Mengorganisir Suara Kaum Milenial Di Pilpres 2019

61

Semarak pemilihan Presidendan Wakil Presiden 2019 kembaliriuh, perdebataan tentang kedua calon makin gencar-gencarnya. Apalagi pasca penetapan calon yang akan bertarung nantinya, tim pemenangan masing-masing calon mulai bekerja mengatur strategi yang tepat untuk mendapatkan banyak dukungan. Pada pemilihan umum tahun 2019 ini menjadi menarik untuk diperhatikan, kerja tim pemenangan akan diuji bukan karena suguhan calon yang sama, tapi yang menarik untuk dilihat adalah strategi untuk mendapatkan suara kaum Milenial.

Jelas berbeda dari pemilihan umum sebelumnya, target mendulang suara kaum milenial akan mempengaruhi gaya kampanye di masing-masing tokoh yang bertarung dan juga dimasing-masing tim pemenangan. Dari data Komisi Pemilihan Umum terdapat 185.084.629 pemilih tetap dan sekitar 35-40 % pemilih dari kaum milenial. Dari data ini, maka tidak heran dua pasangan calon Ir. H. Jokowi Dodo dan Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin serta pasangan calon H. Prabowo Subianto dan H. Sandiaga Uno, B.B.A, M.B.A harus memikirkan cara untuk mendapatkan suara kaum milenial.

Untuk merebut suara kaum milenial ini bukan sesuatu hal yang mudah, sebab generasi yang sedari awal telah mengenal tehnologi, menikmati kemudahan melalui media social. Media social menjadi trend hidup generasi ini, setiap berita dan referensi apapun dengan mudah diakses oleh mereka, apalagi kaum milenial menjadi generasi mayoritas pengguna media social. Tempat paling memungkinan untuk berkampanye adalah media social sebagai bentuk merebut suara kaum milenial, tidak heran jika pasangan ini harus tetap eksis berselancar di dunia maya untuk menunjukkan eksistensinya.

Tidak hanya di situ pasangan calon harus menyiapkan isu strategis untuk tawaran program untuk menampung keinginan generasi ini, seperti lapangan pekerjaan tentunya. Sebagai generasi yang hidup dengan kemudahan teknologi berdampak pada apatisme terhadap yang terjadi disekitarnya serta generasi yang memiliki pengetahuan dari dunia maya terutama soal pemahaman agama yang tidak kuat dan maraknya hijrah dikalangan pemuda, maka isu agama juga dapat mempengaruhi suara kaum milenial dan umat Islam pada umumnya. Tidak heran hari ini kita selalu disuguhkan oleh perdebatan soal keagamaan mulai dari kata Ulama, ekspoitasi spiritual keagamaan diantara pasangan calon sedang marak di ekspos.

Baca Juga:  Menurunkan Tarif Dasar Listrik Melalui Energi Nuklir

Generasi milenial yang rata-rata berpendidikan serta mudah mengakses informasi membuat mereka miliki daya kritis terhadap apapun. Hal ini menjadi tidak mudah untuk dipengaruhi walau perdebatan tentang siapa yang pantas dan siapa yang di Ridhoi oleh Allah SWT marak bermunculan mulai dari media social seperti Twitter, Facebook, Instagram sampai Grup Whatsapp tidak lepas dari informasi yang menyuguhkan perdebatan pasangan calon atau pendukungnya, hamper informasi tentang pilpres menguasai sertiap media massa dan media social.

Besar harapan penulis bagi generasi milenial untuk benar-benar memilih dan memilah informasi yang dikonsumsi, informasi harus valid dan terpercaya sumbernya dan terbukti agar menghindari hoax dan fitnah yang memecabelah serta dapat dengan kritis memilih pemimpin yang terbaik dari yang baik.

Menghindari Berita Hoax Dan SARA
Beberapa tahun terakhir ini beriringan dengan banyaknya pemilihan umum diberbagai tingkatan baik daerah maupun nasional dari legislatif sampai eksekutif banyak bermunculan berita hoax dan isu SARA. Kasus ini terjadi juga beriringan pula dengan semakin mudahnya akses internet dan juga banyaknya pengguna media social dari Twitter sampai Facebook.

Isu sara dan Hoax akan menjadi potensi muncul serta marak terjadi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab yang hanya ingin memecahbela masyarakat. Apaplagi tensi politik yang tinggi akan memudahkan hoax memicu perpecahan. Kunci dari hoax adalah berita bohong untuk memfitnah seseorang atau kelompok dengan tujuan memecahbelah, maka menghindarinya dengan mewaspada sebaran informasi dari sumber yang tidak terpercaya, akun yang tidak jelas keasliannya.

Menghindari hoax dengan selalu waspada serta tidak cepat mengambil kesimpulan dari satu sumber saja adalah cara untuk menghindari hoax atau menyebarkan hoax. Sebab efek yang diberikan oleh berita bohon adalah perpecahan dimasyarakat.

Baca Juga:  Politik Gotong Royong Pilpres 2019

Menurut data Kominfo bahwa pengguna media social dan pengakses internet terbanyak di Indonesia adalah generasi muda ditingkat umur 17 keatas, pemuda harus terdepan mengawal bangsa dari hoax yang dapat merusak keutuhan bangsa Indonesia. Perlu untuk sama-sama menjaga perdamaian dengan tidak menyebarkan hoax dan selalu waspada terhadap berita yang akan sekiranya menggemparkan. Tensi politik yang naik akan menjadi peluang untuk menyebarkan fitnah oleh oknum yang tak bertanggungjawab. Berkaitan dengan pemilu bahwa deklarasi damai yang digalang untuk benar-benar dilaksanakan pada prosesi kampanye dan mensosialisasikan untuk berkampanye secara damai dimasing-masing pendukung paslon dimulai dari DPRD,DPR RI, Presiden pada pemilu 2019. Ada hal yang lebih penting dalam pemilu yang pertama adalah memilih pemimpin yang terbaik dari yang baik serta menjadi contoh bagi rakyatnya dan yang utama adalah menjaga persatuan dan kesatuan sebagai bentuk dari ukhwah wathoniyah, bahwa kita bersaudara sebagai bangsa Indonesia.

Jelas, penyebar hoax harus juga diberi efek jera, apalagi menjelang pemilu aparat penegak hokum harus waspada terhadap penyebaran hoax pada pemilu nanti. Hokum yang tegas akan berefek kepada penyebar hoax agar tidak mengulangi hal itu. Sebab tidak menyebar atau bahkan membuat hoax adalah cara kita menjaga serta menghormati para pahlawan yang berjuang untuk membangun bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka.