PAHLAWAN

435
Dokumen Pribadi
Dokumen Pribadi

Oleh: dr. Nenden Lilis Setiasih, Sp.KK

Arti “PAHLAWAN” di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. Kebenaran yang dilakukannya untuk kepentingan orang banyak, bukan untuk kepentingan golongan atau kepentingan pribadi. Sungguh besar arti dan makna dari kata pahlawan ini. Pahlawan yang sudah menjadi leluhur –leluhur kita merupakan pahlawan yang betul-betul membela kebenaran dengan mengorbankan jiwa, raga  dan semua yang dimilikinya unrtuk membela bangsa dan negara Indonesia tercinta ini.

Di masa era sekarang ini, kata pahlawan mempunyai makna yang sama tetapi berbeda dalam perilaku. Saat ini kita bukan melawan penjajahan suatu bangsa tetapi melawan segala ketidakbenaran dalam berperilaku khususnya perilaku yang salah dalam mencerminkan nilai – nilai luhur kepribadian bangsa kita sendiri. Banyaknya masyarakat yang khawatir melihat perubahan perilaku yang ugal-ugalan, tidak mau ikuti peraturan, mau menang sendiri, tidak menghargai, pergaulan yang salah, menghalalkan segala cara atau main hakim sendiri, sehingga kita perlu merubah perilaku tersebut dengan melakukan perubahan mental.

Perubahan mental seharusnya merupakan suatu karakter yang berorientasi untuk kemajuan Bangsa agar membangun jiwa yang merdeka dengan penuh keyakinan yang berahlak mulia. Ahlak mulia ini didapatkan bukan hanya saja karena kepandaian sesorang untuk berimu  agama namun jiwa atau kalbunya banyak terisi oleh keyakinan kepada Allah SWT yang selaras dengan sunah Rasul.

Tentunya siapakah yang paling berperan sebagai pahlawan umtuk melakukan perubahan mental ini , yaitu orang yang dijadikan suri teladan. Seseorang yang baik dan bijak dan pantas untuk ditiru. Sudah jelas Rasullullah adalah orag yang paling utama sebagai suri teladan kita,  namun untuk ruang lingkup kehidupan kita laiinnya yaitu orang –orang yang berada di sekitar kita yang terdekat yaitu keluarga Ayah merupakan pahlawan bagi istri dan putra-putrinya, istri adalah pahlawan bagi anak-anaknya, sedangkan putra-putrinya pun bisa berperan sebagai pahlawan bagi kakak atau adiknya sendiri.

Baca Juga:  Yang Sejati dan Yang Pencitraan

Ayah dan ibu dalam memberikan pendidikan untuk menjadikan ahlak mulia terhadap putra putrinya merupakan hal yang sangat memerlukan pengorbanan yang sangat berat. Mereka harus mampu  mempunyai  kesabaran yang sangat tinggi, kepandaian dalam memilih berbagai ilmu dan lingkungan yang baik bagi putra putrinya, mampu menterjemahkan nilai-nilai yang luhur dalam kehidupan sehari-hari serta menciptakan lingkungan keluarga yang penuh ketenangan dan kedamaian. Hal tersebut diupayakan dengan fokus dan konsisten, dengan melakukan berbagai internalisasi yang berulang-ulang bagi putra putrinya agar tumbuh menjadi manusia yang ideal dan berahlak mulia.

Demikian pula terhadap putra putrinya untuk menjadi pahlawan dalam keluarganya, harus mampu mempunyai kesabaran yang tinggi, mampu  untuk bisa menilai hal yang baik dan buruk di lingkungannya, berperilaku yang membanggakan bagi kedua orangtuanya serta tumbuh kuat menahan segala tantangan dan rintangan yang mengganggu dalam kehidupannya sehingga bisa menjadi generasi Bangsa yang ideal. Di hari Pahlawan ini, marilah kita renungkan kembali tentang jasa ayah, ibu, kakak ataupun adik kta yang telah memberikan hal yang terbaik bagi hidup kita. Dengan doa dan kasih sayang mereka yang tulus tanpa pamrih untuk menjadikan diri kita menjadi manusia yang ideal sehingga bisa menjadi pahlawan bagi generasi kita selanjutnya.

Bagi kita yang saat ini berperan sebagai ayah atau ibu berusahalah kita tingkatkan keyakinan dan kemampuan kita untuk dapat menjadi pahlawan dalam keluarga sehingga bisa  menjadi suri tauladan bagi anak-anak kita. Dengan demikian merekapun akan tumbuh sebagai pahlawan untuk keluarganya hingga menjadi pahlawan bagi Bangsa ini.

*Penulis Adalah Anggota IDI dari 89 SP Sekarang, Anggota Perdoski dari 2003 SP,
Pengurus INCAAM dari 2012 SP, Anggota IKLASI dari 2017.