Menimbang Madura di Pilgub Jatim

649

Oleh: Muchlas Jaelani

Pilgub Jatim terasa lebih ketat dan seru. Kontestasi itu juga memengaruhi skema kehidupan sosial-ekonomi masyarakat Jawa Timur. Namun begitu, kajian soal politik demografi pada Pilgub Jatim belum tersentuh peneliti. Perilaku pemilih setiap daerah di Jawa Timur terbukti memiliki preferensi berbeda yang, pada lanskap yang lebih jauh, memengaruhi determinasi politik mereka. Akibatnya, saling klaim suara di daerah tertentu, baik oleh timses, parpol, atau lembaga hitung cepat, terus berdenyut ramai. Tetapi, masalahnya, siapa bisa ‘menaklukkan’ Madura?

Masing-masing kandidat mulai melancarkan gerilya di Madura. Pasangan Gus Ipul-Anas dan Khofifah-Emil mulai melirik potensi suara di Pulau Garam. Bahkan, polarisasi dukungan masyarakat daerah ‘Karapan Sapi’ ini tampak mulai benderang—setidaknya dengan mencuatnya deklarasi dukungan politik dan suburnya sentra relawan kedua calon. Harus diakui, posisi strategis Madura sebagai kunci kemenangan Pilgub Jatim sudah terbukti pada 2008, saat Khofifah-Mudjiono ditaklukkan Soekarwo-Gus Ipul pada putaran ketiga di Kabupaten Sampang dan Bangkalan.

Meski hanya 10 persen dari jumlah penduduk Jatim, Madura bak Ohio di Pilpres Amerika Serikat. Sihir politik daerah ini justru menjadi barometer bagi peluang kandidat dan arah suara pemilih. Setidaknya, rumor koalisi ‘poros ketiga’ pada Pilgub Jatim yang akan memunculkan pasangan baru sebenarnya berdasar pada peta politik yang koheren: meghadirkan figur primordial daerah untuk menjulang suara di tapal kuda dan—khususnya—Madura. Meski La Nyalla Mattalitti baru saja ditunjuk Partai Gerindra, tetapi hampir mustahil ia bisa melunasi beberapa syarat yang tertulis di surat mandat, apalagi dengan deadline 10 hari. Praktis hanya tersisa PAN yang belum memiliki afiliasi politik pada Pilgub Jatim.

Meski begitu, mobilisasi massa pemilih di Madura nyaris tidak efektif menggunakan mesin partai. Partisipasi pemilih akar-rumput sangat ditentukan oleh kecakapan figur kandidat. Sejak dulu, perilaku masyarakat Madura lemah-lembut, tapi tidak mudah dirayu. Mereka keras kepala, tapi lapang dan tentu setia. Humoris tapi prinsipil. Kondisi sosio-kultural masyarakat Madura ini berpengaruh terhadap kecenderungan politik mereka. Politik partai mungkin berlaku di lokus ‘atas’ dan lingkaran elite, tapi bagi masyarakat ‘bawah’, hal itu nyaris nonsense.

Mantra Jitu

Baca Juga:  HTI Jangan Berlindung Di Balik Kemerdekaan Berserikat

Dalam kontestasi Pilgub Jatim, tampaknya ambisi menang terus digelorakan meski elektabilitas dibangun hanya melalui citra dan propaganda. John Fitzgerald suatu kali berujar, “Kemanangan bagai punya seribu ayah, tapi kekalahan laiknya yatim-piatu”. Perkataan Presiden Amerika Serikat ke-35 itu menjadi ‘alarm’ pada setiap pagelaran pesta rakyat, termasuk pada suksesi di Jatim. Agenda dan gerilya galib dilakukan untuk menarik suara konstituen. Tapi di Madura, ada mantra khusus untuk merangkul suara yang mencapai lebih 3,5 juta pemilih itu.

Pertama, gerilya di domain agama. Masyarakat Madura adalah masyarakat yang religius. Formula ini bukan sekadar menunjukkan fakta spiritualitas-eskatologis, tetapi juga menjadi penanda dari struktur sosial dan politik tertentu. Di Madura, menanam benih jagung di ladang harus menggunakan perhitungan religius yang runtun, apalagi saol memilih pemimpin. Makanya, variabel agama akan terus menjadi instrumen pertarungan politik di Madura. karena, masyarakat Madura akan lebih percaya pada titah kiai daripada sogokan politik uang dan instruksi elite partai.

Kedua, kuasai warung kopi. Kopi memiliki talian spesial bagi masyarakat Madura. Warung kopi tersebar lebih 900 titik di Madura. Meski belum ada penelitian khusus soal ini, tapi nyaris 961 desa di Madura masing-masing memiliki warung kopi. Karena di Madura, kopi memiliki dimensi sosial yang bukan sekadar sebagai komoditas konsumsi, tetapi sarana perekat dan dialog.

Melalui kopi, ruang publik dibangun dengan dimensi kultural yang khas: rukun, guyub, dan toleran. Bahkan, praksis politik bisa diterjemah melalui komunikasi di warung kopi. Bukankah sejarah kopi adalah sejarah penaklukan sebagaimana ditulis Multatuli, dan konon juga Ken Arok menggalang kekuatan politiknya melalui kedai-kedai kopi untuk meruntuhkan Singgasana Kediri?

Baca Juga:  Perppu No 2 Tahun 2017, dikau Membuat Banyak Yang Sakit Hati, dan Sakit Jiwa

Ketiga, ruang dangdut dan sepakbola. Masyarakat Madura menampakkan mass hysteria hanya melalui dangdut dan sepakbola. Mencuatnya dua penyanyi asal Madura di pentas kompetisi nasional rupanya menjadi aset politik kalangan tertentu untuk menjulang suara publik.

Pesona itu terbukti pada Pilkada Sumenep 2015 lalu yang memenangkan pasangan Busyro-Fauzi karena figur Irwan D’Academy yang ‘menjual’. Begitu juga, sepakbola menarasikan identitas primordial daerah. Relasi sepakbola dan mobilisasi massa kadang memperlakukan fans seolah nyawa tak ada artinya (Franklin Foer, 2006). Sudah lazim, ruang sepakbola begitu renyah diolah sebagai komoditas politik.

Dalam Spartial Poitics in the Post-Colonial Novel (2009), Sara Upstone melihat bahwa ruang adalah media ucap baru untuk praktik politik, kekuasaan, dan bahkan kekacauan. Disadari atau tidak, tiga hal di atas menjadi ruang politik yang begitu mudah menghipnotis emosi pemilih di Madura. Tetapi, jangan lupa, kalangan kritis di Madura memiliki konfigurasi politik ideal. Mereka akan lebih banyak menyoal tentang kemiskinan, isu migas dan kualitas kesejahteraan petani garam, serta pembangunan (di) Madura. Saatnya kita lihat, siapa bisa menang di Madura?

*Penulis Adalah Koordinator Penelitian dan Kajian Front Pemuda Madura (FPM).