Menggali Sejarah Desa

520

Akhir-akhir ini banyak bermunculan gerakan pemberdayaan desa. Kebanyakan, gerakan-gerakan tersebut dimotori oleh pemuda. Tampaknya kesadaran pemuda akan pentingnya memberdayakan desa, yang sesungguhnya memiliki banyak potensi, mulai meningkat dan menyebar ke berbagai daerah di Indonesia. Tentunya ini adalah hal yang menggembirakan.

Bentuk gerakan yang berorentasi dari desa untuk desa bermacam-macam. Ada yang fokus di bidang pendidikan dan ketrampilan. Gerakan ini berupaya memberikan pendidikan kepada mereka yang tak mampu melanjutkan sekolah dan member bekal ketrampilan tambahan, yang nantinya bisa menjadi modal membuat sebuah produk yang laku dijual.  Ada pula gerakan yang lebih fokus kepada pendampngan petani-petani di desa. Gerakan macam ke dua ini, mengorganisir petani-petani desa, bahu-membahu mencapai kesejahteraan bersama.

Selain dua contoh di atas, masih banyak lagi macam gerakan pemberdayaan desa yang digawangi para pemuda, seperti gerakan bank sampah desa yang bertujuan meningkatkan kebersihan sekaligus mengelola sampah, supaya bisa dimanfaatkan. Atau seperti gerakan yang mencoba menggali potensi desa, seperti memproduksi kopi khas desa tertentu, atau membuat desa pariwisata.

Kosongnya Sejarah Desa

Sejauh penulusuran penulis, gerakan pemberdayaan desa yang tumbuh di berbagai daerah belum ada yang berkonsentrasi menggali sejarah desa itu sendiri. Menurut penulis, selain pemberdayaan ekonomi, sumber daya alam, dan pendidikan, sejarah desa tentu juga harus digali dan dipelajari, supaya kita mengenal identitas kita secara lebih dalam.

Abid al-Jabiri, filsuf asal  Maroko mengatakan, sayogyanya kemajuan bangsa itu harus berpijak kepada tradisi/sejarahnya. Kalau kita telusuri dan amati, bangsa-bangsa maju, adalah mereka yang mengenal sejarahnya. Misalnya, kemajuan Barat sekarang sebenarnya juga dimulai dari kesadaran mereka menggali sejarah nenek moyangnya: peradaban Yunani.

Pentingnya mengenal sejarah sebenarnya juga tercermin dalam semboyan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti berbeda-beda tapi satu jua. Kalimat ini, menurut beberapa sumber, diadopsi dari syair karya Mpu Tantular, seorang sastrawan yang hidup pada abad 14 di Majapahit.

Baca Juga:  EVER & FOREVER Sang Prajurit yang Anti Culas anti Korupsi

Menggali Sejarah Desa

Penggalian sejarah desa bisa terealisasi, jika mau diupayakan bersama-sama. Sekarang, sudah banyak pemuda-pemuda desa yang telah bergelar sarjana. Mereka bisa memotori gerakan penggalian sejarah desa bersama masyarakat di desa. Penggalian sejarah desa bisa ditempuh melalui observasi lapangan, dan juga wawancara para sesepuh yang masih hidup.

Diharapkan dengan tergalinya sejarah desa, nantinya pemberdayaan desa ataupun pembangunan desa tidak menabrak tradisi baik yang sudah ada, karena butanya para generasi baru tentang sejarah desanya. Banyak tradisi-tradisi di desa, baik itu tentang kerukunan dan keharmonisan masyarakat atau yang lain, yang kadang tidak bisa dilihat dari kacamata modern.

Seperti tradisi menanam padi pada waktu tertentu, atau menebang pohon guna membangun rumah tidak boleh pada musim ini, dan harus pada musim ini, kadang tidak bisa dicerna oleh sudut pandang modern yang serba “positivistik”. Padahal kalau dikaji secara mendalam, masyarakat dahulu telah melakukan riset yang sangat pelik, hanya saja tidak terdokumnetasi secara apik. Nah, gerakan penggalian sejarah desa ini diantara tujuannya adalah mengetahui hal-hal semacam itu.

Sejarah Desa Masuk Kurikulum Sekolah

Walaupun berbagai gerakan pemberdayaan  desa banyak bermunculan seperti dijelaskan di awal tulisan,  namun belum merata. Bahkan mungkin dari beberapa pemuda yang punya kesempatan belajar sampai tingkat universitas,  setelah lulus belum banyak yang minat kembali ke desa,  dan menjadi sarjana untuk desa.

Saat masih menjadi mahasiswa, penulis pernah menanyakan kepada Pengasuh Sekolah Qoryah Toyyibah, Ahmad Bahruddin, aktifis yang istiqomah memberdayakan desa, terkait minimnya minat pemuda-pemuda desa yang memiliki kesempatan meneruskan pendidikan di universitas kembali ke desa. Menurutnya, salah satu penyebabnya tidak adanya pelajaran tentang desa secara khusus di kurikulum sekolah. (Majalah Idea Edisi 38, Sarjana untuk Desa: 2015)

Baca Juga:  Saatnya Perempuan Memilih

Jawaban Ahmad Bahruddin tersebut, menurut penulis sangat masuk akal, Sebagaimana kata pepatah, “Tak kenal maka tak sayang”. Bagaimana mungkin akan tergerak kembali ke desa, jika tidak mengetahui desanya, jika pun tergerak kembali ke desa, juga kebingungan akan berbuat apa, karena tidak mengenal desanya. Oleh karena itu, perlu untuk memperkenalkan desa (sejarah dan segala potensinya) kepada generasi-genarasi selanjutnya, sejak dini.

Pengenalan desa sejak dini, dengan mensinergikan dengan kurikulum sekolah menjadi penting, karena, selain supaya generasi selanjutnya paham tentang desa, juga karena setiap desa memiliki keunikan dan potensi yang berbeda satu sama lainnya. Jika penggalian sejarah desa sudah terlaksana dan bisa masuk dalam kurikurum sekolah, maka desa berbudaya dan mandiri, tidak lagi menjadi mimpi di siang bolong. Bukankah begitu?

Penulis Lepas, Pegiat di Idea Institut Semarang.