Peran Santri di Zaman Now

2588
Ilustrasi gambar m.monitor.co.id

Setiap 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional. Pemerintah Indonesia menetapkan melalui Keppres No. 22 tahun 2015. Penetapan ini disambut baik PBNU karena selama ini santri berperan besar dalam pergerakan perjuangan Indonesia, untuk mencapai kemerdekaan. Merujuk pada sejarah resolusi jihad yang dicetuskan oleh pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 di Surabaya, untuk mencegah kembalinya tentara kolonial Belanda yang mengatasnamakan NICA. KH. Hasyim Asya’ari sebagai ulama pendiri NU menyerukan jihad dengan mengatakan bahwa, “Membela tanah air dari penjajah hukumnya fardlu ain atau wajib bagi setiap individu”.

Seruan jihad yang digelorakan KH. Hasyim Asy’ari itu membakar semangat para santri arek-arek Surabaya untuk menyerang markas Brigade 49 Mahratta Pimpinan Brigadir Jenderal Aulbretin Walter Southern. Jenderal Mallaby tewas dalam pertempuran yang berlangsung selama tiga hari brrturut-turut, yakni 27, 28 dan 29 Oktober 1945. Dia tewas bersama dengan lebih dari 2000 pasukan Inggris yang meninggal saat itu.

Hal tersebut membuat marah angkatan perang Inggris, hingga berakhir pada peristiwa 10 Nopember 1945, yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan. Kemerdekaan Indonesia memang tidak lepas dari para santri dan ulama, karena memang tak hanya tentara yang berperang melawan penjajah. Tercatat banyak ulama dan santri yang ikut berperang untuk mengusir penjajah dari bumi pertiwi.

Jika dulu KH. Hasyim Asy’ari menyerukan jihad adalah membela tanah air dari penjajah, maka kini makna jihad ialah bagaimana santri ikut berpartisipasi aktif dalam pembangunan Indonesia. Lalu bagaimana peran santri hari ini, dalam membangun dan memajukan Indonesia?. Santri mempunyai 6 sikap karakter penting untuk menjadi bagian dari SDM manusia Indonesia yang unggul. Karena 6 sifat ini terbentuk selama bertahun-tahun ketika hidup sebagai santri di pondok pesantren. 6 sikap itu antara lain, sopan santun, disiplin, hidup sederhana, kejujuran, menjunjung tinggi kebersamaan dan terakhir kemandirian.

Baca Juga:  Menyongsong Ekonomi Pancasila Sebagai Jalan Alternatif

Dengan implementasi 6 sifat santri dalam kehidupan sehari-hari. Melawan gaya hidup hedonisme manusia modern, kecurangan akut yang melahirkan korupsi berjamaah, tanpa rasa takut bersalah, mengikis habis egoisme dan ingin menang sendiri, menghidupkan kembali semangat gotong-royong sebagai ciri khas karakter bangsa,  kemandirian yang memupuk semangat bebas finansial, bergerak dengan kaki dan tangan sendiri, berdaulat atas tanah, sumber pangan dan ekonomi sendiri.

Peran santri di zaman now, dengan semua sikap yang melekat pada dirinya, maka ditempatkan di ruang strategis apapun, santri bisa bekerja dengan segenap jiwa dan raganya. Ditugaskan sebagai profesi apa saja, santri mampu memberdayakan dirinya sendiri, terus belajar dan berusaha meningkatkan kapasitas diri. Karena bertolak pada landasan kitab Ta’lim Muta’allim sebagai rujukan mengaji santri, sehingga santri dapat memahami posisi dirinya diantara anggah-ungguh (akhlaq) dan ilmu pengetahuan. Maka dari itu, berbanggalah menjadi santri, karena barokah para kyai, ustadz, guru dan almamater tercinta akan selalu mengikuti kemanapun langkah santri pergi. Selamat Hari Santri Nasional.

Penulis Adalah Aktivis Perempuan, Penggila Baca, Penyuka Sastra dan Hobi Menulis. Tinggal di Indramayu