Opini

Mengobrol Mengenai Deontologi

Ilustrasi: (karyatulismulti.blogspot.co.id)

Saya sedang semacam berlibur dan membaca A Little History of Philosophy lagi sebelum tidur. Buku Nigel Warburton yang membahas filsafat dengan santai itu menurut saya terasa seperti cerita sebelum tidur untuk yang belajar filsafat. Berikut saya menerjemahkan dan menambahkan beberapa hal di sekitarnya dari salah satu bagian yaitu tentang Kant dan deontologi. Saya yakin pembaca filsafat awam akan memahami dan menyukainya dengan mudah. Anggap saja ini cerita sebelum tidur.

Bayangkan bila pada suatu malam dengan hujan yang lebat, ketika kalian sedang sendirian di rumah, tiba-tiba pintu rumah kalian diketuk dan ketika kalian membukanya, terlihat seseorang yang menggigil basah kuyup kehujanan dan terlihat ketakutan. Kalian lalu mempersilakannya masuk, membantunya, menawarkan minuman hangat, dan pakaian kering supaya ia nyaman. Kelihatannya itu adalah hal yang benar untuk dilakukan. Tapi, menurut Kant, bila kalian menolongnya karena rasa kasihan, tindakan kalian sama sekali bukan tindakan moral. Tindakan itu hanya berkaitan dengan sifat bawaan kalian, tidak ada urusannya dengan baik dan buruk.

Bagi Kant, moralitas bukan hanya apa yang kita lakukan, tetapi mengapa kita melakukannya. Perbuatan yang benar bukan datang dari perasaan tapi datang dari penalaran yang mengatakan apa kewajiban kita sebagai manusia, terlepas dari bagaimana perasaan kita saat itu. Menurut Kant, emosi seharusnya tidak mencampuri urusan moralitas, karena seperti yang kita tahu semua orang memiliki kapasitas emosi berbeda. Beberapa orang mampu merasakan belas kasihan dan empati, sementara beberapa orang tidak mampu merasakannya. Beberapa orang senang menyumbang harta dan jasanya untuk membantu orang, sementara beberapa orang tidak mampu untuk bersikap dermawan dalam hal kecil sekalipun.

Menurut Kant, bila kita menolong seseorang karena kita memahami dari penalaran bahwa hal itu merupakan kewajiban sebagai manusia, maka itu adalah tindakan bermoral. Hal ini mungkin agak aneh, karena kita mungkin berpikir bahwa merasa kasihan merupakan emosi yang bagus dan menolong seseorang karena kasihan merupakan tindakan bermoral. Tapi, Kant menjelaskan bahwa melakukan sesuatu berdasarkan perasaan sama sekali bukan tindakan baik, sebab bayangkan bila seseorang yang membuka pintu merasa jijik atau ngeri ketika melihat seseorang yang basah kuyup dan ketakutan itu, rasa jijik dan ngerinya cenderung mengarahkannya untuk langsung menutup pintu lagi. Tapi ketika ia tetap membantunya karena ia mengetahui bahwa membantu sesama memang merupakan kewajiban manusia, orang itu lebih bermoral menurut Kant dibanding yang bertindak karena kasihan, karena orang itu mampu bertindak sesuai dengan penalarannya akan kesadaran kewajibannya, meskipun emosinya bisa saja mendorong untuk bertindak sebaliknya.

Pandangan Kant mengenai intensi lebih mudah diterima daripada emosi. Kebanyakan dari kita menilai tindakan satu sama lain dari apa yang kita sedang lakukan daripada hasilnya. Bandingkan ketika kalian yang sedang berjalan tidak sengaja ditabrak bapak-bapak yang lari terbirit-birit karena ingin menghentikan anaknya yang lari di jalanan, dengan ketika kalian ditabrak perampok yang sengaja menjatuhkan kalian supaya mudah merampok barang-barang kalian.

Bapak-bapak itu tidak bermaksud menyakiti kalian, sementara perampok bermaksud menyakiti kalian. Tapi, dengan contoh selanjutnya, ternyata memiliki intensi yang baik juga tidak mencukupi untuk membuat tindakan kalian disebut bermoral.

Baca Juga: Hadiah

Bayangkan bila tiba-tiba ada ketukan lain lagi di pintu. Ketika kalian membukanya, ternyata itu sahabat kalian yang muncul dengan pucat pasi dan terengah-engah. Ia berkata bahwa seseorang mengejarnya dan ingin membunuhnya. Kalian langsung mempersilakannya masuk lalu membantunya bersembunyi di kamar.

Beberapa saat kemudian, ada ketukan lagi di pintu. Kali ini sepertinya si pembunuh, orang itu terlihat memiliki sorot mata gila dan ia bertanya dimana sahabat kalian? Apakah ia ada di rumah kalian? Apakah ia bersembunyi?
Kalian tahu bahwa sahabat kalian bersembunyi di rumah kalian. Kalian tahu bahwa berbohong itu salah. Tapi kalian berbohong dengan niat baik, untuk membantu teman kalian. Kalian berkata pada si pembunuh bahwa sepertinya sahabat kalian berlari ke arah taman. Si pembunuh lalu segera pergi ke arah taman. Kelihatannya kalian melakukan hal yang benar dengan mengecoh si pembunuh dan memberi tahu tempat yang salah. Kalian mungkin saja menyelamatkan hidup teman kalian. Itu sepertinya tindakan bermoral.

