Menumbuhkan Iman dan Berjiwa Damai

24

Judul : Sebentang Kearifan dari Barat
Penulis : Oki Setiana Dewi
Penerbit : Mizan
Cetakan : I, Maret 2018
Tebal : xxiv + 242 Halaman
ISBN : 978-602-418-173-4

Buku ini mengisahkan pengalamannya berinteraksi dengan orang-orang di negara yang minoritas Muslim. Oki menceritakan pengalaman spiritualnya ke beberapa negara di Eropa seperti Australia, Jerman, dan Spanyol. Saat berada di Australia. Oki memahami bahwa ada karakteristik orang Barat yang berbeda dengan karakteristik orang Timur. Bangsa Timur dikenal sebagai bangsa yang senang bergotong royong dan tolong menolong. Sementara bangsa Barat, dikenal dengan kepribadian indivindualistik.

Oki memahami di sini sebagai sikap seseorang yang menyakini bahwa setiap orang memiliki ruang privat. khususnya hak dan urusannya masing-masing. Namun, bukan berati tak peduli dengan urusan orang lain. Karena itu. Indivindualis di negara barat bukan mengarh pada sifat egois, melainkan pada memahami dan menghormati kepentingan orang lain (hal 29).

Selain sikap toleransi yang wajib dijunjung tinggi, dialog lintas agama pun diperlukan demi perdamaian. Dengan dialog lintas agama, antar pemeluk agama saling mengenal satu sama lain dan diharapkan akan timbul toleransi, saling pengertian, dan penyelesaian konflik. Dialog yang dilakukan pun bukan bertujuan mendapatkan pengakuan dari pihak lain bahwa agamanya paling benar, melainkan setiap pihak memberikan pengakuannya tentang kepercayaan orang lain (hal 34).
Oki berkunjung ke sekolah Ruth Cohn Schule dan berjumpa dua orang gadis, yaitu Jona dan Alia. Kedua gadis tersebur bercerita banyak tentang diri mereka.

Jona bercerita bahwa ia adalah seorang mualaf. Dulu ia sempat memakai hijab, namun orang tuannya khawatir hijab itu akan membahayakannya. Saat itu ia sedang magang dan tidak boleh memgenakan hijab. Jona juga bercerita amat menyukai kehangatan umat Islam. Ia sadar bahwa apa yang banyak diberitakan di media-media Barat tentang Islam sering kali tidak benar. Sayangnya, semua orang menggenalisir Muslim seperti itu. Padahal, setelah kupelajari, Islam jauh dari hal-hal semacam itu, cerita Jona seperti ditulis oleh Oki.

Baca Juga:  Ujian Kehidupan Melalui Novel Inspiratif

Oki sangat menghargai upaya Jona untuk memilih tabayyun atau mengklarifikasi berita-berita negatif tentang Islam yang diterimanya melalui media. Karena itu, Jona tidak mengambil kesimpulan sepihak unuk menilai umat Islam yang sdianggap memnpunyai karakter radikal. Oki teringat peristiwa serangan 11 September 2001 di New York City yang dilakukan oleh kelompok radikal terorisme. Peristiwa yang mengguncang dunia tersebut membuat agama Islam difitnah.namun, Oki melihat bahwa peristiwa itu jutru membuat banyak orang tertarik mempelajari Islam lebih lanjut. Setelah peristiwa tersebut, banyak orang mempelajari dan melakukan riset mendalam tentang Islam.

Alih-a;ih membenci Islam, justru yang mempelajarinya malah mencintai. (hal 139). Setelah peristiwa tersebut, jelas Oki, jumlah pemeluk Islam di Amerika Serikat malah meningkat seiring banysknya para mualaf (Esseissahg, 2011). Mendengar kisah dari Jona dan Alia membuat Oki berefleksi. Ia merasa masih jauh dari rasa bersyukur setelah mendengar kisah perjuangan yang dilalui gadis tersebut. Untuk menjalankan perintah agama, mereka harus berjuang menghadapi berbagai tekanan, bagkan dari keluarga mereka sendiri. berbeda dengan kita yang bisa menjalankan agama dengan bebas. Tidak perlu diam-diam melakukan salat dan puasa, bebas melenggang ke masjid tanpa diiringi tetap curiga.

Meski ada kisah-kisah tersebut, Jerman juga menyimpan kisah lain tentang jumlah umat Msulim. Jerman adalah salah satu negara yang sering menjadi tujuan para imigran, dan banyak di antaranya adalah berasal dari negara-negara Islam. Kini, jumlah populasi Muslim di Jerman meningkat sejak 1960-an ketika pekerja Turki diperbolehkan masuk ke Jerman. Populasi Muslim di Jerman diperkirakan sekitar 4,7 juta orang, atau sekitar 5% dari total penduduk Jerman. Buku bertebal 242 halaman sebagai pelajaran berharga bahwa orang-orang non muslim begitu menghargai kehadiran Islam.

Baca Juga:  Sarjana sebagai Agen Perubahan

Prinsip-prinsip agama Islam mereka pahami sehingga, menyatukan toleransi yang tinggi. Suasana yang begitu damai dan tenteram di bawah naungan cahata Islam yang universal dan cintai. Hal ini penting dilakukan agar siapa pun bisa memulihkan citra buruk Islam di mata dunia akibat berbagai aksi teror yang tidak kunjung reda, hingga sekarang.

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Dr Soetomo Surabaya. Pernah meraih anugerah “Resensi / Kritik Karya Terpuji” pada Pena Awards FLP Sedunia. Saat ini menjabat di Devisi Kaderisasi FLP Surabaya dan Anggota UKKI Unitomo.