Menyuburkan Dakwah Islam di Amerika Melalui Novel

211

Judul : Bulan Terbelah di Langit Amerika
Penulis : Hanum Salsabiela Rais & Rangga Alhamahendra
Penertbi : Gramedia
Cetakan : Pertama, Desember 2016
Tebal : 348 halaman
ISBN : 978-602-03-3676-3

Tanggal 11 September 2001 ada sejarah dunia baru. Di mana sebuah guncangan hebat yang mengakibatkan hubungan Amerika dan Islam renggang. Itulah hari yang dikerap disebut Black Tuesday atau selasa yang kelam. Karena pada saat itu terjadi sebuah pembajakan pada dua pesawat oleh orang yang mengaku beragama Islam guna menghancurkan gedung WTC (World Trade Center) New York, Amerika Serikat.

Inilah awal mula yang kemudian membuat warga Amerika semakin menilai Islam sebagai agama harus diberantas, karena memiliki misi jahat dengan melakukan aksi teror. Islam kemudian disebut sebagai agama teroris dan masyarakat menjadi sangat antipati dengan hal-hal yang berbau Islam. Seperti tidak menyukai pembangunan masjid juga tidak senang dengan orang-orang yang berhijab.

Fenomena Islamphobia ini adalah buncah kegamangan Barat terhadap doktrin agama pun. Tragedi itu membuat trauma 1.000 tahun yang belum tuntas sirna, seperti digerojok tambahan 1.000 tahun lagi. Entahlah siapa datang di balik peristiwa memilukan itu (hal 47-48). Kisah itu menjadi benang merah dalam perjalanan hidup Hanum dan Rangga yang saat itu harus tinggal di Amerika. Hanum yang bekerja sebagai wartawan di Wina mendapatkan tegas untuk meliput peringatan 1 windu tragedi 11 September di mana Gerturd memberi tema Apakah dunia lebih baik tanpa Islam? dan Rangga kebetulan melakukan riset untuk tugas S3nya.

Sejak kejadian tersebut banyak orang mengutuk Islam, dan memberikan stempel kepada Muslim. Awalnya, Hanum menolak tugas ini. Karena, tentu saja sebagai Muslimah dia tidak ingin melakukan sesuatu yang malah memojokkan dan menjelekkan agamnya. Namun, Gesturd memaksanya bahwa dengan dia melakukan liputan ini, maka dia juga bisa berupaya bahwa ternyata dengan Islam dunia akan menjadi lebih baik. Hanum mencoba merenungkan, dia berpikir, bahwa ini bisa menjadi agendanya sebagai agen muslim yang baik, hingga akhirnya dia setuju dengan rencana penugasannya. Ternyata, Rangga juga mendapatkan tugas dari Reinhard untuk ke Washington DC, untuk presentasi hasil risetnya tentang sedekah dan tugas utamanya untuk bertemu dengan Philipus Brown.

Baca Juga:  Tentang Kehilangan dan Menghayati Rasa melalui Bunga

Maka terbanglah mereka ke Amerika serikat dengan tugasnya masing-masing, juga keinginan ada waktu untuk senang-senang berdua. Hanum meliput demostrasi pembangunan Masjid di Ground Zero. Dia berhasil bertemu dengan Jonas, pemimpin demonstrasi. Namun, demonstran tidak bisa diatur, sehingga menjadi bentrokan dengan polisi. Hanum berada ditengah-tengah kerusuhan, hpnya hancur, dan dia pun terluka. Sedangkan, Rangga masih menunggu dan tidak bisa menghubungi Hanum.

Awalnya, Julia tidak mau menjadi narasumber bagi Hanum. Namun, setelah memikirkan ulang, akhirnya Julia mengiyakan. Bahkan, dengan menjadi narasumber inilah akhirnya apa yang dia cari selama ini hingga menjadi kurator di Museum 11 September, dia temukan. Abe menjadi pahlawan bagi orang terkenal nan kaya di Amerika.

Adalah Philipus Brown, bos dari Joanna istri Jones. Joanna merekomendasikan Abe sebagai pengawai baru di perusahaan Brown. Nah, disinilah kisah bertaut. Pada saat 11 September 2001, Brown, Joanna, dan Abe. Bertiga turun dan keluar dari perusahaan. Orang rebutun keluar, Abe mengusulkan alternatif memakai lift, namun akhirnya yang bisa selamat hanya Brown.

Novel ini dibangun dengan konsep serendipity, yakni konsep serba kebetulan yang mengindahkan ceritanya. Namun, terlepas dari aktual atau tidaknya sejarah dan fakta ilmiah yang diungkap, yang terpenting adalah bagaimana kita mengambil manfaat dari novel ini. Di sisi lain ada juga selipan pesan tentang bagaimana membangun hubungan yang baik antara suami dan istri. Yaitu selalu menjaga komunikasi dan saling pengertian.