Mengapa harus #KamiJokowi?

481

Ninok Leksono, jurnalis senior Kompas sekaligus rektor Universitas Multimedia Nusantara tiga kali mengucap maaf. Pertama sebelum ia memulai paparannya, kedua setelah yang pertama, dan ketiga setelah ia membuka paparannya dengan menyanyikan lagu berjudul YII karya Ismail Marzuki tahun 1950, yang bekisah tentang pemimpin yang hendaknya menempuh jalan suci dan tak hanya cari kursi. “Demokrasi memerlukan kritik agar segalanya berjalan seimbang, anda tak perlu mengucap maaf lagi, Pak,” kata saya menimpali permintaan maafnya.

Ruangan diskusi hari itu dominan dengan dengan corak berwarna merah dan putih, lantaran dresscode tamu yang hadir sudah ditetapkan panitia. Beberapa perempuan nampak anggun dengan kebaya kartini berwarna putih yang dipadukan dengan kain batik. “Dihadapan sahabat-sahabat para simpatisan dan loyalis Jokowi, saya berdiri sebagai seorang mantan wartawan yang tetap harus kritis,” ungkap Ninok yang memilih mengenakan kemeja batik bernuansa hijau sebagai tanda netralitasnya, dalam peluncuran buku #KamiJokowi, buku antologi yang ditulis oleh 18 penulis.

Buku ini bertuliskan pandangan personal penulis terhadap sosok Jokowi, mulai dari kebijakan politik, sosial, ekonomi, budaya, juga termasuk sisi humanis Jokowi sebagai manusia biasa. Menariknya, latar belakang penulis yang berbeda-beda, mulai dari wartawan, sejarawan, dokter, dosen, digital influencer, dan lain sebagainya, membuat buku ini kaya sudut pandang. Sekilas tampak, judul buku #KamiJokowi menggiring saya—yang menerima tawaran menjadi moderator bedah buku—menuding bahwa buku ini adalah buku propaganda yang isinya glorifikasi pada sosok Jokowi. Benarkah demikian?

Sekilas Jokonomics dan Revolusi Mental

Ninok membuka kritiknya dengan menagih janji dan komitmen Jokowi tentang pertumbuhan ekonomi sebesar 5,1%, yang dirasa masihlah jauh dari target 7% yang dicanangkan sejak awal pemerintahan. Shifting consumption dari konvensional ke digital yang disebut sebagai penyebab banyaknya gerai-gerai pertokoan yang tutup—diikuti dengan tingginya angka pengangguran, tidak otomatis membuat mereka yang terkena PHK segera mendapatkan pekerjaan baru di bidang tekhnologi digital sector. Penyesuaian cukup sulit dilakukan mengingat latar belakang pendidikan yang kurang sesuai dengan kebutuhan industri hari-hari ini.

Baca Juga:  Mengurai Benang Kusut Kebangsaan Kita

Hal ini diamini oleh Tsamara Amany, politisi muda dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang turut membedah buku #kamijokowi. Menurutnya kurikulum pendidikan yang ada tidak lagi mengakomodir kebutuhan anak muda sesuai tuntutan zaman. Model pembelajaran yang banyak menggunakan multiple choice tak mengasah critical thinking siswa, untuk itulah anak muda sekarang sulit bersaing secara global di bidang yang baru dan tak mudah beradaptasi. Untuk itu ia mempertanyakan kinerja mentri pendidikan kabinet kerja atas kurikulum pendidikan yang tidak ‘kekinian’, termasuk juga mentri pendidikan yang sebelumnya.

