Literasi

Merangkai yang Terberai, Toleransi Harga Mati

Ilustrasi

Penyerangan terhadap kegiatan umat beragama terjadi, sekitar pukul 07.30 WIB seorang pria bersenjata tajam melakukan teror membabi-buta di Gereja St Lidwina Bedog, Sleman, Yogyakarta, Minggu (11/2/18).

Ternyata tidak hanya penyerangan terhadap Gereja St Lidwina Bedog, sebelumnya terjadi kepada seorang biksu dan umatnya dilarang beribadah di Desa Babat, Kecamatan Legok, Tangerang, ini merupakan rentetan panjang terjadi, membuat suatu kegelisahan dan mengganggu kenyamanan masyarakat. Tidak dibenarkan atas nama apapun yang mengancam nyawa manusia, tindakan anarkis dan brutal, tidak boleh dan tidak dibenarkan, karna Negara kita “Negara Hukum”, apalagi merusak tempat ibadah, sebagai tempat yang suci dan sakral.

Baca Juga: Toleransi Jangan Sampai Mati

Intoleransi dan Radikalisme

Maraknya intoleransi dan radikalisme tentu ini menjadi perkerjaan rumah (PR) bersama, tidak hanya pemerintah. Gerakan-gerakan intoleransi dan radikalisme menolak Pancasila, dan mempunyai imajinasi mendirikan Khilafah atau Negara Islam. Kemudian kelompok-kelompok ini melakukan penekanan dan kekerasan terhadap kelompok lain, ini menjadi ancaman serius. Pertama terhadap pilar kebangsaan kita, kedua menciptakan rasa keresahan atau merongrong keutuhan persaudaraan sesama manusia. Ketidakmampuan menerima perbedaan, terjebak pada pemahaman tunggal, sehingga mereka buta melihat pemahaman yang lain.
Meluasnya kelompok-kelompok ini, dan terorganisir dengan massif dengan berbagai varian, kita lihat misalnya, ujaran kebencian mereka ciptaan dan tersinggung sering kita jumpai di media sosial, ini harus dicegah, pertama matikan lumbung kaderisasi, kedua pemerintah harus tegas, tidak mengasih ruang sedikitpun terhadap kelompok- kelompok intoleransi dan radikalism

Memperkuat Tali Persaudaraan dan Harmonisasi

“Trilogi Ukhuwah” yang awalnya dikenalkan oleh tokoh Nahdlatul Ulama (NU), KH Ahmad Shiddiq (1926-1991). Konsep trilogi ukhuwah adalah menyatukan antara ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan dalam ikatan kebangsaan) dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama umat manusia). Singkatnya, KH Ahmad Shiddiq ingin menyatukan antara Ukhuwah Islamiyah, nasionalisme dan pluralisme. (nu.or.id). Menjaga harmonisasi umat bernegara dan memperkokoh persaudaraan ini menjadi kunci berbangsa dan bernegara.

Popular

To Top