Opini

NYIA dan Nasib Negeri Agraris

Sumber Foto www.pictaram.com

 “Petani itu adalah penolong negeri “(KH. Hasyim Asy’arie)

Akhir-akhir ini banyak sekali terjadi kasus penggusuran demi alasan kepentingan nasional. Kasus itu juga akhir ini pula beberapa kali terjadi khususnya di Yogyakarta. Beberapa hari yang lalu lahan serta tempat tinggal warga Kulonprogo. Lahan yang masuk dalam proyek pembangunan bandara Internasional Adisucipto Yogyakarta itu, jelas akan digurus apapun yang terjadi. Ini kepentingan rakyat bung!!!.

Mungkin saja itu yang menyepakati bahwa lahan subur harus dirampas dan dibangun gedung-gedung tinggi, fasilitas Negara sampai fasilitas pejabat Negara yang mulia itu. Entah, rakyat terima atau tidak bukanlah urusan. Yang jadi urusan adalah proyek yang diloloskan haruslah dilaksanakan. Seluruh hambatan disikat saja, lah kalau rakyat yang menjadi penghambat ?, tetap saja disikat.

Kasus penggusuran yang terjadi adalah keberhasilan besar pejabat kita, wahai rakyat. Keberhasilan mereka ialah menyumbang penyusutan lahan pertanian di negeri agraris ini. Nama negeri agraria bukan soal, ini kepentingan nasional. Rakyat perlu tahu bahwa pembangunan dengan mengorbankan lahan rakyat demi kepentingan rakyat itu sendiri. Dengan adanya pembangunan bandara rakyat akan mendapat jaminan pekerjaan yang memiliki masa depan cerah. Rakyat tak tahu itu, tak tahu bahwa mereka akan dipekerjaan menjadi satpam, cleaning service atau tukang kebun bandara. Lah, itu pekerjaan masa depan yang dibuat melalui program super milik pejabat kita. Ini pekerjaan yang tepat bagi petani yang dirampas tanahnya apalagi petani yang tak memiliki ijazah.

Pejabat kita telah menambah data ketimpangan ekonomi dengan kebijakan mengambil lahan penghidupan rakyat. Pejabat kita tak mau tahu kalau negeri ini dari seluruh total masyarakat dari penguasaan kekayaan yang hanya berkutat dibeberapa orang saja dari total seluruh masyarakat Indonesia, monopoli penguasaan lahan, jumlah simpanan uang di bank, saham perusahaan dan obligasi pemerintah. Pada tahun 2015 saja dari data World Bank, Indonesia adalah Negara rangking ketiga ketimpangan ekonomi setelah Rusisa dan Thailand. Rasio mencapai 0,39 persen dan indeks penguasaan lahan tanah mencapai 0,64 persen, 1 Persen orang terkaya menguasai setidaknya 50,3 persen kekayaan nasional. Cukup jauh ketimpangan yang terjadi jika mengacu pada data diatas.

Selain itu, menyoal sekitar 16 juta hektar tanah dikuasai 2.178 perusahaan perkebunan, 5,1 juta hektar di antaranya dikuasai 25 perusahaan sawit . sehingga penguasaan lahan yang hanya dimiliki oleh perusahaan besar yang telah berdiri di Indonesia ini menyumbang turunnya jumlah petani dari 31 juta keluarga tani menjadi 26 juta, ini disebabkan atas penguasaan lahan atau perampasan lahan dibeberapa daerah yang ada di Indonesia sehingga lahan pertanian berkurang.

Dari data diatas itu, pejabat tak mau tahu itu urusan lain, nanti saja dibahas dikursi goyang milik pejabat kita. Rakyat tak perlu tahu, urusan nasib rakyat dibahas sambil nonton youtube atau sambil tidur, ya tak apalah pejabat kita sangat banyak pekerjaan. Agenda menggusur tanah selanjutnya masihlah banyak dan jelas menguras tenaga, wajar saja mereka tidur. Tak perlu kita urus, kita hanya perlu menunggu hasilnya saja, entah hasilnya kembali menyumbang angka kehilangan profesi petani. Mungkin ada perubahan atau paradigma baru dari pejabat kita bahwa menjadi petani itu tak perlu memiliki lahan atau mengolah lahan. Itu adalah paradigma paling muktahir yang bisa dijawab.

Yang bisa rakyat lakukan adalah menunggu, mencoblos saat pemilu sambil berdoa bahwa pemimpin yang kita pilih dapat membawa aspirasi rakyatnya bukan aspirasi perusahaan, dan itu pula tak bisa dibuktikan oleh rakyat sendiri, terus saja mencoblos sampai tak ada kertas suara lagi. Mari kita berdoa saja, kata pak kyai saya doa saja agar terkabulkan, ini nasib dan kita harus terima. Berdoa-berdoa sampai akhirnya tak ada yang bisa rakyat lakukan selain berdoa, sebab peluang untuk merubah nasib kian minim, lahan kian terhimpit oleh gedung-gedung tinggi yang nanti kita gunakan untuk doa akbar atau sholawat nariyah saja. Jika memang manusia diciptakan dari tanah, padahal tanah sudah tidak ada, maka dimana jasad ini dikuburkan ?

Click to comment

Tinggalkan Balasan

Popular

SerikatNews.com adalah portal media Online, sebagai wadah media kritis anak bangsa yang menerjemahkan visi, mencerahkan itu sebagai keharusan, menyajikan tulisan-tulisan jernih dan transfomatif. SerikatNews.com merupakan media yang menyajikan berita-berita yang terpercaya sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik. Media SerikatNews.com bergerak diranah kampus bermaksud untuk membangun secara kolektif nalar kritis mahasiswa yang hari ini sudah banyak terkoptasi dengan dunia hedonisme. SerikatNews.com tidak memihak terhadap kepentingan satu golongan baik ras, suku, partai politik bahkan agama! Salam Tim Redaksi SerikatNews.com.

Copyright © 2017 Serikatnews.com - All Rights Recerved

To Top