Resensi

Mencapai Indonesia Merdeka

serikatnews.com

Judul Buku : MENCAPAI INDONESIA MERDEKA

Pengarang Buku : Ir. Soekarno

Penerbit Buku : SEGA ARSY

Kota Terbit : Bandung

Tahun Terbit : 2015

Tebal Buku : 152 halaman

Sinopsis MENCAPAI INDONESIA MERDEKA

Buku ini memang dirancang untuk mengingatkan kembali tentang perjuangan rakayat indonesia dalam merebut kemerdekaan. Dalam merebut kemerdekaan pun bukan perkara mudah, rakyat indonesia harus melalui berbagai ujian yang sangat besar dan anarkis. Mulai dari kekejaman yang dilakukan oleh belanda, yang terkenal culturstelsel (tanam paksa), jepang dengan romusha (kerja rodi) dan portugis dengan monopoli perdagangan rempah rempah.

Buku ini juga menjadi pengingat untuk rakyat indonesia yang hingga saat ini masih belum mencapai kemerdekaan yang haqiqi. Dalam mencapai kemerdekaan yang hakiki disini adalah dengan konsep politik yang sering di dengungkan oleh soekarno yakni politik sefl help and non cooperation/berdiri di kaki sendiri (berdikari). Disini peresensi perlu menuliskan bagaimana konsep politik self help and non cooperation terbentuk.

Berawal dari penolakan tesis “Profesor Veth”: Indonesia tidak pernah merdeka, dari zaman Hindu sampai Belanda. Tetapi sebaliknya, kerajaan Hindu itulah yang menjadi penguasa negara Indonesia dan dijajah oleh Belanda.

Ketika itu negeri Indonesia merdeka, melainkan penduduk lah yang menjadi pengasah pisau penjajah yang memanfaatkan kaum jelata untuk memuluskan Vroeg Kapitalisme Eropa di Benua Asia.

Demi memuluskan Vroeg Kapitalisme, penjajah mengapilakasikannya dengan cara merubah paham Feodalisme kuno ke Feodalisme baru. Dengan kata lain, memporak-porandakan kerajaan dari dalam.

Setelah memporak-porandakan kerajaan, penjajah melaksanakan kegiatannya dengan cara kekerasan dan kekejaman yakni tanam paksa dan kemudian beralih semakin berat lagi dengan kebijakan pajak berupa hasil bumi yakni cengkeh, pala dan hak monopoli beli hasil bumi yang sangat memberatkan rakyat.

Tetapi, dikala kapitalisme modern ini menghasilkan surplus kapitalisme, maka dirubahlah sistemnya menjadi persaingan bebas yang otomatis membuka gerbang-gerbang inverstor untuk menanamkan modal di Indonesia, yang sampai saat ini masih berjalan yakni Freeport.

Penduduk Indonesia dikala itu sangatlah sengsara, dengan pendapatan hanya 8 sen. Tetapi, itu tidak menutup kemungkinan bahwasannya tanah air ini adalah tanah yang kaya akan sumber-sumber penghidupan bagi penduduk jelata yang sengsara dan tidak akan pernah bisa dirasakan kesejahteraanya oleh penjajah. Maka tak heran meskipun dijajah, penduduk Indonesia tidak akan pernah sengsara sebab tanah Indonesia tanah yang kaya raya.

Setelah berangsur-angsur lama penjajah mencekoki pikiran dan tenaga penduduk Indonesia, lama kelamaan akal sehat dan tenaga kaum Marhaen ini mulai menemukan jati dirinya kembali. Lewat pergerakan Fajar Menyingsing penduduk Indonesia bangkit kembali.

Pergerakan Fajar Menyingsing ini dimaksudkan untuk mencapai perubahan yang signifikan. Bukan dengan jalan Bojuis, Ningrat, Radikal pun juga bukan Marhaen Reformistis. Tetapi, dengan jalan (partai) Marhaen yang radikal yang tahu saat menjatuhkan pukulan-pukulannya (timing).

