Makassar dan Uang Panai’ 

Oleh: Isabellah Nita

Makassar, adalah ibukota provinsi sulawesi selatan yang terletak di indonesia bagian timur. Makassar juga salah satu kota metropolitan yang ada di indonesia. ketika berbicara makassar pasti yang selalu teringat di dalam benak kita dengan salah satu tokohnya “Sultan Hasanuddin” yang mampu mengusir penjajah dari tanah daeng tersebut. Makassar khususnya sulawesi selatan ini juga sangat identik dengan istilah ‘’ Uang Panai’ “. Apa itu uang panai’? uang panai’ semacam mahar sebelum pernikahan yang diberikan oleh mempelai pria kepada mempelai wanita, ini adalah tradisi sejak dulu yang masih di pegang teguh dari suku bugis-makassar, karena di sulawesi selatan strata sosial sangat tinggi, kalau karl marx membagi ada tiga pembagian kelas, yang pertama kaum proletar [buruh], yang kedua kaum menengah dan, yang ketiga kaum borjuis. Ada beberapa kelas atau ada beberapa golongan di tanah bugis-makassar ini.

Kenapa banyak pemuda sulawesi lebih memlih menikah dengan orang yang di anggapnya sesuai dengan norma-norma agama, saya pribadi sangat tidak sepakat ketika uang panai’ menjadi tolak ukur dari sebuah pernikahan karena di dalam agama islam sudah di jelakan bahwa esensi dari sebuah pernikahan adalah ijab qobul. Uang panai di tanah bugis ini sangat mempengaruhi strata sosial yang terjadi di makassar karena mahalnya uang panai sehingga menset yang di bangun para pemuda yang ada di sulawesi selatan ‘’mendingan saya menikah dengan wanita lain dari pada menikah dengan wanita keturunan bugis makassar’’. Ini adalah gejala sosial yang harus di luruskan karena seakan-akan menikah itu menjadi ajang gengsi di tanah sulawesi, karena mengaggap uang panailah yang menjadi bahan pertimbangan ketika mau menikah dan sudah tidak sesuai dengan apa yang di ajarkan oleh agama.

Baca Juga:  Tan Malaka, Tintin dan Pacar Merah: Berebut Pengaruh dalam Fiksi

Saya sangat kecewa kalau gagalnya pernikahan itu karena tidak memiliki uang panai yang besar, saya menganggap itu terlalu matrealis sekali karena semua key nya ada di materi atau uang panai tersebut. ‘uang panai’ pun cerminan dari budaya ‘sirina pacce’ yang menjadi karakter orang bugis-makassar. Cerminan budaya ‘siri na pacce’ seorang mempelai atau keluarga memmpelai laki-laki akan merasa malu apabila tidak bisa menyanggupi permintaan ‘uang panai’ dari keluarga mempelai prempuan. Begitu juga sebaliknya, pihak keluarga prempuan akan merasa malu apabila anak prempuannya dibawakan ‘uang panai’ yang lebih renda dari tetangga-tetangganya. Hal ini tidak lepas dari gensi strata sosial dalam masyarakat. Ini permasalahan yang hanagat di perbincangkan oleh semua kalangan khususnya orang bugis-makassar.

Terlepas dari pro-kontra tentang ‘uang panai’ ini. Bahwa sebagian orang menganggap ini budaya feodal yang sangat memberatkan. Bagaimana tidak kerena sangat tidak realistis, karena pihak keluarga mempelai laki-laki harus menyediakan uang puluhan juta bahkan sampai ratusan juta sebelum menikahkan anaknya dengan prempuan bugis-makassar. Ini disebabkan karena permintaan ‘uang panai’ biasanya tidak tanggung-tanggung untuk meyiapkan uang dengan angka yang cukup besar. bahkan ketika harus menikah dengan keturunan bangsawan, berpendidikan yang tinggi dan mempunyai gelar-gelar tertentu maka semakin mahal pula ‘uang panai’ nya bahkan bisa menyentuh angka ratusan juta.
Disisi lain ada juga yang menganggap bahwa budaya ‘uang panai’ menjadi sumber identitas dari orang bugis-makassar.

Bagaimana bisa memotivasi kaum adam untuk bersungguh-sungguh dalam hal apapun, apalagi mau menikahi prempuan bugis-makassar yang dikenal sangat mahal. Tapi saya tidak sepakat karena sudah relevan lagi untuk dipakai, karena sekarang sudah pergeseran zaman yang semakin kekinian dengan adanya ‘uang panai’ ini walapun ini adalah tradisi lama dari orang bugis-makassar yang masih di lestarikan sampai sekarang. Penyebabnya juga dapat menimbulkan kesenjangan sosial, sepertinya sudah menjadi asumsi bahwa pernikahan di tanah bugis-makassar harus memakai tradisi yang sudah ada sebelum-sebelumnya. bukankah bahwa alasan ‘gensi’ sudah tidak relevan dengan budaya modern, kalau hanya dorongan untuk kaum adam bekerja dengan memilih menikah dengan prempuan bugis-makassar yang relatif sangat mahal, menurut saya lebih baik menikah dengan yang lain saja.

Baca Juga:  Presiden Jokowi Takziah Kepada Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ihya Ulumudin Cilacap

Sungguh amat memprihatinkan. Dari diri sendiri merasa tidak bangga hidup dan berada dalam budaya seperti ini, budaya yang makin meninggalkan nilai ‘kesucian’ pernikahan yang sebenarnya. Mudah-mudahhan saja ini ini tidak menjadi masalah yang larut yang di perdebatkan dan bisa menemukan solusi yang pas dan tepat.