Opini

Narasi Agung; Menjadi Harapan Yang Tak Usai-Usai

Sumber Foto: Kaltim.tribunnews.com

Masa lalu itu sejarah, masa depan itu misterius. Biarlah sejarah menjadi pijakan kita berikutnya, pelajaran yang berharga. Tetapi ada kalanya sejarah itu menjadi hantu bagi seseorang, atau kelompok, yang sengaja di mitoskan, atau menjadi komoditi bagi kepentingan. Ketika sejarah mensejarah bagi sejarah itu sendiri, lantas akan menjadi sebuah pijikan, bagi generasi ke generasi. Zaman itu bergerak, dinamis, seperti musim.

Mengutip kata-kata KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) “Saya tahu banyak kiai-kiai NU yang jadi korban. Tapi tak sedikit juga orang-orang PKI yang jadi korban. Bahkan paman saya, Pak Ud (panggilan akrab KH. Yusuf Hasyim) merupakan pimpinan Ansor yang turut melawan PKI. Saya tidak menyalahkan kiai-kiai NU yang mengambil sikap keras pada PKI. Baik NU maupun PKI sama-sama korban keadaan. Membunuh atau dibunuh, itu yang terjadi. Masalahnya, Pak Harto menimpakan seluruh kesalahan pada PKI, dan seolah-olah tentara bersih. Sekarang sudah banyak peneliti yang melihat peristiwa 65 dari berbagai sudut pandang yang menunjukkan adanya persoalan internal tentara, tepatnya Angkatan Darat. Tidak ada faktor tunggal dalam peristiwa itu. Sekali lagi, NU dan PKI adalah korban keadaan. Karena itu, tak ada salahnya kalau saya minta maaf karena saya tidak mau mewariskan kebencian pada generasi muda NU. Dengan pemaafan, maka ke depan generasi muda NU akan lebih ringan beban sejarahnya“.

Sudah selesai, antara yg diantarakan. Membenturkan bentuk, sudah tidak ada bentuk. Lantas dimana persoalannya? Soal tafsir sejarah, atau tafsir mentafsirkan? Jika berbicara tafsir tidak akan selesai seperti kehidupan, luas, panjang, dan ribet. Seperti kata, Pram ” Hidup itu sederhana yang hebat tafsirannya” Mari kita kembali pada teks asli sejarah itu sendiri, biar tidak seperti suara air yang mengalir deras di sungai-sungai.

Claim terhadap tafsir sejarah, akan menjadi pengkotak-kotak, yang satu bilang ada kekerasan terhadap masa lalumu, yang lain akan bilang, lantas kau akan balas dendam, terhadap masa lalu mu?.Kadang kehadirannya pun di anggap masalah, sebagai sosok masa lalu, yang hadir lagi atau bangkit kembali. Padahal itu sebuah luka anak bangsa, entah itu tragedi yang berdarah, yang jelas semuanya korban, semuanya pelaku, membuat luka keberpanjangan, yang tak usai-usai. Menurut Kang Abdul Munim DZ “Sejak awal NU melakukan rekonsiliasi alami, karena di NU tidak mengenal adanya dosa warisan apalagi dosa lingkungan. Karena itu NU mengajak bangsa ini agar menerima mereka kembali ke masyarakat dan disantuni agar mereka tidak kembali ke habitanya sendiri yaitu PKI”.

Kenapa sekarang menjadi pasar malam lagi?

Ada hal yang mendasari itu semua namanya “kepentingan” tentu alasan banyak, pelurusan sejarah, pilpres yang sudah dekat, dan lain sebagainya. Setiap anak manusia punya cara tersendiri untuk memaknai peristiwa itu, iya. Tetapi anehnya hanya muncul yang momentum, itu dikaitkan dengan urusan,tata men-tata, ngatur mengatur, intinya politik saja!. Mempermasalahkan masalah yg di anggap masalah, biar bisa berenang di luat yang bebas. Menghadirkan realitas sosial  pembahasan tentang “hantu atau kenyataan” terlepas yg siapa memproduksi itu, akan menaruh segalanya untuk kepentingan politik.Biar kita kaya perspektif, dan tidak terkesan membenarkan satu tafsir sejarah, lebih baik semuaya di putar, tentu tidak hanya jangan hanya film ‘Pengkhianatan G30S/PKI’ saja, namun film-film seperti Jagal, Senyap dan The Year of Living Dangerously, juga bisa diperlihatkan ke publik, kalau tujuannya edukasi terhadap anak bangsa, dan biar tahu sejarah, jangan hanya satu tafsir sejarah sebagai legitimasi untuk pihak yang berkepentingan.

Jangan terlalu khawatir terhadap hantu yang sudah tiada, atas kebangkitannya, terlalu reaksioner itu menunjukkan kurangnya piknik (pengetahuan), alang kepalang baru sekarang, ada instruksi pemutaran film tentang G30S/PKI, seakan-akan menjadi pedoman dasar kita sebagai warga negara, ada yang lebih penting dari itu, soal persatuan dan kesatuan, juga kemanusiaan.

Ketika persoalannya hanya ingin naik kelas, dan pola berpikirnya pakai cara cara lama, untuk mendapatkan popularitas dan dukungan, apakah iya, cara itu bisa menjadikan naik kelas?

Tapi kenapa harus film G30S/PKI, yang harus di putar?

Tentu ini akan mendiskreditkan salah satu, atau pemahaman dan organisasi tertentu. Orang punya pemahaman tersendiri untuk melihat peristiwa itu, lantas dimana yang akan di luruskan? Menurut Dan Brown, dalam novel The Da Vinci Code menulis istilah History is always writen by the winners.( sejarah di tulisan oleh pemenang).

Mengutip di salah satu buku, bukunya Jhon Rosa menggambarkan kepiluan ini;
“Suami seorang perempuan kembang desa di Purwodadi yang anggota BTI ditangkap pada November 1965, kemudian dibuang ke Pulau Buru. Setiap malam sang isteri kembang desa ini digilir diperkosa oleh pamong desa setempat, tentara, pentolan ormas agama dan nasionalis. Bahkan suatu kali datang seorang tokoh penjagal kaum komunis yang ketika malam datang menidurinya dengan pakaian berlumuran darah dan kelewang yang besimbah darah pula. Ini bukan dongeng horor model Lubang Buaya, tetapi sejarah horor, sejarah hitam legam kaum militer Orba sebagai panutannya yang telah menciptakan kondisi dan konsep kebuasan tersebut”. (Baca buku John Roosa cs [ed],).

Narasi tunggal sejarah bangsa Indonesia tentang peristiwa tahun 1965 oleh versi Pemenang, kita mengerti pada tahun itu apa yang terjadi, cukup lah itu sebagai gambaran. Tetapi di setiap bulan september kenapa ini selalu di produksi terus-terusan. Jika itu musuh nyata, ada yang lebih nyata yaitu persoalan kemanusiaan, yang kemiskinan dan gerakan-gerakan ekstrimis

Pemimpin Redaksi SerikatNews.com

To Top