Info Nawacita

Pembangunan Indonesia Sentris Mengatasi Potensi Disintegrasi Bangsa

Serikatnews.com

SERIKATNEWS.COM– Wacana atau fiksi tentang Indonesia bubar 2030 masih menimbulkan kontroversi. Ada yg mengatakan itu warning atau ada pula yg menilai sebagai retorika politik murahan yg hanya ingin menghadirkan kontroversi.

Dimata PROJO, Organisasi militan pendukung Jokowi, ancaman disintegrasi bangsa hanya mungkin karena tiga faktor. Pertama, hancurnya ideologi pemersatu bangsa yaitu Pancasila. Kedua, kesenjangan antar wilayah. Dan ketiga intervensi atau campur tangan asing.

“Sejarah berdirinya bangsa ini berasal dari kesadaran bersama seluruh komponen anak bangsa, dari mulai Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda hingga Kemerdekaan Indonesia. Proses persatuan nasional kita muncul dari perasaan senasib dan sependeritaan selama masa kolonialisme. Prosesnya bottom up ( dari bawah). Anak- anak muda yang visioner bergerak bersama dalam satu tujuan. Pancasila menjadi fondasi dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bhineka Tunggal Ika adalah intisari persatuan Indonesia. Jadi Indonesia bisa hancur atau bubar karena adanya infilterasi ideologi yang ingin menghancurkan dan mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi lain yang tidak sesuai dengan karaktetiktik bangsa Indonesia. Ideologi lain yg tidak sesuai dengan gerak sejarah dan sosio kultural bangsa Indonesia,” jelas Budi Arie Setiadi, Ketua Umum PROJO (23/3).

“Karena itu jangan main – main dengan Ideologi bangsa. Kalau Pancasila hancur maka negara Indonesia akan bubar. Tugas dan tanggung jawab kita semua untuk membumikan Pancasila dalam kehidupan sehari- hari,” jelas Budi.

“Pembangunan Indonesia sentris yang dilaksanakan Pemerintahan Jokowi adalah jawaban nyata atas problem kesenjangan pembangunan daerah. Konsepsi membangun dari pinggiran, pembangunan dari daerah – daerah terluar dan perbatasan dan juga kebijakan BBM satu harga adalah contoh paling nyata bahwa pemerintah serius mengatasi ketidak adilan sosial. Selain itu potensi dan ide- ide separatisme hanya muncul di sedikit daerah. Itupun sebagian besar karena alasan kesenjangan ekonomi. Jadi sabuk- sabuk pengikat NKRI diperhatikan betul oleh Pemerintahan Jokowi. Tidak ada satu pun pemimpin nasional kita yg pernah mendatangi dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote,” jelas Budi.

“Faktor terakhir adalah intervensi asing. Tapi untuk kepentingan apa mereka menginginkan Indonesia bubar? Potensi intervensi asing paling besar di Papua. Di perbatasan Kalimantan untuk kepentingan ekonomi seperti perdagangan narkotika dan penyelundupan. Sebagian besar karena faktor- faktor ekonomi. To big to fail. Indonesia adalah negara besar yg bila pecah justru akan mengancam stabilitas kawasan dan perdamaian dunia,” jelas Budi.

“Jadi apa yg sudah dilakukan pemerintahan Jokowi justru memperkokoh persatuan dan kesatuan kita sebagai bangsa. Rakyat semakin cerdas. Rekayasa- rekayasa adu domba sosial dengan tindakan teror terhadap ulama dan tokoh agama sudah terbaca motif dan dalangnya. Kita harus bersikap sebagai warga sebuah bangsa besar. Ide- ide separatisme, disintegrasi bangsa kan produksi lokal, ” pungkas Budi.

Popular

To Top