Nasi Goreng

35
Nasi Goreng

Di ruang makan rumah Maeda naskah proklamasi dirumuskan, pada waktu itu hanya Nasi Goreng yang menjadi hidangan, hingga pada teks sakti itu di bacakan nasi goreng bersemayam di dalam perut para Proklamator, termasuk Bung Karno dan Hatta.

Tahun politik saya langsung terpikirkan Nasi Goreng. Disaat semua orang berteriak nyinyir #2019gantipresiden, ada pula yang mendongkrak elektabilitas dengan semboyan Kerja-kerja dengan sebidang prestasi. Nasi goreng diam-diam tak terdengar ada kesepakatan untuk satu rasa dan pilihan di 2019, baik pada Pak Bowo maupun Pak Joko.

Sampai hari ini kita masih bisa menikmati Nasi Goreng Tegal, Madura, dan Jawa dengan aneka rasa yang berbeda, sesuai dengan rasa masing-masing yang melekat pada esensi ia sebagai makanan yang laten dengan khas Daerah. Ada juga secara diam-diam orang Kuningan dengan Burjo-nya serta menu Nasi Goreng dengan khas tersendiri, rasa kecap, micin, dan sedikit garam. Walaupun begitu tetap ia khas sebagai rasa Burjo enggan mengakui rasa PDI-P dan Gerindra.

Nasi Goreng adalah Produk sejarah khas Nusantara lebih konsisten dalam menyikapi kedaulatan budaya, tidak seperti Sari Roti hanya modal ikut aksi 212 menjadi roti syariah gara-gara bela Agama. Tipikal makanan Postmo yang seperti itu memang cenderung berubah bentuk sesuai dengan segmen pasar yang juga terus berubah.

Nasi Goreng agaknya satu hal yang susah diatur. Ia sangat mustahil dilebur menjadi satu kekuatan politik yang solid hingga terbentuk gagasan kebangsaan atau minimal bersepakat untuk saling mendukung atau terlibat dalam kontestan politik pada Pemilu mendatang. Aku tidak paham sejauh mana kemudian politisi yang waras, atau negara menganggap ini sebagai kegiatan makar.

Kemudian lahir buah bibir, awas Nasi Goreng adalah pembela liberalisme dan Pembangkang NKRI. Diharap semua aparat kepolisian dan Tentara pasang badan untuk sweeping Nasi Goreng tekan untuk mau memberikan keuntungan yang besar setidaknya untuk menghindupi ideologi Negara.

Baca Juga:  Dari Perang Dagang Menuju Perang Politik

Nasi Goreng 10 malam terakhir telah merubah kehidupanku lebih genit, memberikan warna rasa baru, membangkitkan ingatan, dan mengarahkan pengetahuan. Setidaknya setiap mencicipi resep baru Nasi Goreng khas setiap daerah itu serasa mempunyai pacar baru, bahagia selalu.

Tapi jauh lebih penting sebenarnya wajib kita tahu, bahwa yang bertarung dengan arus dunia global justru kuliner. itu kenapa kemudian Sukarno menerbitkan buku “Mustika Rasa,” karena kuliner itulah kekuatan politik yang sebenarnya untuk mendongkrak perekonomian bangsa dengan aneka suku yang berbeda serta mempunyai citra rasa tersendiri. Tapi Orda Baru dan Reformasi kemudian diubah menjadi Moral individual sebagai kekuatan politik dunia demi kepentingan asing dan jabatan yang dibilas dengan cat putih kemanusian.

Jujur saya lebih bangga menjelaskan pada Dunia, bahwa Nasi goreng adalah representasi kebebasan yang lebih apik daripada konsep demokrasi itu sendiri. Mungkin karena demokrasi hanya berangkat dari kelompok segelintir orang, sebab itu ia tidak pernah memuaskan seperti Nasi Goreng.

Begitu adanya Nasi Goreng, ia sangat mewakili perasaan dan sikapku kemudian pada pemilu 2019 mendatang untuk tidak Memilih. Saya tidak ada selera dengan politik, saya lebih suka dunia kamar dengan kegilaan pada kebebasan berpikir walaupun tubuhku terpenjara oleh dinding yang kuat, tapi pikiranku bisa terbang lebih bebas.

Saya belajar banyak hal pada Nasi Goreng, bahwa ada satu hal yang tidak bisa satukan secara alami, termasuk saya pribadi. Walaupun kemudian saya sebagai warga negara yang paham dan sadar pula pada hukum konstitusional.

Walaupun banyak orang yang bilang, pesta demokrasi adalah hari kebahagiaan, merayakan kebebasan sebagai warga negara yang berdaulat, dan mempunyai hak pilih dengan tanda hitam di jari jempol. Jujur cara saya bahagia tidak seperti itu, saya phobia ketika kehabisan stok membaca buku dan teman saya Usman tidak jualan Nasi Goreng.

Baca Juga:  Mengorganisir Suara Kaum Milenial Di Pilpres 2019

Saya menghargai setiap perbedaan, bahwa hanya pemilu dengan cara mencoblos yang bisa dijadikan instrumen kebahagian. Bagi mereka yang percaya itu, tak usah berdebat silakan memilih. Pilihan saya tetap Nasi goreng.

Nasi goreng kadung menyejarah dalam hidup umat manusia yang puncaknya adalah seni kemanusian, sedangkan politik itu sendiri perjalanan kekuasaan, perebutan, penindasan, dan penaklukan. Saya sepakat dengan GM, “politik telah menjadi kata yang membingungkan,”untuk hari ini.

Entah apa kemudian penyebabnya, tiba-tiba aku merasakan jijik, jenuh, dan enggan mengucapkan kata politik. Memang pahit, tapi Aku kemudian lebih nyaman dengan nasi goreng, disitu menemukan hidup dengan selogan yang lebih humanis dan menjanjikan daripada politik. Contoh, anda bisa coba nasi goreng “Sedulur selawase, di jalan Sokowaten DIY”, disitu juga menyimpan perjuangan merebut kebahagian ia sebagai seorang ayah untuk anak-anaknya selain citra rasa.

Ada nilai konsistensi yang tak bisa diubah dan patut untuk dijaga pada Nasi Goreng, walaupun ia menjadi pendukung terbentuknya Teks Proklamasi, tapi kemudian ia tidak ganti nama menjadi nasi Goreng Indonesia.