Resensi

Mendepankan Generasi Milenial terhadap Ketuhanan Beragama

Sumber: kedaiboekoe

Judul : Masa Depan Tuhan
Penulis: Karen Armstrong
Penerbit : Mizan
Cetakan: Cetakan I, 2013
Tebal : 608 Halaman

Buku ini mencoba menantang dan menjawab para ateisme yang beranggapan tuhan tidak ada ataupun mereka yang beranggapan bahwa tuhan telah mati. Dalam buku ini dijelaskan terkait tuhan yang transenden yaitu yang berbeda dari makhluk-Nya. Juga tuhan dapat didapat lewat pencarian. Bisa lewat nalar seperti yang didapati oleh Aristoteles, Galileo Galilei, Rene Decartes. Ada juga yang mendapatinya dari kondisi kontemplasi dengan diam seperti pada hindu dan Sidharta Gautama. Juga tentunya dengan Iman dari dalam hati. Kepercayaan dengan keyakinan teguh akan adanya sosok yang transenden tadi.

Buku yang dikajinya wajar jika sangat kompleks dan beragam penafsiran yang membingungkan. Namun dalam perkembangan zaman yang ditandai dengan kemajian sains dan teknologi, manusia mulai menemukan sedikit demi sedikit rahasia dibalik misteri-misteri yang dulunya dianggap hanya sekadar mitos dan rahasia kebesaran tuhan. Tuhan yang dulunya sebagai alasan utama kenapa semua keajaiban ini terjadi, tergantikan oleh fenomena alam yang serba rasional dan empiris bahwa keajaiban ini terjadi, tergantikan oleh fenomena alam yang serba rasional dan empiri bahwa keajaiban ini ternyata memiliki cara kerjanya sendiri dan tak ada tuhan dibalik itu semua. Dan sekali lagi kita harus menerima kenyataan, bahwa Tuhan masih jauh untuk digapai.

Menjelang akhir milenium kedua kita melihat dengan jelas bahwa dunia yang kita kenal sedang sekarat, kehancuran dimana-mana, mulai dari perang, wabah penyakit, jumlah penduduk yang membludak, krisis ekonomi, moral, dan masih banyak lagi kekacauan-kekacauan yang mengantarkan kita terhadap kehancuran. Generasi-generasi sebelum kita telah merasakan bahwa akhir dunia sudah dekat. Gagasan tentang tuhan juga telah terhimpit oleh masa depan yang tak terbayangkan, kemajuan sains mengakibatkan sebuah kepercayaan dianggap sebagai karunia intelektual yang murni, hingga berujung pada pandangan yang menganggap bahwa ateisme adalah kondisi kemanusiaan yang tidak dapat dihapuskan pada era ilmiah.

Kaum positif percaya bahwa keyakinan keagamaan merupakan ketidak dewasaan yang akan dituntaskan oleh sains. Namun perlu kita ketahui bahwa sains hanya bisa menjelaskan alam fisikal. Sains menjauhkan antara dimensi alam dan manusia. Fakta-fakta objektif sains tidak bisa memahami pengalaman manusiawi yang tidak terpilah secara tajam, seperti puisi atau musik, terlebuh lagi logika dan pendekatan ilmiah, yang hanya mengandalkan paham empirisme-positivisme, tidak akan pernah mampu memotret dan menganalisis misteri kehidupan, keberagaman dan kebertuhanan, namun tetap saja penolakan terhadap tuhan yang dianggap telah membelenggu kemerdekaan manusia mewarnai masa modern ini sangat beragam.

Kebanyakan tuhan yang ditolak oleh orang-orang ateis adalah tuhan yang bersifat personal, tuhan seperti ini dapat menimbulkan masalah besar. Dia bisa menjadi sekadar berhala yang terkurung dalam citra kita sendiri, proyeksi dari kebutuhan, ketakutan, dan keinginan kita yang terbatas. Kita bisa mengasumsikan bahwa dia menyukai apa yang kita sukai dan membenci apa yang kita benci, memperkuat prasangkat kita daripada mendorong kita untuk melepaskannya.

Tuhan seperti ini sengaja diciptakan kaum fundamentalis untuk membentengi diri dari banyak serangan keimanan yang dilakukan orang-orang ateis, dan juga mempertegas klaim kebenarannya atas agamanya yang mendapat banyak reduksi dari agama-agama lain yang memiliki pemahaman berbeda mengenai Tuhan dan Surga dijanjikan.

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Dr Soetomo Surabaya. Pernah meraih anugerah “Resensi / Kritik Karya Terpuji” pada Pena Awards FLP Sedunia. Saat ini menjabat di Devisi Kaderisasi FLP Surabaya dan Anggota UKKI Unitomo.

Popular

To Top