Menimbang Kembali Madilog

263

Di Inggris penerbit Atlantic Book mengeluarkan seri Buku Yang Mengubah Dunia. “Books that Shook The World”. Salah satu buku yang dipilih adalah Marx’s Das Kapital : A Biography yang ditulis oleh Francis Wheen, salah satu jurnalis Inggris terbaik saat ini yang menulis kolom untuk The Guardian dan menjadi penyiar BBC.

Pada Oktober 1997 wartawan ekonomi New Yorker, John Cassidy, menuliskan wawancaranya dengan bankir investasi Inggris yang bekerja di New York. “Makin lama saya bekerja di Wall Street, semakin saya yakin bahwa Marx benar. Ada hadiah Nobel menanti bagi ekonom yang bisa menghidupkan kembali Marx dan mencakupkannya ke dalam sebuah teori yang koheren. Saya sepenuhnya yakin bahwa pendekatan Marx adalah cara terbaik untuk melihat kapitalisme.”

Karena penasaran, Cassidy membaca Marx untuk pertama kalinya dan memutuskan bahwa bankir itu benar. Ia mendapati ulasan-ulasan memukau perihal globalisasi, ketimpangan, korupsi, politik, monopoli, kemajuan teknis, watak melemahkan dari kehidupan modern. Isu-isu yang oleh para ekonom sekarang dipandang baru, tanpa sadar bahwa mereka sedang menapaki jejak kaki Marx”

Istilah Marx sendiri atas teori ini adalah konsepsi materialis historis, dan kini begitu luas diterima sampai-sampai analisis dari semua pandangan politik memakainya, tanpa merujuk pada penciptanya sama sekali.

Saat kaum neoliberal berpendapat negara sosialis sudah tamat karena melumpuhkan usaha swasta, atau bahwa Uni Soviet runtuh karena tidak bisa menyaingi efisiensi kapitalisme Barat, lesunya pertumbuhan ekonomi Barat saat ini, Cina yang datang sebagai Negara Super Power baru, mereka sesungguhnya sedang mengadopsi argumentai Marx bahwa ekonomilah tenaga penggerak kemajuan manusia.

Marx begitu melekat dalam bentukan pemikiran Barat, sampai-sampai hanya sedikit orang yang menyadari utang mereka padanya. Orang-orang sekarang percaya bahwa perilaku mereka pada taraf tertentu merupakan bentukan dari lingkungan materialnya.

Baca Juga:  Drama Politik Pilpres Semakin Brutal

Melalui Marxlah, gagasan-gagasan tersebut menurun pada kita semua.

Sejarah bukan sekadar satu hal susul menyusul dengan hal lainnya, melainkan semacam proses dimana sesuatu yang manusiawi kian lama kian terwujud secara progresif. Marx membuatnya mutakhir.

Bisakah kita di Indonesia sekarang memperlakukan buku Madilog seperti buku Das Capital diatas sebagai “Buku Yang Mengubah Indonesia?”

Bisakah jurnalis kita menganalisa kenapa logika mistik tetap berakar dalam masyarakat yang dikritik keras di buku Madilog? Bisakah jurnalis kita membahas hiruk pikuk kehidupan beragama yang dari sudut pandang Madilog?

Bisakah Jurnalis kita misalnya mewawancarai bankir investasi di BEJ memakai pendekatan Merdeka 100% Tan Malaka atas lilitan hutang luar negeri Indonesia? Perseteruan KPK dengan Parlemen? Perseteruan Eksekutif vs Parlemen? Pengelolaan tambang, minyak dan gas? Dst, dst, dst.

Kritik Stiglitz, mantan Senior Vice Presiden di Bank Dunia dan pemenang Nobel bidang Ekonomi 2001 pada globalisasi, fundamentalisme ekonomi pasar dan sejumlah lembaga Internasional seperti IMF, World Bank semakin membuktikan peringatan Tan Malaka mengenai Merdeka 100 % puluhan tahun lalu ketika Republik ini masih berusia sangat muda. Tan Malaka menjadikannya mutakhir.

Penulis adalah anggota Tan Malaka Institute (TMI)