Partai ini nantinya mempunyai visi dan misi jikalau Indonesia ingin merdeka dengan cara : harus merdeka dari himpitan imperialisme dan kapitalisme dengan cara memutus stelsel-stelselnya, menggugurkan stelsel dan bebas dari stelsel imperialisme dan kapitalisme dan dengan itu akan tercapainya jembatan emas kemerdekaan.

Dengan adanya kedudukan imperialisme dan feodalisme yang menjadi acuan bagi kaum imperialisme dalam mempertahankan kedudukannya. Hanya ada satu kata yakni lawan/pertentangan dengan kekuatan sendiri, pemikiran sendiri, dan tenaga sendiri dalam bahasa politiknya percaya pada kekuatan sendiri (politik self-help and non cooperation) dan bahasa Soekarno berdikari (berdiri di kaki sendiri).

Dalam pelaksanaan politik self-help and non-cooperation, yakni dengan cara Radikalisme untuk menundukkan Imperialisme.

Setelah menundukkan Imperialisme

Setelah menundukkan imperialisme kemudian disisi lain timbul permasalahan baru yakni siapa yang akan memimpin Indonesia kedepan. Pemimpin yang menjadi kriterianya adalah Egalitarian dari kaum Marhaen, supaya tidak adalagi Nasionalisme-Keningratan dan Nasionalisme-Keborjuisan. Yang nantinya hanya akan menjerumuskan marhaen ke dalam lembah politik belaka. Sedangkan Marhaen mengajukan demokrasi berdasarkan gotong-royong dalam bentuk sosio-demokrasi dan sosio-Nasionalisme. Yang nantinya tidak akan adalagi kapitalisme dan keborjuisan.

Dan dengan itu semua, maka akan terwujudlah cita-cita Marhaen yakni Indonesia merdeka.

Dari situlah yang melatar belakangi mengapa konsep politik self help and non cooperation terbentuk dan menjadikan kekuatan senjata bagi bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan. Dan menjadikan konsep itu sebagai semboyan atau pondasi yang istimewa yang tidak akan pernah dimiliki oleh bangsa manapun.

Peresensi disini juga akan memberikan pengetahuan politik self-help yang terdapat pada negara-negara lain diantaranya india dan irlandia, dimaksudkan untuk memperkaya wawasan pembaca.

Di India self-help yang digunakan adalah Swadeshi yang di pelopori oleh Mahatma Gandhi. Swadeshi disini memiliki arti sebagai suatu boikot tidak mau membeli barang buatan inggris dan sebagai strategi perjuangan yang menyerang untuk kemerdekaan India. Karena pada zaman itu india adalah jajahan Inggris yang di pelopori Albion (perdana mentri Inggris) dengan konsep imperialismenya adalah Mechanisme dan Industrialisme.

Di Irlandia self-help yang digunakan adalah politik sinn fien yang dipelopori oleh Arthur Griffith. Sinn fien disini memiliki arti melupakan bangsa inggris, bekerjalah seakan-akan tiadak ada bangsa inggris di dunia, percayalah dengan pada diri sendiri (Irlandia). Yang dimaksudkan untuk memisahkan diri dari inggris dan menuntut kemeredekaan dari inggris. Karena inggris dan irlandia sebenarnya adalah satu wilayah, tetapi karena anggota Irlandia yang ada di parlemen Inggris itu sedikit maka kaum mereka selalu tertindah oleh Inggris.

Kelebihan Buku

Dapat menjadi refleksi bagi rakyat Indonesia di zaman sekarang untuk lebih menghargai setiap perjuangan-perjuangan yang dilakukan oleh pahlawan Indonesia dan mengingatkan kembali untuk mempertahankan kemerdekaan dan mengisi kemerdeaan itu sendiri.

Mahasiswa HTN UIN Sunan Kalijaga Jogja.

Popular

To Top