jika saja aku tidak diperintah untuk membantu para santri mempersiapkan jamuan untuk tamu-tamu itu, aku sangat ingin ikut forum. Aku ingin tahu bagaimana akhir dari kisah kelaparan kami. Dan tentunya aku sangat ingin tahu bagaimana reaksi Bapakku di forum.

Belakangan aku tahu keputusan yang dihasilkan disambut baik oleh warga semua. Kami akan membuka hutan yang selama ini dikeramatkan secukupnya untuk kembali berladang. Pemilihan tempat diserahkan kepada Gus Imam, putra Kyai Sanusi yang merupakan ahli lingkungan sehingga sebisa mungkin pembukaan lahan tersebut tidak banyak mendatangkan mudharat. Pembentukan Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) juga dilakukan untuk mempermudah pemasaran hasil panen. Kyai Sanusi yang diserahi tanggung jawab untuk memimpin Gapoktan yang diberi nama Ar-Rahmah tersebut.
————————-
Aku semakin berdebar saat mulai memasuki pekarangan Kyai Sanusi. Beberapa santri tampak sedang menimbang gabah dari warga desa untuk dijual saat aku memasuki pelataran. Mereka juga yang memberitahu bahwa Kyai Sanusi ada di gazebo belakang dan menyuruhku untuk langsung menemuinya.

Baca Juga:  Delia

“Assalamu’alaikum. Kulanuwun, bah.”Aku mengucapkan salam saat mendekat ke Gazebo. Suara radio terdengar sayup-sayup. Aku tidak bisa mendengar apa yang diberitakan hari ini.

“Wa’alaikumussalam, Gun. Apakah sudah tiba waktunya? Kau juga akan seperti mereka?

“Ma…maaf, bah. Tapi…” Aku tercekat. Bagaimana beliau bisa tahu aku akan mengundurkan diri untuk bekerja di tempatnya seperti yang dilakukan orang-orang? Aku adalah orang terakhir yang masih bekerja padanya. Warga kampung yang tadinya berkerja ditempatnya banyak yang sudah mengundurkan diri. Mereka kembali mengurus ladang seperti yang dilakukan sebelum krisis pangan itu datang.

“Aku tahu, Gun. Pergilah. Bapak dan ladangmu lebih membutuhkan engkau. Urus ladangmu baik-baik. Jangan pernah kau jual pada mereka lagi.”

“Terimakasih banyak, bah. Terimakasih. Guntoro tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk membalas semua kebaikan Abah pada Guntoro, keluarga, dan warga kampung semua.”

“Kau tahu, Gun? Rakum benar saat ia bilang aku bukanlah orang baik dua tahun yang lalu. Yang baik adalah kalian yang sudah mau mengingatkanku dengan cara sedemikian rupa. Apa yang aku lakukan selama ini hanya untuk berusaha menghimpun orang-orang baik seperti kalian. Kau pernah dengar seorang bijak yang bilang bahwa kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir? Aku tidak mau kita kalah, Gun. Aku tidak mau negeri kita tak pernah bangkit dari keterpurukannya. Itulah mengapa aku terus bertekad untuk mengorganisir orang-orang baik seperti kalian. Islam datang dengan ajaran ukhuwahnya bukan tanpa alasan, Gun.”

“Umat islam pasti akan kuat kalau mau bersatu kan, bah?”

“Bukan cuma umat Islam, Gun. Tapi semua manusia akan kuat kalau mau bersatu. Dan kita bisa melakukannya mulai dari umat kita sendiri. Dari umat Islam yang harusnya memaknai betul mengenai ukhuwah. Pada saatnya kelak, persatuan ini tentu akan bermanfaat bagi kebangkitan bersama. Dimulai dari kebangkitan kampung kita dari kelaparan dan pada akhirnya kebangkitan bangsa kita dari keterpurukannya selama ini.”

“Aamiin.” Pungkasku yang mengakhiri percakapan hari itu.

Aku meninggalkan rumah Kyai Sanusi dengan perasaan yag tak karuan. Ada rasa haru yang tak bisa dijelaskan. Dan tentunya kekaguman padanya semakin bertambah. Kekaguman yang membuat tekadku untuk mempertahankan ladangku semakin besar. Kekaguman yang membuat tekadku untuk mempertahankan persatuan yang telah beliau awali juga semakin besar.

*Penulis Adalah Aktivis PMII UIN Sunan Kalijaga Jogja.