Tapi tidak menurut Kant. Kant tidak peduli yang namanya white lies. Ia tetap mengatakan bahwa seharusnya kita tidak boleh berbohong, apapun kondisinya, apapun situasinya. Tidak boleh, bahkan untuk membantu dan menyelamatkan teman. Tidak ada pengecualian, tidak ada alasan. Mengapa? Karena kalian tidak bisa membuat prinsip umum dengan hal itu, bahwa semua orang harus berbohong tergantung pada situasinya. Dalam kasus tadi, jika kalian berbohong berkata teman kalian pergi ke arah taman, dan tanpa kalian ketahui ternyata memang kebetulan sahabat kalian yang tadinya bersembunyi di rumah kalian itu tiba-tiba minggat dari jendela dan pergi ke taman lalu terbunuh, kalian akan merasa bersalah karena malah tak sengaja membantu si pembunuh.

Memang tidak langsung, tapi sebagian ada kesalahan dari kebohongan kalian bila sahabat kalian mati.
Contoh dari Kant semacam itu memang cukup ekstrim. Kant mau mengatakan bahwa tidak ada pengecualian untuk segala kewajiban moral. Kita semua harus melakukan kewajiban moral, atau secara imperatif kategoris harus dilakukan. Berbeda dengan imperatif hipotetis yang berbentuk, “Jika ingin X, lakukan Y,” atau “Jika ingin menghindari penjara, jangan mencuri.” Imperatif kategoris merupakan perintah. Secara langsung misalnya mengatakan, “Jangan mencuri,”. Menurut Kant, moralitas memiliki sistem imperatif kategoris. Kewajiban moral kita adalah tetap kewajiban moral, apapun kejadiannya dan apapun konsekuensinya. Segala tindakan sudah benar dan salah di dalam dirinya sendiri.

Menurut Kant dan banyak filsuf lain, tidak seperti hewan, manusia dapat berpikir dan dapat merefleksikan pilihan-pilihannya. Kant percaya bahwa manusia bertindak dengan rasionalitasnya dan selalu masuk akal untuk bertanya, “Kenapa kamu melakukannya?” Menurut Kant, ada maxim yang menjadi landasan untuk jawaban tersebut. Maxim itulah yang penting dan bersifat universal dalam artian dapat diterapkan ke semua orang. Itu artinya, kita dan orang lain secara imperatif kategoris akan melakukan hal yang sama pada situasi tersebut. Jadi selalu tanyakan, “Bagaimana bila semua orang melakukannya?” Jangan membuat kasus-kasus spesial untuk diri kita sendiri.

Contoh lain, bayangkan bila kalian memiliki toko buah-buahan. Kalian bersikap sopan, ramah, dan jujur pada pelanggan kalian, dan kelihatannya itu tindakan yang baik. Bila alasan dari perbuatan kalian adalah supaya bisnis kalian sukses, maka itu bukan tindakan bermoral karena kalian hanya menggunakan orang-orang untuk mendapatkan yang kalian inginkan. Tapi, bila alasan dari perbuatan kalian adalah kalian mengetahui bahwa semua orang seharusnya memperlakukan orang lainnya baik-baik seperti itu, maka itu tindakan bermoral.

Cara Kant memformulasikan moralitas berdasarkan penalaran daripada emosi menggambarkan semangat zaman modern yang mengagungkan rasionalitas. Etikanya yang dikenal dengan istilah deontologi akan sangat berlawanan dengan para konsekuensialis yang mempertimbangkan konsekuensi untuk menilai baik buruknya tindakan.

Deontologi mungkin sudah dilakukan oleh beberapa dari kita, dan merupakan landasan yang membuat, misalnya, seseorang yang mengalami masa kecil yang suram karena disiksa secara fisik dan psikis oleh orangtuanya, ketika tumbuh dewasa tetap sebisanya bersikap menghargai, sopan, ramah, dan membantu orangtuanya. Bukan karena memaafkan, bukan karena norma dan aturan, tetapi karena ia tahu bahwa tindakan tersebut merupakan kewajiban setiap manusia. Seseorang yang diremehkan, dicurigai, dan dikucilkan orang-orang sekitarnya tetap menghargai dan membantu orang-orang itu. Bukan karena ingin dekat dengan mereka, tapi karena tindakan tersebut merupakan kewajiban setiap manusia.

Seseorang yang dikecewakan dan dikhianati temannya, tetap membantu ketika temannya dalam kesulitan. Bukan karena dianggap mulia, tapi karena tindakan itu merupakan kewajiban setiap manusia. Seseorang yang dituduh dan dikambinghitamkan atasannya, tetap menghargai dan membantunya. Bukan karena uang yang bisa saja dicari di tempat lain, tapi karena tindakan itu merupakan kewajiban setiap manusia. Deontologi menunjukkan bahwa terkadang hal yang benar adalah hal yang sulit untuk dilakukan, tapi betapapun sulitnya, hal yang benar harus tetap dilakukan.

Magister Ilmu Filsafat dari Universitas Indonesia dengan predikat Cum Laude. Menulis buku “Apa Itu Musik?, Marjin Kiri (2014), jurnal “Music’s Critical Function to Social Conditions”, Mengajar Piano Klasik.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular

To Top