Cerpen

Memahami Pelajaran Bu Oka

Oleh: Daruz Armedian*

Pada pagi yang biasa, sebuah papan tulis di depanku ada kalimat yang berbunyi sederhana: bersikaplah adil sejak dalam pikiran. Kalimat itu ditulis oleh jemari lentik milik seseorang yang baru menjadi guru. Kebetulan hari ini, guru itu sedang mengisi di kelasku. Panggil saja, Bu Oka, katanya ketika teman-teman sekelas meminta sebuah perkenalan singkat.
Dua jam ke depan, pelajaran sejarah resmi diampu Bu Oka. Ia menggantikan Pak Saifuddin yang sudah tua dan kebetulan hari ini sedang sakit. Entah akan mengganti dengan sementara atau sampai jam-jam seterusnya. Memang sudah menjadi aturan, meski tidak tertulis, guru baru di sekolah ini mula-mula harus jadi guru pengganti. Atau menjadi bagian Tata Usaha dan penjaga perpustakaan.
Lima menit berlalu dan Bu Oka masih duduk di situ. Duduk di kursi guru sambil membolak-balik lembar-lembar absensi kelas 8 D. Wajahnya serius mengamati deretan nama-nama yang ada di sana. Ia seperti tak menghiraukan suasana kelas yang mulanya gaduh berubah jadi senyap. Berpasang-pasang siswa menatapnya. Menunggu apa yang akan dikerjakan perempuan ini beberapa menit ke depan. Begitu juga aku.
Bu Oka masih melihat-lihat isi absensi. Dan sejenak kemudian menatap kami. Daftar kehadiran sebenarnya tidak penting, tukasnya. Lalu ia berdiri. Berdiri menghadap kami.
“Oke. Kalian tahu, siapa yang membuat kata-kata ini?” tangan Bu Oka menunjuk papan tulis. Matanya melirik kanan kiri. Menatap satu persatu dari kami. Dan kami semua terdiam. Aku belum pernah mendengar kata-kata bijak itu.
“Itu adalah kata-kata Pram. Pramoedya Ananta Toer. Sastrawan yang mendunia dari Indonesia. Kalian belum kenal?”
Kami semua menggelengkan kepala. Jujur, aku baru kali itu mendengar namanya.
Bu Oka menjelaskan panjang lebar mengenai sastrawan yang mendunia itu. Ia pernah ditahan oleh pemerintah. Dipenjara di Jakarta, dibuang ke Nusa Kambangan (aku pernah mendengar nama pulau itu suatu waktu, dan aku merinding membayangkannya). Lalu dibuang ke Pulau Buru (entah tempat mana itu, aku tidak tahu) dan dipekerjakan secara paksa. Mirip kerja rodi atau romusha, atau lebih kejam dari itu. Buku-bukunya banyak yang dimusnahkan karena melawan pemerintah.
“Kalian harus tahu, kalau sebenarnya banyak orang hebat yang namanya ingin dihapuskan dari sejarah.”
Bu Oka kembali menerangkan ini itu. Sejarah-sejarah yang berbeda dengan apa yang ada dalam pelajaran sewajarnya. Asyik sekali.
**
Aku rasa tidak aneh, ketika sekarang teman-teman semua malas untuk meninggalkan pelajaran sejarah, walaupun tidak ada absensi. Karena, seperti yang acapkali dibicarakan mereka, pelajaran sejarah Bu Oka asik sekali meski hampir semua yang diajarkannnya berbeda dengan penjelasan Pak Saifuddin atau guru-guru sejarah lainnya atau tulisan-tulisan yang ada di LKS (Lembar Kerja Siswa). Padahal, sebelumnya, pelajaran sejarah adalah pelajaran yang sangat-sangat membosankan. Membolos adalah kegiatan yang digemari teman-temanku dan tentu saja aku sendiri, meski pada akhirnya nanti mendapat hukuman dari Pak Saifuddin. Disuruh berdiri di depan kelas selama dua jam penuh, atau dipaksa menghafalkan UUD (Aku tidak suka UUD). Tidak berhenti di situ, tidak masuk di mata pelajaran itu selama tiga kali, tidak boleh mengikuti ujian.
Hari itu, Bu Oka datang lebih cantik dri biasanya. Dan apa yang diterangkan mengenai sejarah, lebih menarik dari biasanya. Bu Oka mengatakan kalau Soeharto (Bu Oka tak pernah memanggilnya Pak Harto atau Presiden Soeharto) telah membelokkan sejarah. Memutar film kekejaman PKI yang diulang-ulang setiap tahun kemerdekaan. Kami yang tidak betul-betul tahu apa itu PKI hanya mendengarkan saja. Bu Oka toh tetap asyik cara bertuturnya.
Begitulah, kenapa kami menyukai Bu Oka.

