Penundaan Laga Persija vs Persib Bukti Penyelenggara Tidak Profesional

562

SERIKATNEWS.COM- Penundaan laga Persija Jakarta melawan Persib Bandung menimbulkan kontroversi. PT Liga Indonesia Baru selaku operator Liga 1 dianggap telah melanggar regulasi.

Laga Persija vs Persib dijadwalkan digelar malam tadi, Sabtu (28/4/2018), di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK). Namun pihak Kepolisian mengaku sulit untuk memberikan izin karena berdekatan dengan Hari Buruh pada 1 Mei.

Direktur Utama Persija sempat mengungkapkan laga tunda akan digelar pada 3 Mei. Akan tetapi PT LIB hingga saat ini belum memberikan pengumuman secara resmi.

Keputusan tersebut menimbulkan dugaan adanya konspirasi. Penundaan itu juga dianggap tidak masuk akal, apalagi jarak antara hari buruh dengan pertandingan cukup berjauhan.

Pengurus Save Our Soccer (SOS) Akmal Marhali menilai PT LIB telah melanggar regulasi jika memang laga tersebut ditunda. Keputusan itu juga tentu merugikan banyak klub dan membiarkan kabar negatif makin meluas.

Baca Juga: Liverpool, Mo Salah dan Liga Champions

Dijelaskan dalam regulasi Liga 1 pasal 9 ayat 6 tentang jadwal pertandingan, bahwa perubahan jadwal pertandingan dapat dilakukan LIB selambat-lambatnya 7 hari sebelum hari pertandingan dengan alasan sebagai berikut:

a. Keamanan b. Untuk menyesuaikan dengan jadwal siaran langsung televisi c. Jadwal pertandingan yang telah ditetapkan bersamaan dengan berlangsungnya suatu agenda sepakbola internasional e. Jadwal pertandingan yang telah ditetapkan bersamaan dengan berlangsungnya agenda sepakbola nasional/daerah.

Khusus terhadap kondisi force majeure LIB dapat melakukan perubahan jadwal di setiap saat. Di ayat 7 juga menjelaskan klub tuan rumah dari pertandingan tertentu hanya dapat mengajukan permohonan perubahan jadwal pertandingam atas dasar tidak diperolehnya izin keamanan.

Pertandingan dari Kepolisian selambat-lambatnya sebelum hari pertandingan yang telah ditetapkan oleh LIB hanya karena alasan perizinan dari Kepolisian untuk selanjutnya mendapatkan persetujuan atau penolakan dari LIB.

Baca Juga:  KOI Sesalkan Kesalahan Bendera Indonesia di Buku Panduan SEA Games XXIX/2017 Kuala Lumpur, Malaysia

“Lebih buruknya lagi perubahan ini membawa sentimen negatif kepada PSSI dan LIB. Ada yang bilang konspirasi, ada yang bilang proxy Glen Sugita kalah dari proxy Joko Driyono. Sudah menjadi rahasia umum pemegang saham Persija adalah Joko Driyono sementara Persib adalah Glen. Sentimen negatif ini tak bisa dihindari apalagi ketika sejumlah kontroversi terjadi tanpa bisa dijelaskan secara transparan,” dia menambahkan.

“Alasan may day kurang kuat karena baru terjadi tiga hari usai pertandingan awal. Ini penting agar kedepannya siapapun yang kelak juara mereka memang berhak mendapatkannya dan tidak selalu dikaitkan dengan siapa di balik layar.”

“Tapi, yang penting untuk disampaikan adalah agar setiap keputusan tidak memunculkan banyak persepsi negatif sudah waktunya pejabat PSSI dan LIB yang rangkap jabatan di klub untuk melepas salah satunya demi sepakbola yang profesional dan bermartabat.”

“Jangan sampai sepakbola Indonesia kehilangan kepercayaan dan terjadi pembusukan. Yang juara tidak mendapatkan kebanggaan karena selalu dikaitkan dengan aktor di belakang layar,” tutup Akmal.

Senada dengan Akmal, Ketua Umum Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI) Ignatius Indro menyesalkan penundaan pertandingan ini yang semakin menggambarkan ketidaksiapan PSSI dan PT LIB sebagai pihak penyelenggara.Liga 1.

“Pihak penyelenggara dalam hal ini PSSI dan juga PT LIB, seharusnya telah merencanakan segala sesuatunya selama 1 musim pelaksanaan kompetisi. Termasuk masalah-masalah yang terkait dengan keamanan, jadwal pertandingan maupun hal-hal lainnya. Penyelenggara harus bisa melakukan koordinasi dengan pihak-pihak berwenang”

Ia menilai alasan Mayday tidak bisa gunakansebagai alasan untuk menunda sebuah pertandingan karena Mayday adalah acara tahunan yang bukan masuk dalam kategori extra ordinary.

“Kita bisa bandingkan dengan Liga Inggris, disana saat hari besar Natal dan Tahun baru ada istilah Boxing Day, dan tidak tertutup kemungkinan disitu ada pertandingan 2 tim dengan rivalitas yang tinggi, seperti Manchester United versus Liverpool, atau Arsenal versus Tottenham Hotspurs. Saya pikir pertandingan Persija versus Persib dekat dengan Mayday tak jauh beda dengan Boxing Day. Dan itu semua tergantung kesiapan penyelenggara dalam menjamin keamanan dan kenyamanan supporter bukan malah menghindar tanggung jawab dengan menunda pertandingan” ujar Indro yang juga Ketua Bidang Pemuda dan olahraga Rumah Gerakan 98 ini.

Baca Juga:  Edy Rahmayadi, Anda Telah Gagal Sehingga Korban Berjatuhan!

Indro menambahkan seharusnya PSSI maupun PT LIB harus bisa menjalankan kompetisi yang lebih professional dan juga melakukan pendidikan kepada para supporter agar tidak terjadi kekerasan antar supporter.

“Profesionalisme pelaksanaan liga penting, namun juga tidak boleh dilupakan bagaimana mendidik supporter agar sadar bahwa ada hal yang lebih besar dari rivalitas ataupun sepak bola itu sendiri, yaitu kemanusiaan, dan itu harus tertanam dalam setiap supporter sampai ke akar rumput, sehingga ketakutan-ketakutan yang mengakibatkan penundaan seperti ini tidak terjadi lagi kedepannya” tutup Indro.