Mereka Penghianat Bangsa

470

Masa perjuangan kemerdekaan dahulu, pemghianat bangsa, identik dengan mata-mata musuh, berkolaborasi dengan penjajah dan tindakan menguntungkan musuh lainnya. Masa kini, penghianat bangsa, terindikasi oleh sikap mereka yang tidak peduli dengan kedamaian bangsa ini, ingin merubah negara ini menjadi bentuk lain serta menikmati berbagai fasilitas negara dan pemerintah, namun menusuk dari belakang. Mereka juga adalah koruptor yang merampok milik negara tanpa sedikitpun punya rasa malu.

Pengapa Penghianat Bangsa perlu kita bahas lagi? Karena sejatinya, para penghianat bangsa ini bagai parasit dan benalu yang sangat merugikan. Tindakan mereka sangat mencemaskan bagi kelangsungan hidup bangsa ini. Taruhannya sangat besar, konflik berkepanjangan atau perang saudara tidak berkesudahan. Sekali api perang disulut, maka api akan membesar dan membakar banyak orang.

Baca Juga: Pemberontak Itu, Adalah…..

Mereka para penghianat bangsa, terukur pula dari seberapa besar komitmen mereka menjaga kedaulatan negara ini. Jika mereka menyuarakan penggantian Pancasila dengan sistem khilafah, merekalah para penghianat itu. Apapun pekerjaan dan profesi mereka, para penghianat ini, tidak tahu malu dan tidak tahu berterima kasih.

Makan dari hasil bumi nusantara, bernapas dari udara di Indonesia, bahkan berbagai kemudahan yang mereka nikmati dinegara ini, justru digunakan untuk merorong Indonesia dan pemerintah yang syah
.
Tidak sulit kita melawan musuh dari luar, karena jelas mereka siapa. Namun melawan musuh tersembunyi yang ada disekitar kita memerlukan ekstra perhatian. Fisik dan penampilan, sama seperti kita umumnya. Tetapi hati dan pikirannya, berbetolak belakang dengan kita. Jika kita berusaha mempertahakan bangsa ini, mereka justru ingin merusak bangsa ini.

Mereka sering mempertentangkan Pancasila dengan agama. Seolah kebenaran hanya milik mereka. Kadang tanpa malu-malu mereka memvonis orang kafir. Seolah sebagai penentu masuk surga dan masuk nerakanya seseorang tergantung penilaian mereka. Ujaran kebencian, fitnah dan berbagai informasi palsu yang mereka ciptakan bagi mereka tidak apa-apa. Kita melihat, kita mendengar dan bahkan kita mengalami hal-hal itu, namun hanya mengelus dada, karena mereka selalu kaitkan dengan agama.

Baca Juga:  Transformasi Politik Menuju Kedewasaan Berdemokrasi

Dahulu para Walisongo mengislamkan orang-orang yang masih kafir, mereka justru sebaliknya, mengkafirkan orang-orang yang jelas-jelas islam. Seakan merekalah satu-satunya kelompok yang beriman. Orang lain yang berbeda dengan mereka semua masuk neraka. Mereka lupa, bahwa Tuhan menjadikan manusia berbeda-beda, agar saling kenal lmengenal. Bukan untuk saling meniadakan. Tidak sulit bagi Tuhan membuat manusia ini jadi satu. Tapi rahasia Tuhan belaka yang menciptakan berbagai keragaman di dunia ini. Sekali lagi, bukan untuk membuat manusia saling membunuh. Namun agar manusia saling mengayomi.

Dari sejak awal kemerdekaan, kita tidak terbiasa menggunakan istilah-istilah arab untuk memanggil ayah dengan abi, ibu dengan umi, kawan dengan antum, saudara dengan akhwan, dan lain-lain. Ingat, islam itu bukan arab. Menggunakan istilah arab tidak berarti orang itu sudah islam. Namun disinilah letak persoalannya. Orang akan dinilai sangat beragama apabila menggunakan kata-kata arab. Berpakaian jubah dan sorban.

Ke-Indonesiaan kita dengan menyebut istilah ayah, ibu, saudara dan berkopiah hitam, tidak otomatis membuat kita jauh dari islam. Namun itulah strategi dan taktik para penghianat untuk menciptakan instabilitas di negara ini. Akibat istilah istilah yang digunakan tersebut, membuat anak bangsa ini terpecah dan saling curiga. Kita menjadi merasa berbeda untuk saling menjauh. Akibat saling menjauh, timbul perasaan tidak nyaman sebagai sesama anak bangsa.

Pertanyaan bersama adalah, sampai kapan suasana ini dibiarkan dan terus diciptakan oleh mereka? Apakah menunggu terjadinya konflik besar yang terbuka? Pemerintahlah yang harus menyikapi ini, bahwa upaya para penghinat ini merusak peradaban Indonesia yang islami harus dihentikan.

Islam yang rahmatan lil alamin bisa tumbuh subur dimana saja. Tapi budaya arab, belum tentu cocok beradaptasi diseluruh belahan dunia ini. Saat saya di di Jerman, ada satu keluarga Jerman yang muslim. Anak-anaknya tetap memanggil ayah mereka dengan Vater dan ibu mereka dengan Mutter. Apakah mereka kafir? Secara formal, ya tidak.

Baca Juga:  Peran Politik Perempuan

Mari kita bersama dan bahu membahu melawan para penghianat ini. Mereka ada disekitar kita. Mereka sebenarnya saudara sebangsa kita. Tapi otak dan hati mereka sudah bukan Indonesia lagi. Kenapa? Karena mereka inginkan Indonesia jadi negara khilafah. Makanya penulis sebut mereka penghianat. Itu saja!