Resensi

Mengisahkan Tentang Peristiwa 1998

Buku Laut Bercerita karya Leila S Chudori (susano.id)

Judul Buku : Laut Bercerita
Penulis : Leila S. Chudori
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Cetakan : 389 halaman
Tebal : Pertama, Oktober 2017
ISBN : 978-602-424-694-5

Buku Laut Bercerita berisi memori atas momen traumatik bangsa yang terbingkai dalam perjuangan aktivis guna merobohkan rezim otoritarian Orde baru yang represif. Di bawah rezim ini, para aktivis berjuang penuh pengorbanan dan menjadi korban atas perlawanan.

Laut Bercerita yang berlatar 1991-2007 mengisahkan perjuangan aktivits, kondisi keluarga korban yang diselimuti ketidakpastian, penuh pengharapan, dan upaya pencarian jejak korban. Kisah perjuangan aktivis berada pada bagian pertama novel dengan Biru Laut sebagai tokoh. Sementara itu, bagian kedua dikisahkan kondisi keluarga korban dan pencarian jejak mereka di mana Asmara Jati sebagai pemeran utama.

Perjuangan Biru Laut bersama aktivis lainnya: Sunu, Daniel, Kinan, Tama, Alex, dana, sang penyair, Bram, Narendra, Gusti, dan Julius bermula dari rumah tua. Mereka menyebutnya rumah hantu di Seyegan, Yogyakarta. Sebagian besar mereka mahasiswa yang tergabung dalam sebuah organisasi, Gerakan mahasiswa Winatra. Di rumah itu. Mereka diskusi banyak pemikiran dan merancang strategi menghadapi rezim. Mereka menyadari, rasa-rasanya kaki gatal bila diskusi sepanjang masa, tanpa tindakan apa pun (hal 12).

Tahun 1998 adalah sebuah titik balik. Salah satu periode yang mengukir sejarah kelam Indonesia. Desaparasidos penghilangan orang secara paksa dialami 13 aktivis mahasiswa. Bahkan hampir 20 tahun kemudian, keberadaan tubuh mereka belum diketahui. Mereka berjuang demi mewujudkan mimpi meraih Indonesia yang demokratis. Lepas dari bayang-bayang kediktatoran. Namun, mereka tidak pernah merasakan buah perjuangan. Selama berbulan-bulan mereka disekap, diinterogasi, dipukul, ditendang, digantung, dan disetrum.

Hal itu bertujuan agar mereka mau menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti siapa yang berdiri di balik gerakan aktivis dan mahasiswa saat itu. Biru laut ditangkap bersama teman-temannya Daniel Tumbuan, Sunu Dyantoro, dan Alex Perazon.
Sambil makan, mereka duduk menanti dan terus menanti kepulangan Biru Laut, tetapi yang diharapkan tidak pernah kembali muncul. Bagian terakhir berlatar pada 200, saat adik Biru Laut dan Tim Komisi Orang Hilang mencoba menuntut keadilan.

Mencari jejak orang-orang hilang dan merekam serta mempelajari testimoni kekasih Biru Laut, para orang tua, dan para istri aktivis yang hilang. Mereka menuntut kejelasan tentang anggota keluarga mereka.

Sederetan siksa itu mereka bersedia menjawab tokoh di balik gerakan. Mereka tetap dibungkam, tanpa takut. Sikap ini senapas penggalan sajak Wiji Thukul, ..Jika kau menghamba pada ketakutan, kita memperpanjang barisan perbudakan.

Usir disiksa. Laut terdiam dalam sunyi. Seketika sunyi itu luruh kala ingatannya mengantarkan pada petuah sang penyair, Jangan takut pada gelap yang bagian dari kehidupan sehari-hari. Pada setiap gelap ada terang, meski hanya secerah, meski hanya di ujung lorong. Tapi jangan sampai kita tenggelam dalam kekelaman. Kelam adlaah kepahitan, keputus-asaan dan rasa sia-sia. Jangan pernah membiarkan kekelaman menguasai kita, apalagi menguasai Indonesia (hal 225).

Para keluarga korban tak diam dan larut dalam duka. Mereka bersama teman-teman Laut berusaha keras mencari ke kepulauan seribu. Hingga kini mereka terus berjuang menuntut keadilan. Salah satunya dalam bentuk aksi kamisan di depan Istana Negara.

Nilai penting dari buku ini dapat menjembatani generasi sekarang dengan masa lampau nan kelam. Mereka mesti mengetahui bahwa hampir 20 tahun tragedi itu hingga kini belum menemukan titik terang. Yang ada hanyalah debat musiman, terutama di bulan Mei. Maka melalui karya ini generasi sekarang dapat melatih kepekaan nurani untuk menjunjung tinggi harkat martabat manusia. Bangsa ini diperjuangan dengan segenap tumpah darah. Diharapkan, mereka juga tergerak mengurai masalah yang tak kunjung usai ini.

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Dr Soetomo Surabaya. Pernah meraih anugerah “Resensi / Kritik Karya Terpuji” pada Pena Awards FLP Sedunia. Saat ini menjabat di Devisi Kaderisasi FLP Surabaya dan Anggota UKKI Unitomo.

Popular

To Top