Memaknai Agama Bersama Filosof dan Al Qur’an

1172
Memaknai Agama Bersama Filosof dan Al Qur’an

Oleh M. Hasyim Romadani

Pengaruh agama dari masa ke masa tidak pernah surut, entah itu berakibat positif atau pun negatif. Ibarat mata air, persoalan keagamaan tidak pernah selesai dan mengalir pada segala aspek kehidupan. Posisi ini yang kemudian membuat agama rentan untuk disalahgunakan dan disalahpahami. Melihat dari kondisi ini, tidak heran bila agama kerap kali dituding sebagai sebab munculnya banyak masalah. Selain dampak dari masalah perdebatan internal kelompok agama tertentu, dan perseteruan panjang antar agama satu dan yang lain, keterlibatan pihak yang tidak bertanggung jawab (menjadikan agama sebagai alat untuk mensukseskan kepentingan pribadi) semakin memperburuk persepsi orang banyak terhadap agama.

Seolah mendukung statmen di atas, beberapa fakta sejarah dapat dengan mudah ditemukan. Ambilah contoh klaim kebenaran antar aliran dalam kalangan umat Islam. Pemberontakan terhadap Dewan Geraja oleh tokoh Humanisme di abad pertengahan. Hingga Perang Salib yang melibatkan pihak kristiani dan muslim. Tentunya bukan sekedar opini sebagian orang untuk mendiskreditkan posisi agama. Di era modern ini pun, kita masih bisa menemui hal yang sama. Mulai dari aksi teror Al-Qaedah di Amerika, keganasan kaum Budha terhadap masyarakat muslim Rohingnya di Myanmar, hingga perseteruan antara Israel dan Palestina. Lalu, apakah agama memang sumber masalahnya?
Agama, dalam perkembangan studi filsafat, merupakan salah satu objek kajian yang marak dibicarakan. Oleh karena itu, filosof dalam hal ini dirasa penting untuk didengar pendapatnya. Dengan putusan yang lebih logis dan realistis. Pendapat mereka tentunya akan mengantarkan kita pada pemahaman yang lebih bijak mengenai agama. Selain filosof, kita juga perlu melihat kembali kepada penjelasan yang terdapat pada kitab suci salah satu agama. Dalam hal ini penulis memilih Al-Quran sebagai sumber primer ajaran Islam. Mengingat pendapat publik yang kerap kali menuding Islam sebagai agama yang keras dan rentan menimbulkan konflik. Oleh karena itu, penting dibahas perihal apa makna agama dari keduanya.

Baca Juga:  Madilog Dalam Sepak Bola

Jika ditelisik dari sejarah, salah satu awal lahirnya agama adalah ketika manusia sudah mulai sadar akan keterbatasan yang dimilikinya. Termasuk dalam hal ini yakni karakter dan ego manusia yang terkadang mengarah pada kerugian pribadi maupun pihak lain. Keterbatasan ini kemudian membuat manusia berkeinginan membenahi diri dengan mencari sandaran atas semua masalahnya. Sejalan dengan pendapat ini, Immanuel Kant –dari penjelasan yang diberikan oleh Fakhrudin Faiz– mengatakan bahwa “manusia tidaklah sempurna sehingga membutuhkan aturan”. Maka dipilihlah sosok yang paling tepat untuk menjawab segala persoalan ini yang kemudian kita kenal dengan sebutan Tuhan. Sebagai awal terbentuknya suatu agama.

Berhubungan dengan penjelasan di atas, Schleirmacher berpendapat tentang apa itu definisi agama. Menurut filosof berkebangsaan German ini, “Agama adalah perasaan ketergantungan makhluk kepada Tuhan”. Dengan menyadari betul kekurangan pada dirinya, cukuplah menjadi alasan bagi manusia untuk bergantung pada otoritas tertinggi menurutnya, dalam hal ini adalah Tuhan. Alquran pun menjelaskan terkait hal ini dalam surat Al Ikhlas ayat 2 yang berbunyi Allahush-shomad dengan arti “Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu”. Meski dengan bahasa yang berbeda (Tuhan menjadi Allah) pengakuan ini juga terdapat dalam ajaran Islam.

Dilanjutkan oleh salah satu filosof beraliran liberalisme, Bewkes mengartikan agama secara lebih komplek, dengan mengatakan bahwa “agama adalah sesuatu yang memberi penguatan atas kelemahan, mengisi kefustrasian, dan melengkapi ketidaksempurnaan”. Pada tingkat ini agama mendapat tempat istimewa bagi pemeluknya. Persepsi ini tentu berangkat dari ajaran positif yang terdapat dalam agama, termasuk dalam hal ini adalah moralitas. Maka secara sederhana agama membantu manusia untuk menuntun hidupnya menjadi lebih baik melalui nilai-nilai positif yang diajarkan pada penganutnya.

Baca Juga:  Sumpah Pemuda; itu Persatuan dan Kebhinnekaan

Agama sangatlah kental dengan nila-nilai moral. Ini dikuatkan dengan komentar salah satu filsuf beraliran idealisme absolut yang bernama Royce. Sebagaimana dikutip oleh Milton D. Hunnex dalam bukunya yang berjudul Peta Filsafat Pendekatan Kronologis dan Tematis, Royce mengatakan bahwa “agama adalah kesetiaan kepada hukum moral yang diperkuat oleh keyakinan tentang sifat sesuatu ”. Contohnya dapat ditemui dengan sepakatnya semua agama akan buruknya tindakan mencuri dan pemerkosaan, serta hal lain yang bertentangan dengan prinsip moral. Jadi, tidak mungkin agama akan mengarahkan para pemeluknya pada hal yang buruk (sebagaimana pembacaan parsial sebagian orang). Lebih-lebih pada perseteruan yang berkepanjangan.

Nilai-nilai moral kemudian dapat juga ditemukan penjelasan dalam Alquran, di antaranya dalam Al-Qashas ayat 77 artinya “berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu”. Al-Ahzab ayat 70 artinya “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar”. An-Nahl ayat 90 artinya “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”. Dari penjelasan ini jelas bahwa anggapan agama adalah penyebab masalah tidaklah tepat.

Dengan berbagai penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa agama bukanlah sebab murni berbagai masalah keagamaan yang telah disebutkan di awal. persoalan ini sebenarnya terjadi disebabkan oleh perbedaan dalam memahami ajaran agama. Sebab pada dasarnya agama lahir dan berkembang dengan membawa nilai-nilai moral. Atau meminjam ‘kacamata’ M. Amin Abdullah, persoalan keagamaan tersebut terjadi di tataran historis bukan pada tataran normatif. Dalam tataran normatif, di atas sudah jelas bahwa agama sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. berbeda dengan pemahaman historis terhadap agama yang bisa jadi terselip aspek-aspek lain, seperti kepentingan ideologi, politik, bahkan ekonomi yang mengatas namakan agama.

Baca Juga:  Pilkada 2018 Masih Bukan Pesta Demokrasi

Mahasiswa Filsafat angkatan 2017, UIN Sunan Kalijaga.