Menanggapi hal ini, Aji ‘Chen’ Bromokusumo, kolumnis kompas.com yang menyumbang tulisan berjudul ‘Jokowinomics’ memaparkan kembali tulisannya bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tidaklah berdiri sendiri melainkan mendapat pengaruh dari pergerakan ekonomi global.  “Ekonomi dunia bergeser secara masif,” tulisnya. Aji membeberkan data Alibaba yang dalam waktu 24 jam pernah mencapai angka penjualan Rp 342 triliun, sementara JD.com mencatat pernah mencapai angka Rp 1,48 miliar penjualan. Ini angka gila yang tidak pernah dicapai oleh toko fisik di belahan dunia manapun. Tren ini tentu mempengaruhi Indonesia, namun sayang kita belum bisa mengetahui besaran nilai transaksi dan seberapa besar pengaruh e-commerse terhadap PDB nasional karena hal ini masih dalam pengkajian Bank Indonesia dan lembaga terkait.

Di sisi lain, orientasi pengembangan fisik dianggap mengabaikan kondisi sosial masyarakat. Sepanjang 2014 hingga 2018, pembangunan infrastruktur yang menggebu mengesampingkan pentingnya peningkatan kualitas SDM. Berkaitan dengan hal ini, pencanangan ‘Revolusi Mental’ dianggap masih sebatas jargon kampanye belaka, tak sedikitpun menyetuh akar rumput secara fundamental.

Baca Juga: Mesra ala Pasutri Milenial

Didi Kwartanada, sejarawan yang turut menyumbangkan tulisan tentang revolusi mental membenarkan hal ini. Ia memulai catatannya dengan membuka ulang program revolusi mental yang digagas Presiden Soekarno, diadopsi Malaysia, hingga dipakai kembali Presiden Jokowi. Didi juga turut mempertanyakan senyapnya ‘revolusi mental’ dari pemberitaan media hingga mendekati habisnya periode pertama Presiden Jokowi.

Baca Juga:  Brainwash

Menurut Didi, meskipun Presiden memiliki komitmen yang kuat terhadap perombakan mental manusia Indonesia namun kenyataannya Kementrian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) belum mampu menyiapkan terobosan program yang menghentak. Peluncuran dan pengelolaan situs revolusimental.go.id –pun dirasa telambat satu tahun sejak dilantiknya Puan Maharani sebagai mentri PMK.

#KamiNonJokowi Perlu Membacanya

Yang menarik lainnya dalam buku ini adalah tulisan Ignatius Haryanto. Mantan Direktur LSPP dan dosen UNM ini dengan rinci membeberkan fitnah-fitnah keji yang diulang-ulang terhadap Jokowi, sekaligus menangkalnya dengan fakta-fakta logis dan rinci.  Membaca logika dangkal lawan politik ‘Pakde’, panggilan sayang rakyat Indonesia untuk Presiden Jokowi, membuat kita tersenyum simpul betapa literasi media masyarakat kita masih sangatlah rendah. Kita betul-betul butuh revolusi mental. Pada tulisan kedua, Haryanto juga menulis mengapa sosok kurus dan ndeso ini bisa menjadi magnet media-media asing dalam headline mereka.

Hujan rintik di Jumat sore biasanya menjadi ketakutan tersendiri bagi warga Jakarta, karena terbayang jalanan macet dan genangan dimana-mana. Namun hal ini menjadi berkah bagi acara bedah buku ini, lantaran peserta nampak menikmati diskusi lebih lama. Panasnya topik yang dibahas membuat tudingan saya terhadap buku #KamiJokowi menemukan jawaban. Tak hanya tulisan-tulisan bernada positif namun tetap obyektif , baik panelis maupun penulis ternyata tidak lupa menyelipkan kritik terhadap Presiden.

Buku ini cukup menyegarkan dalam atmosfir politik 2019 yang mulai memanas. Memandang Jokowi dari berbagai sisi persoalan, editor Threes Emir dan Rizal Badudu mampu menyuguhkan pembaca dalam bahasa yang ringan dan renyah. #KamiJokowi penting untuk dibaca para pendukung maupun lawan politik Jokowi, bahkan oleh Jokowi sendiri.

Video Journalistic and Communication Enthusiast. Former News Presenter, part time freelancer and full time Millennial Mom.