Mampukah Kita Hidup Tanpa Fitnah?

Masa kecil saya (50 tahun lalu), terasa betul damai dan indahnya kehidupan di Indonesia, khususnya disekitar tempat saya tinggal. Apakah sekarang berarti sudah tidak damai dan indah?. Pertanyaan ini akan memberikan jawaban berbeda-beda tergantung dimana kita hidup di Indonesia.

Di daerah-daerah kecil dan remote area, kondisi tersebut masih dirasakan sebagain besar kita. Namun daerah-daerah yang sudah maju berkembang dimana teknologi dan informasi berkembang sangat dahsyat, publik dihadapkan dengan berbagai informasi benar dan palsu. Fitnah seolah menjadi keniscayaan untuk menjadi alat meraih sesuatu, khususnya kekuasaan politik.

Sebagian diantara kita mengggunakan fitnah dan menyebarkannya untuk mempengaruhi benak masyarakat sehingga mempercayainya. Disini bisa dikatakan, fitnah bukan hal yang tabu, bahkan menjadi alat yg efektif untuk meraih tujuan.

Pertanyaan besar kita adalah mengapa melakukan fitnah sebagai hal yang normal? Dimanakah posisi hati nurani kita saat disatu pihak kita berpenampilan alim, namun disi lain fitnah dilakukan terus? Banyak orang pandai dan bijak mengatakan, bahwa jejak dari kemampuan kita dalam melaksakan ajaran agama, bukan pada kenampakan fisik kita yang alim dan religius. Namun lebih terlihat pada perilaku kita yang sholeh, ujaran kita yang mendamaikan dan pemikiran kita yang rahmatan lil alamin.

Penampilan yang terlihat sholeh belaka ternyata tidak menjamin orang itu berperilaku sholeh. Berapa banyak orang-orang yang kelihatannya alim, ternyata tersagkut perkara kejahatan(korupsi, kekerasan dalam rumah tangga, video prno dan sebagainya). Ini menambah bukti, bahwa atribut keagamaan digunakan untuk pencitraan diri dan kelompok. Tetapi kita tahu sendiri, banyak pula orang-orang seperti itu dihinakan oleh Allah SWT melalui terbukanya kepalsuan mereka.

Menjawab judul tulisan ini, sesungguhnya kita mampu untuk hidup menjadi manusia yang baik dan benar, apabila dihati kita tidak ada nafsu serakah, nafsu berlebihan dalam kebutuhan dunia, nafsu dendam, nafsu kekuasaan dan nafsu-nafsu buruk lainnya. Selain dari menghilangkan nafsu-nafsu tersebut, kita bisa hidup tanpa harus memfitnah orang lain, apabila kita memiliki kecerdasan intelektual yang cukup serta kecerdasan spritual yang mumpuni. Ditambah dengan kecerdasan emosional yang bagus, maka kita akan masuk kepada golongan orang-orang yang bermanfaat bagi orang lain.

Baca Juga:  Puasa Ramadhan Sebagai Media Transformasi dan Pembebasan

Melihat berbagai hingar bingar informasi di media sosial yang hoax dan bersifat fitnah, terkadang kita pesimis, akan menjadi apa Indonesia ini nanti. Namun penulis percaya, masih lebih banyak orang baik di Indonesia, yang selama ini cuma diam dan memperhatikan fenomena yang ada. Orang yang banyak ini masih menghindar untuk bersifat konfrontatif demi damainya kehidupan. Tetapi ingatlah, ketika mayoritas yang selama ini diam saja, kehilangan kesabaran lalu mengorganisir diri, apakah para pemfitnah itu siap?

Kita semua, tidak mengharapkan adanya konflik diantara anak bangsa ini. Oleh sebab itu, sangat wajar jika banyak yang berharap agar para elemen bangsa yang yang selama ini membuat masalah segera sadar diri. Lalu apa yang harus dilakukan? Banyak..! Diantaranya jangan biarkan orang-orang yang ingin mengubah negara ini leluasa melakukan berbagai hal jahat. Berikan sanksi yang tepat dan sesuai hukum yang berlaku, apabila nyata-nyata mereka berbuat makar.Pemerintah harus cegah tangkal secara lebih sistematis, berbagai upaya kaderisasi radikalisme.

Segala uraian diatas, memang merupakan konsep teoritis. Namun kita bisa mulai untuk lebih peduli terhadap keselamatan bangsa ini. Kita, harus peduli dan mau melaporkan ke aparat aparat keamanan apabila menemukan atau mungkin mengetahui adanya orang-orang yang terindikasi akan melakukan kejahatan terhadap negeri ini.

Mustahil pemerintah sanggup mengatasi sendirian. Menjadi kewajibanj kita untuk lebih peduli pada bangsa ini. Jika tidak dimulai dari sekarang, maka kita sama artinya membiarkan negara ini runtuh perlahan-lahan. Para pendiri bangsa ini sudah mengorbankan segala hal demi eksisnya negara ini. Maka menjadi tanggung jawab sosial kita pula untuk mengikuti jejak langkah mereka, para pahlawan yang tercatat maupun tidak dikenal. Kata akhir penulis ..Mari selamatkan bangsa besar ini dari ulah para penghianat bangsa yang menyebar dan memproduksi fitnah dan berita palsu, melalui kemampuan kita masing-masing.

Baca Juga:  Menelusuri Medan Pertarungan Aktivis Angkatan 98