Opini

Mahasiswa yang Radikal itu Nyata

(Ilustrasi) Mahasiswa Menjadi Sasaran Utama Kelompok Radikal

Ketika negeri ini semakin tersentak oleh adanya pemikiran dan aksi-aksi radikalisme, kita mulai sadar ada apa dengan makin munculnya radikalisme. Bom, teror dan kerusuhan, bukan dilakukan oleh anak-anak bangsa yang santun, pinter, dan berprikemanusiaan. Tapi justru sebaliknya oleh individu-individu dan kelompok yang eksklusivkan dirinya, yang telah terpapar radikalisme.

Indikasi masuknya radikalisme, khusus pada sebagian mahasiswa bisa terlihat dari cara berpikirnya yang senantiasa mengkritik pemerintah tanpa solusi, menyampaikan argumen tanpa data valid dan semua yang dikatakan oleh “guru spiritualnya” selalu ditelan mentah-mentah.

Kita merasa kasihan dengan mahasiswa-mahasiswa yang seperti ini. Maka menjadi kewajiban kita yang mengajar mereka secara langsung agar peduli terhadap kondisi ini. Kita kembalikan cara berpikir mereka, melalui fakta-fakta empiris bahwa memimpikan berdirinya khilafah itu bukan sebuah mimpi baik.

Berapa banyak pemerintahan khilafah masa lalu yang tumbang oleh sebab eksternal dan internal.Artinya apa? Pemerintahan itu bermanfaat dunia akherat bagi warganya jika memberikan kesejahteraan, kenyamanan dan kedamaian. Bukan sebaliknya.

Dua tahun lalu, seorang mahasiswa saya tidak mau mengumpulkan tugas melalui internet, karena alasan itu produk kafir. Dia lupa, kalau dia menggunakan motor dan hp yang nota bene bukan ciptaan seorang ulama. Dengan berat hati saya memberinya nilai tidak lulus, karena tugas-tugas yang saya berikan, tidak pernah di respon sebagaimana rekan-rekannya yang lain.

Contoh lain, saya membuat group perkuliahan Pancasila dan KWN. Ketika saya meminta mereka untuk menjawab apakah mereka pro NKRI atau mendukung gerakan yang ingin menggantikan Pancasila sebagai dasar negara, dari 240 anggota group hanya 78 yang secara tegas menjawab NKRI harga mati. Sisanya tidak menjawab, karena bimbang dan alasan lain. Tiga hari hari saya tunggu jawaban dimaksud, sehingga kalau alasan ketiadaan kuota, saya tidak yakin.

Indikasi lain yang saya dapatkan tentang radikalisme di kalangan mahasiswa yang saya asuh, tercermin dari pertanyaan-pertanyaan mereka tentang “kesalahan pemerintah Jokowi”, seperti adanya kebangkitan PKI, adanya arus masuk tenaga kerja dari Tiongkok yang disebutnya sudah jutaan.

Saat ditanya, dari mana data anda tentang kebangkitan partai komunis di Indonesia serta masuknya tenaga kerja asing tersebut? Secara umum saja mereka bilang dari info teman-teman dan info di medsos.

Sedikit fakta diatas, membuktikan betapa rentannya mahasiswa terpapar oleh informasi hoax dan fitnah yang dianggap benar. Saya katakan kepada mereka, “ketika anda sudah benci pada seseorang atau pemerintah, maka apapun yang dilakukan orang atau pemerintah akan anda anggap salah”. Kenapa demikian? Karena hati dan pikiran anda, tidak mau melihat kebenaran secara obyektif, melainkan kebenaran menurut versi anda belaka.

Saya memperhatikan dan menemukan pula fakta, bahwa secara ekkslusive tertutup, sebagian dari mereka melakukan dialog dan diskusi dengan teman-temannya yang hampir sama usianya. Diantara temannya yang menjadi nara sumber/pembicara, saya yakini sudah lebih dahulu di cuci otaknya oleh “pihak yang menginginkan negara Pancasila ini bubar”.

Alangkah sedihnya kita lihat dan baca di berbagai media, tentang adik-adik mahasiswa yang terpapar oleh radikalisme ini menjadi korban. Ada yang berangkat ke Syria dengan maksud membantu ISIS, meskipun akhirnya disana mereka menemukan fakta, perilaku ISIS tidak seindah yang mereka kira.

Penutup tulisan ini, saya himbau agar sesuai kapasitas kita masing-masing, mari kita selamatkan NKRI dengan menutup dan mengurangi celah berkembangnya radikalisme. Kita tidak boleh biarkan radikalisme yang sedang marak ini semakin berkembang. Selama ini kita sudah hidup tentram di NKRI. Apakah akan kita biarkan negara ini berkeping-keping seperti disebagian negara Arab?

Mari satukan kekuatan dalam bingkai NKRI. Kita mungkin mati besok. Tapi anak keturunan kita jangan sampai mewarisi konflik yang merusak hidup damai mereka. Terima kasih sudah menyimak tulisan ini.

Popular

To Top