**
Hampir satu semester sudah Bu Oka mengajar sejarah di kelas ini. Hari ini hari terakhir pelajaran sejarah sebelum ujian. Sebelumnya, Bu Oka sudah pernah bilang kalau dalam pelajaran yang diampunya itu tidak perlu ujian. Katanya, ujian tidak penting, apalagi kalau orientasinya cuma nilai. Yang penting paham, atau minimal tahu. Tetapi karena sekolah mewajibkan seluruh mata pelajaran harus ada ujian, maka pelajaran sejarah tetap ada ujian. Mengenai ini, aku dan teman-temanku tidak peduli, karena Bu Oka menjanjikan sebuah nilai di atas 90 bagi setiap siswa.
Sepuluh menit waktu pelajaran sejarah berlalu dan Bu Oka belum datang. Tidak seperti biasanya. Aku tahu, Bu Oka lebih rajin dari kami. Ia datang di kelas sangat pagi, sejak pintu gerbang sekolah dibuka oleh satpam. (Bahkan Si Satpam kenal dekat dengan dia).
Sampai di sini, aku mengakui, pelajaran Bu Oka itu candu. Aku gelisah. Teman-temanku juga. Akhirnya, salah satu dari kami mempunyai inisiatif untuk berdiskusi tentang sejarah. Sebagaimana yang diajarkan Bu Oka, diskusi itu sangat penting. Mereka menunjukku sebagai pemimpin diskusi. Tetapi, belum sempat aku maju ke depan, Bu Oka datang tergopoh-gopoh. Ia mengatakan kalau saat ini tidak bisa mengajar. Akan ada rapat dengan kepala sekolah.
Kami sedih. Tetapi menanggapi kesedihan itu, Bu Oka, berjanji akan kembali mengajar lagi kalau kami naik kelas 9. Sekarang, katanya lagi, kelas diisi dengan diskusi. Dan hari inilah, pertamakali diadakannya diskusi sejarah. Di masa Pak Saefuddin tidak pernah dilakukan hal semacam ini. Mengajarnya lebih mirip seminar. Murid-murid adalah budak dan ia adalah tuannya.
Dua pun bulan berlalu. Namun Bu Oka tidak pernah lagi mengajar di kelas kami. Dan ia sendiri tidak pernah memberi tahu kenapa tidak mengajar lagi. Akhirnya, pelajaran sejarah diampu oleh guru baru. Anak seorang guru di sekolahan ini yang baru pulang dari Mesir. Pak Rokib, begitu ia menyuruh kami memanggilnya.
Sama seperti guru sejarah sebelum Bu Oka, Pak Rokib mengajari kami sejarah yang semestinya. Sesuai dengan yang ada di LKS. Bahwa penculikan terhadap jendral memang terjadi. Yang berperan penting memerdekakan negara ini adalah para tentara, kiyai, dan santri-santri. PKI memang mau membubarkan Indonesia dan menghianati Pancasila. PKI memang jahat dan wajib ditumpas. Ia juga mengingatkan kami agar mengisi semua soal-soal yang ada di LKS. Karena ujian nanti—ujian yang masih jauh karena baru saja berganti kelas—soal-soal ujian tidak lepas dari buku tipis itu.
Ketika salah satu dari kami tidak setuju dengan apa yang diajarkannya, Pak Rokib marah-marah sambil mengatakan, makanya belajar. Sekolah itu belajar, bukan terus-terusan tidur. Bukan terus-terusan bermalasan. Padahal kami tidak sering tidur dan padahal kami tidak malas kalau si guru cara ngajarnya enak.
Maka begitulah, kami sangat merindukan Bu Oka. Merindukan bagaimana ia bercerita tentang sejarah yang belum kami ketahui, membebaskan kami bertanya, berdebat, dan tentu saja berpikir. Suatu hari aku memberanikan diri bertanya pada kepala sekolah, kenapa Bu Oka tidak mengajar lagi. Dengan tegas ia menjawab, Bu Oka tidak cocok kalau mengajar kalian.
“Kenapa?” kata Pak Kepala Sekolah sambil melotot (aku heran, kenapa sampai memelototkan matanya sebegitu rupa).
Aku tak berani bicara. Dan aku tak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi, pada Bu Oka, dan pada apa yang diajarkan Bu Oka. Sama halnya pelajaran sekolah, sistem di sekolahan juga rumit kupahami.

*Mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga. Lahir di Tuban dan merantau ke Yogyakarta. Aktif di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta

Popular

To Top