Nyawa Tenggelam di Danau Toba

9

Di tengah persiapan menjelang idul Fitri. Penumpang menaiki kapal motor Sinarbangun dengan tujuan pelabuhan Samosir. Namun di perjalanan sempat melakukan hal yang tidak jelas dilakukan. Segenap musibah kapal motor akan tenggelam seketika. Nyawa pun tak kunjung tertolong. Di antara keluarga yang menanti kabar pun sempat menangis.

Entah tragedi kapal motor sempat menjadi musibah pertama. Duka paling mendalam membuat sejumlah petugas keamanan air mencari korban. Dari beberapa penumpang pun menemukan satu pun korban yang meninggal di sana sedangkan yang lainnya selamat. Di rumah keluarga menyambut belasungkawa pada warga sekitar. Ia sambil menceritakan tentang kronologi kejadian tenggelam nya kapal motor Sinarbangun. Mengalami muatan lebih membuat penumpang langsung telan perlahan-lahan lalu nyawa tak bisa tertolong. Mungkin tak bisa dimungkiri bila keluarga membaca kalimat Thoyyibah pada anak yang disayangi.

Keesokan harinya keluarga dan rekan korban langsung menangis histeris atas kematian. Idul Fitri sangat mengisahkan hapus dosa yang menyakiti orang tua dan kerabatnya. Ibu melihat foto korban yang hampir disayangi. Berlangsung pahit pun belum juga hilang. Di sela-sela menaungi Danau Toba pun sengaja rela merenungi dan mendoakan si korban. Beberapa kali korban memprotes pada pihak petugas pencari korban kapal Sinarbangun. Tidak tahu kapan korban ditemukan. Kendalanya adalah saat mencari korban Danau Toba hampir bervariasi. Jika mendalami dari bawah akan merasakan dingin begitu ekstrim.

Sungguh mengerikan bila jatuh kapal motor seketika ratusan meter akan menghembuskan nafas terakhir. Ibu sambil berdzikir ditengah shalat fardhu. Selain itu menghimbau warga untuk melakukan shalat gaib yang dilakukan di Masjid. Seminggu pasca tenggelam korban sinarbangun petugas berusaha semaksimal mungkin untuk mencari korban. Hasilnya memang sulit. Dengan metode teknologi yang canggih untuk memudahkan mencari bagian kapal dan korban.

Baca Juga:  Liburan panjang, berefek fluktuasinya rasa

Ibu hanya duduk di kursi menatap foto korban yang biasanya berkumpul di tempat tertentu. Ayah melihat musibah di tengah menjalankan ibadah puasa pada hari terakhir pun belum kunjung hilang. Mengidap trauma telah memikirkan kesayangan. Ibu mulai meneteskan air mata sambil memeluk ayahnya. Salah satu anak bernama Devi sengaja pulang mudik untuk menemui keluarga. Sebisa mungkin keluarga kelas akan sangat menikmati serpihan terakhir di Sekolah. Entah kenapa Ibu memutuskan untuk menaburkan bunga di danau Toba.

Anakku, Ibu menyayangimu.

Menaburkan bunga ditengah lautan danau toba pun sebagai rasa bela sungkawa yang menimpa korban penumpang kapal Sinarbangun. Semanis canda dan tawa tidak lepas dari kenangan Devi. Sebelumnya kegiatan sehari-hari Devi menghabiskan waktu di sekolah sambil bercengkraman malam minggu bersama teman sebaya. Tiap tahun Devi juga menyisakan waktu bersama keluarga di Kabupaten Samosir. Sayangnya Devi mempunyai firasat buruk jika kapal motor terjadi tenggelam di danau Toba. Dalam mimpi Devi telah kehilangan dunia bersama temannya. Saat duduk Devi bertatap dengan lelaki itu.

Ada apa
Kamu, belakangan ini kau terlalu sedih atas kehilangan dunia bersama keluargamu
Aku mengerti soal itu, justru pun itu kemenangan fitri harusnya menikmati sungkeman pada orang tua, kerabat, dan tetangga-tetangga di sana

Kamu tahu kini langit sudah berubah. Yang bisa dijalani selamanya tanpa mengimbas pada waktu. Dan bisa dibilang melewati takdir saat di perjalanan
Jadi apa yang harus lakukan

Tidak ada jalan lagi yang pantas dikembalikan. Lelaki itu mengungkapkan kepedihan yang selalu menyebabkan Devi mengalami tangisan air mata.

“Kamu tahu tidak bahwa setiap kamu lahir selalu diimbangi dengan bimbingan dari Ibu, sambil belajar berjalan, sampai bergerak. Bahkan saat sekolah pasti menemui kenakalan yang tak bisa dikendalikan. Bahkan selalu menjahili teman di kelas tanpa sepengetahuan yang jelas. Lantas apakah kesenangan ini semata-mata dunia ini akan murka….”

Baca Juga:  UBUD

“Cukup, dengar kau lelaki brengsek, jangan berharap menemui kepedihan olehmu dan omongan murahanmu, ini sudah waktunya menjemput takdir, jangan berharap mengabulkan omongan yang menyebalkan itu. mengerti!”

“Aku mengerti apa yang diucap olehmu, sekarang kau bisa meredamkan segala trauma melalui segala rintangan. Kini hanya bisa menikmati sendirian di alam yang meredup sunyi ditengah kehilangan rindu dan kenangan.”

Devi berlari melewati lingkaran cahaya. Dalam perjalanan dari lahir hingga dewasa selalu merindukan Ibu. Sudah mulai tubuh berkeringat pun tak bisa terhindarkan. Apa yang terjadi bila lelaki menemui itu hanya sepasang bulu yang bertebar dimana-mana. Apa pun Devi selalu menemui kepedihan dan jalan kedap-kedip membuat Devi makin tenggang. tiba-tiba danau mulai mengguncang ombak melanda Devi. Beberapa menit kemudian Devi sempat pingsan di pantai. Inilah tempat kejadian sebelum tenggelamnya kapal motor Sinarbangun. Menjadi bayangan Devi menangis bila sudah kehilangan hidup yang alami. Sambil bersujud Devi sambil berdzikir pada Allah. Ibu telah merindukan anak perempuan itu sayangnya hanya pasrah mengikhlaskan kepergian anak.

Devi kembali pada alam lain. Seduhan angin meraup air laut. Devi hanya bisa mengapung langit yang meratapinya. Kemenangan Fitri telah datang para warga menggelar tahlil untuk Devi. Berbagai cobaan telah melewati bersama. Ibu memeluk foto Devi. Devi juga merenungi nafas segar ditengah hirupan angin menaungi lautan surga. Saat ini Devi berada di alam barzakh dan tidak akan kembali lagi setelah kematian putri akibat kejadian tenggelam kapal motor Sinarbangun di Danau Toba. Selamat jalan perempuan penghuni surga. Mudah-mudahan kehidupan dijalani membawa kehangatan dan beristirahat selamanya.