Opini

Natal, Banser dan Adab Berbangsa

Ilustrasi

Pekan ini merupakan pekan sakral bagi saudara kita penganut agama Kristen. Pekan sakral itu berwajah perayaan hari besar mereka: Hari Natal. Sebelum saya lanjutkan tulisan ini, saya ucapkan selamat hari natal bagi saudara-saudaraku umat Kristiani.

Bisa dipastikan dan seperti yang sudah-sudah, dari setiap adanya perayaan hari besar keagamaan di Indonesia, yang paling mencolok dan terpampang dengan gamblang adalah simbol-simbol keagamaan.

Simbol sebagai identitas kolektif dari interpretasi keagamaan yang tak bias historis, telah menjadi semacam warna tersendiri. Bagi sebagian agama, simbol adalah ruh dan pelecut spirit dalam beragama.

Di hari Natal besok, jelas kita akan berbagi tempat dan pandangan kepada saudara kita. Di pusat layanan publik, ruang publik akan ada pernak-pernik bintang kejora, baliho bertuliskan “Marry Christmas”, pakaian Santa Claus yang serbaneka berwarna merah dengan gradasi putih dan tentu pohon Cemara. Demikian itu lazim kita lihat di pekan terakhir di satu tahun.

Bahkan, seperti yang sudah-sudah, di puncak perayaan Natal, kita akan temui selain kepolisian dan linmas, akan terlihat juga Banser NU sedang mengamankan Gereja.

Saya jadi teringat 17 tahun yang lalu anggota Banser NU bernama Riyanto syahid ketika mengamankan Misa Natal lalu ada bom tak dikenal yang ditujukan kepada Gereja Eben Haezer di Mojokerto. Salam damai untukmu Mas Riyanto. Al-fatihah.

Sungguh kalaupun hal tak terduga demikian tak sempat terjadi, keragaman dalam keberagamaan bangsa Indonesia akan dilagukan dengan indah di seluruh belahan dunia. Banser dalam menjaga keutuhan bangsa akan tercerahkan juga.

Meskipun olok-olok kerap kali mewarnai niat baik para Banser dalam menjaga dan mengamankan kerenggangan beragama di Indonesia.

Kerenggangan itu tercuat dalam bentuk cibiran: “orang Islam kok ikut-ikutan masuk Gereja”, lah kamu kira beragama cuma dinilai pada tempatnya saja? Terus semisal tak ada tempat beribadah–ritual secara formal–apakah kamu tetap ga beribadah?

Kita menyadari akhir-akhir ini kerenggangan itu kian parah sebab diperparah dengan isu perpecahan di internal umat Islam Indonesia. Kalau umat Islam sendiri tidak bisa menjaga keutuhan umatnya, lantas mengapa mereka malah peduli kepada umat Kristiani? Pertanyaan itu terasa menohok sekali.

Jusru itu kita menjaga kalian, supaya umat Islam yang mbalelo tadi tidak lari ke lari ke samean, takutnya malah jadi batu godam.

Problematika itu menuai dua solusi. Pertama, Banser menjaga peribadatan umat Kristiani pada hari Natal. Mereka menjaga dari kemungkinan adanya marabahaya yang mengancam saudara kita tersebut. Tanpa meremehkan penjagaan negara terhadap mereka. Bahaya tetap tak bisa diprediksi. Ikhtiar menjaga ini disebut KH. Ahmad Shiddiq sebagai relevansi atas ukhuwah insaniyah. Persaudaraan sesama manusia.

Kedua, adalah ukhuwah Islamiyah. Banser menjaga saudara seiman mereka, ngadem-adem dan meyakinkan jika perkara kemanusiaan menjadi dasar penjagaan mereka. Jika nyawa yang diancam, siapa segan mengganti?

Toh, jika spirit beragama kian membumi, yang dikhawatirkan adalah hilangnya spirit berTuhan. Sifat Rohman-Rohim Tuhan renyah dikalahi oleh interpretasi teks-teks keagamaan yang diamini dan imani secara absolut. Meski interpretasi itu menyalahi nilai kebangsaan, keadaban dan kemanusiaan.

Bukankah memuliakan dengan mengutamakan saudara atau tetangga itu ajaran agama? Tentu, ajaran agama yang meredam egoisme pribadi.

Tetangga menjadi perhatian penuh kita. Kalau tetangga kesusahan kita menolongnya. Tetangga butuh uang meski kita juga membutuhkannya tetap mereka yang kita dahulukan, tetangga sakit kita kifayah merawatnya. Tetangga butuh perlindungan, kita melindungi.

Mereka para tetangga adalah engkau yang lain. Menolongnya sama dengan menolongmu, keluargamu serta sanak familimu. Tetangga dalam berbangsa fardhu ditempatkan dalam ikhtiar adab kebangsaan.

Banser NU sebagaimana dititahkan, ia menjelma sebagai garda terakhir pertahanan NKRI. Sedang umat Kristiani adalah tetangga kita, saudara kita dalam sinergi ukhuwah Basyariah. Persaudaraan dalam mempertahankan keutuhan negara baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur.

*Penulis Adalah Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Popular

To Top