Menuntaskan Kekerasan antara Agama dengan Manusia

33

Judul : Dari Membela Tuhan, Ke Membela Manusia
Penulis : Dr. Aksin Wijaya
Penerbit : Mizan
Cetakan : I, Juni 2018
Tebal : 262 Halaman
ISBN : 978-602-441-067-4

Kekerasan atas nama agama seringkali menimbulkan konflik akut terhadap paradigma masyarakat Indonesia. Kekerasan atas nama agama di Indonesia menjadi persoalan yang mesti mendapat perhatian dari beberapa kalangan serta akademisi agar bisa mengkaji dan memberikan solusi demi kemajuan sebuah negeri. Kekerasan yang seringkali terjadi barang kali menjadi suatu isyarat atau menjelma “alarm” bahwa masyarakat Indonesia mesti menghilangkan sikap fanatik dengan kelompoknya sendiri. Selain itu, faktor mendasar seringkali karena pemahaman tentang keagamaan masyarakat Indonesia masih belum komperhensif sehingga terjadi gesekan yang semakin “Menegangkan”.

Buku ini berangkat dari kegelisahan penulisnya yang sering melihat kekerasan atas nama agama. Buku ini memberikan solusi tentang bagaimana menangani kekerasan yang terjadi di Indonesia. Untuk meredam kekerasan atas nama agama penting melacak akar sejarah bagaimana konflik agama seringkali mewarnai kehidupan masyarakat. Dalam sejarahnya, agama selalu akrab dengan kekerasan. Sebagaimana kisah yang terjadi terhadap khulafur rasyidin (khalifah yang keempat). tiga dari empat khalifah Islam menjadi korban dari kekerasans sesama muslim : Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Selain itu, konflik atas nama agama ini juga terjadi dalam peristiwa perang dalam Islam seperti perang Siffin, perang Jamal dan semacamnya.

Generalogi nalar pemikiran Islam fundamental atau lebih dikenal dengan nalar jihadis-ekstremis dapat ditemukan dari tokoh Abdul Wahab di Arab Saudi, yangh menjadi basis gerakan Wahabi. Nalar keislaman Abdul Wahab, sesuai penelusuran Aksin, bersumber pada nalar Islam klasik Kaum Khawarij. Selain Abdul Wahab, nalar Islam jihad Ekstremis dapat ditemukan dalam pemikiran Abu A’la al Maududi dan Sayyid Qutb. Kedua tokoh tersebut memiliki nalar agama yang keras dan cenderung melahirkan perang. Logika berpikirnya mengandalkan benar-salah, hitam-putih, dan muslim-kafir. tidak ada kebenaran jalan ketiga dalam cara berpikir mereka. Kebenaran adalah tunggal dan monolitik. Bila pemikiran mereka dianggap benar, yang lain divonis salah. Corak pemikiran ini cenderung radikal, ekstrem, dan fundamental sehingga memutuskan sesuatu dengan kekerasan.

Baca Juga:  Keteladanan Muhammad terhadap Kekuasaan Wilayah Umat Muslim

Selanjutnya, Aksin menawarkan cara nalar baru yang lebih memihak manusia. Nalar tersebut dinamakan nalar antro sentris. Bila nalar teosentris cenderung memahami agama dengan literal-takfiri, maka nalar antrosentris cenderung membela manusia dengan memahami agama secara rasional. Nalar ini cenderung melahirkan pemahaman yang moderat. Nalar ini menurut Aksin sesuai dengan pemahaman keagamaan yang dimiliki NU dan Muhammadiyah. Sementara nalar literal-takfiri diasosiasikan pada kelompok HTI (Hizbut Tahrir Idnoensia) dan FPI (Front Pembela Islam).

Buku ini terbagi menjadi beberapa bagian. Bagian pertama berisi catatan pembuka yang ditulis oleh penulis tentang landasan pemikirannya mengapa buku ini ditulis. Bagian kedua berisi tentang ulasan sejarah yang munculnya islamisasi peradaban dan sukuisasi Islam. Hal ini dilakukan untuk melacak gerakan Islam di masa mendatang sebab pemikiran merupakan bagian dari rentetan pemikiran yang mendahuluinya. Bagian ketiga mengungkap nalar Keislaman yang menjadi simbol gerakan islam. Bagian keempat berisi tentang nalar keislaman tokoh yang menjadi simbol gerakan Islam yang mengambil bentuk agamaisasi politik yang disebut gerakan Islamisme. Bagian kelima menggambarkan tentang tokoh Islam kontemporer yang mendengungkan agama yang plural, toleran dan damai. Bagian keenam berisi tentang ijtihad intelektual penulis dalam memahami Islam sebagai alternatif dari pemahaman keislaman tokoh-tokoh tersebut. Bagian ketujuh berisi tentang penilaian terhadap nalar keislaman tokoh-tokoh gerakan Islam khawarij-wahabi dan Islamisme.

Bagian kedelapan menghadirkan sebuah solusi dalam mencegah konflik umat antar agama serta kerukunan umat beragama dan bernegara tanpa kekerasan di Indonesia. Bagian kesembilan berisi catatan penutup dari penulis. Buku ini juga memberikan skema secara jelas bagaimana akar sejarah kekerasan agama itu muncul. Menalar Islam yang disuguhkan di dalamnya menjadi landasan dalam membangun suatu pemahaman bahwa segala hal yang berkaitan dengan tuhan itu tidak perlu dibela. Akan tetapi, rasa kemanusiaan menjadi garda terdepan mengusung perbedaan di tengah keragaman. Buku ini mengajak kita untuk hiudp saling mengharagai, empati, dan toleransi.