Resensi

Mengisahkan Cinta dan Kejiwaan Batin

Sumber: bukukita.com

Judul : Bulan Kertas
Penulis : Arafat Nur
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 1, 2017
Tebal : 224 halaman
ISBN : 978-602-037-625-7

Bulan Kertas ini merupakan novel remaja yang mengisahkan tentang dua orang yang memiliki kepribadian yang berbeda dengan orang lain. Rafa, seorang anak lelaki pendiam dan tidak pandai bergaul, yang membuatnya tersisih dan nyaris tidak memiliki teman. Sampai ia dipertemukan dengan Naya, adik letingnya di SMA. Gadis itu kerap menutup diri dan seolah hidup di dunianya sendiri. Rafa menaruh persaan yang mendalam pada Nanya. Karena keduanya memiliki kesamaan yang membuat mereka berbeda dengan orang lain, membuat Rafa berpikir kalau mereka bisa terus bersama dan tak terpisahkan.

Akan tetapi, ketika Rafa mengetahui sisi lain yang menimpa Naya, tentang bulan serupa kertas, mimpi-mimpi dunia lain, ketakutan-ketakutan tak beralasan yang sering mengusik hidupnya, dan tentang perasaannya itu padany Rafa, Barulah Rafa menyadari tentang suatu keanehan yang ada pada diri gadis itu. Karena kepribadian aneh itu pula, membuat jarak antara Rafa dan Nanya semakin jauh. Semakin besar keinginan Rafa lebih dekat dan mengenalnya lebih dalam, justru semakin Naya menjauh darinya.

Kenyataan tentang Nanya yang tak pernah bisa ia miliki, serta rasa cinta yang teramat dalam yang ia rasakan pada gadis itu, membuat rafa terpenjara dalam keterpurukan. Bahkan ketika Rafa menerima kabar bahwa Naya sudah meninggal, jasadnya ditemukan tersangkut di pohon kayu di dasar bukit yang pernah mereka kunjungi berdua, semakin membuat Rafa merasakan kepedihan yang dalam. Kenangan tentang Naya sejak mereka SMA hingga ke Perguruan Tinggi membuat dirinya membuat dia semakin tersiksa.

Rafa berasal dari keluarga religius. Ayahnya seorang guru SD, sementara ibunya hanya ibu rumah tangga biasa yang menyimpan trauma pasca perang. Ibunya sering ketakutan jika melihat tentara atau mendengar letusan petasan. Rafa tidak habis pikir, kenapa perang_pembinasaan manusia atas manusia lainnya yang sangat mengerikan itu bisa terjadi. Sebegitu pentingkah perang itu sampai manusia rela membunuh manusia lainnya, atas dasar tuntutan dan pemaksaan kehendak dengan alasan yang mengada-ada?

Meski hidup di permukiman padat penduduk, Rafa tidak memiliki teman dekat. Remaja seusianya lebih suka menerobos pekarangan rumah-rumah di pinggir kota untuk mencuri buah. Hal itu bertentangan dengan hati nuraninya. Ia kasihan pada Teungku Farhat, guru mengaji di kampung itu yang berjuang sendirian menyelamatkan generasi muda agar tidak terjerumus ke lubang neraka.

Kedekatan antara Rafa dan Naya mulai terjalin. Mereka saling menyukai dan terikat dengan cara yang ganjil. Itu memicu kemarahan Askan beserta gerombolannya. Setiap saat Rafa harus waspada jika tak ingin menjadi sasaran bullying. Setiap kali bersama, Naya kerap membahas dunia lain yang tidak dipahami Rafa. Naya seolah terjebak dalam dunianya sendiri, dengan bulan yang menggantung serupa bulan kertas dalam pandangannya. Belakangan baru Rafa sadari, Naya menderita gangguan jiwa yang tak lazim.

Neurolinguistik punya hubungan dengan ilmu kedokteran, berkenaan dengan kemampuan berbahasa, yang disebut afasia. Dengan kata lain, afasia adalah ketidakmampuan seseorang mengendalikan artikulasi dalam upaya pembentukan kata dan kalimat (hal 161).

Alur yang digunakan dalam novel ini begitu mengalir, sehingga mampu membawa perasaan pembaca hanyut dalam isi cerita. Kisah cinta antara Rafa dan Naya yang diceritakan dalam novel ini mengajarkan kita tentang nilai-nilai kehidupan dan memahami arti cinta yang sebenarnya. Terlepas dari kisah cinta Rafa dan Naya, dalam novel ini juga banyak menggambarkan situasi yang sering terjadi lingkungan sekitar kita, seperti tingkah laku dan pergaulan anak sekolah, sistem pendidikan yang masih brobok serta berbagai hal lainnya yang membuat pembaca benar-benar bisa merasakan bahwa isi novel ini begitu nyata dan dekat dengan lingkungan pembaca.

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Dr Soetomo Surabaya. Pernah meraih anugerah “Resensi / Kritik Karya Terpuji” pada Pena Awards FLP Sedunia. Saat ini menjabat di Devisi Kaderisasi FLP Surabaya dan Anggota UKKI Unitomo.

Popular

To Top