Pemimpin Defisit Integritas

30
pemimpin
Ilustrasi (lakonhidup.com)

Pemilihan presiden dan wakil presiden yang akan digelar pada 17 April 2019 sudah di depan mata. Pelbagai manuver sudah dilancarkan oleh masing-masing kubu untuk menarik simpati masyarakat pemilih. Sayangnya, yang muncul ke permukaan bukan program ataupun gagasan, melainkan perdebatan bahkan caci maki dari masing-masing kubu yang hingga detik ini banyak menghiasi media massa, khususnya media online dan media sosial. Hampir setiap hari masyarakat disuguhkan berita bohong dan fitnah yang diduga diproduksi oleh para tim sukses dua pasangan calon presiden. Hal ini justru berdampak destruktif dan tidak mendidik masyarakat.

Ada harapan Pilpres tahun ini benar-benar membawa perubahan signifikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara—baik di bidang hukum, politik, sosial, dan ekonomi. Masyarakat sudah cukup cerdas membaca situasi yang penuh dengan ketidakadilan yang justru banyak  melukai hati nurani publik.

Di tengah situasi bangsa yang sedang mengalami defisit integritas, masyarakat sangat merindukan pemimpin yang tegas untuk menyelesaikan segala persoalan bangsa. Ketidakadilan dalam penegakan hukum, kesenjangan ekonomi, korupsi yang semakin membudaya—Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia pada 2018 berada di posisi 89 dari 180 negara, radikalisme, terorisme dan separatisme adalah sederet persoalan bangsa yang harus menjadi perhatian serius presiden terpilih nanti. Tanpa ketegasan seorang pemimpin, pelbagai persoalan ini akan semakin pelik dan bisa menimbulkan konflik di tengah-tengah masyarakat.

Dalam bidang hukum, misalnya, seakan tampak jelas penegakannya tebang pilih, tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Belakangan ini hukum dinilai oleh banyak kalangan hanya menjadi alat penguasa untuk menekan pihak oposisi dan melindungi kawan. Artinya, hukum dapat dibelokkan sesuai keinginan penguasa. Melihat fenomena ini, pakar hukum pidana, Profesor Andi Hamzah dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) beberapa waktu lalu menyatakan bahwa penegakan hukum kita saat ini sangat buruk dan cenderung tidak independen. Sementara Mahfud MD menegaskan bahwa negara ini hanya akan maju secara lebih signifikan kalau hukum ditegakkan.

Baca Juga:  Social Media untuk Politisi

Persoalan lain di bidang ekonomi adalah daya beli masyarakat yang semakin menurun, pengangguran yang relatif tinggi dan kesenjangan kaya-miskin masih tajam di tengah tampilan angka-angka pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan tersebut sungguh mengesankan karena hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Sumber daya alam yang melimpah seharusnya dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat juga banyak dikuasai pihak asing.

Harapan Baru

Indonesia adalah bangsa besar yang terdiri dari beragam suku, bahasa, dan agama. Karena itu, dibutuhkan pemimpin yang berwawasan luas, amanah, dan mampu memberikan rasa aman bagi rakyatnya. Maju atau mundurnya sebuah bangsa sangat bergantung pada kualitas pemimpinnya. Rakyat sangat merindukan pemimpin yang berintegritas, bukan pemimpin yang gemar pencitraan, apalagi menebar cerita-cerita fiktif yang tidak sesuai dengan realitas.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), integritas didefinisikan sebagai mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran.

Dalam konteks politik, moralitas pemimpin memiliki kedudukan yang sangat penting karena hal ini menjadi parameter untuk menilai apakah ia pantas atau tidak memimpin republik ini. Dengan moralitas yang di milikinya seorang pemimpin akan mampu bertindak dan membuat kebijakan yang memihak pada kepentingan rakyat, bukan kepentingan pribadi ataupun partainya.

Perhelatan akbar Pilpres 2019 mesti dimanfaatkan sebaik mungkin oleh seluruh warga negara untuk memilih kandidat terbaik di antara dua pasangan calon (Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi). Pilihlah pemimpin yang selalu berpijak pada moralitas dalam pengambilan keputusan, sebab moralitas pemimpin akan berdampak pada tatanan kehidupan berbangsa yang pada gilirannya akan dinikmati oleh masyarakat itu sendiri.

Jangan sampai tertipu dengan janji-janji dan segala bentuk pencitraan yang sering kali kontras dengan fakta di lapangan. Mari kita cermati rekam jejak, integritas, dan gagasan besar bagi kemajuan Indonesia di masa mendatang. Pemimpin berintegritas adalah pemimpin yang satunya kata dengan perbuatan, konsisten antara sikap dan tindakan serta tidak kenal kompromi. Bangsa besar seperti Indonesia sangat membutuhkan sosok pemimpin yang tegas, bukan pemimpin ‘boneka’ yang bisa diatur oleh menteri dan ketua umum partai pendukungnya.

Baca Juga:  Refleksi HAM: Marhaenisme, Ajaran Sukarno Tentang Kemanusiaan

Pemilihan Presiden kali ini menjadi harapan baru bagi masyarakat karena akan menentukan masa depan bangsa Indonesia. Dengan konstelasi politik dan tantangan global, kita bukan hanya butuh presiden tetapi sosok pemimpin yang mampu mengatasi segala persoalan bangsa sekaligus membawa perubahan signifikan demi terwujudnya bangsa yang maju, adil, dan makmur.

Penulis & pendiri YAMURI