“Pergi”

670

“We all have our own life to pursue…”
Kalimat itu terus terngiang, bukan karena Sam mengucapkannya berulang kali ketika Bening mempertanyakan hubungan jarak jauh yang akan mereka jalani. Kalimat itu lama-lama terasa sebagai justifikasi akan sebuah perasaan yang mengembara tanpa sekat.

“Jadi kita putus?”, tanya Bening ketika mereka selesai bercinta, berpelukan penuh peluh …
“Kenapa sih kamu selalu ambil kesimpulan yang tak penting?”, balas Sam dengan pertanyaan retorik.
“Kita bisa mendaki Merapi sebelum kamu berangkat?”, ungkit Bening kemudian. Pertanyaan ini sudah 101 kali ia layangkan untuk menguji konsistensi jawaban kekasihnya. Bagaimanapun ia ingin berduaan dengan Sam, yang sudah 3 tahun ini menjadi pelampiasan emosi nya. Emosi senang, emosi sedih, emosi ingin berbagi dan diperlakukan sebagai perempuan seutuhnya…
“Aku usahakan, sayang…”, tutup Sam. Selesai. Inilah jawaban khas laki-laki yang mencari aman.

Dua minggu kemudian…

Persis satu hari sebelum kepergian Sam ke Swedia untuk meneruskan studinya. Semuanya menjadi semakin abu-abu. Perjalanan berdua sebagai penutup romantika remaja sebelum mereka LDR an, tak terwujud. Sam tak sempat meluangkan waktunya bersama Bening. Tak pula pernah berbagi cerita tentang kota Stockholm, tentang perompak Viking pada masa lalu, tentang semenanjung Skandinavia. Pun pendidikan yang akan ia tempuh di Stockholm University. Mata kuliah apa saja yang akan ia ambil. Semester berapa ia akan pulang. Ia sama sekali tak meyakinkan kekasihnya, akan seperti apa hubungan jarak jauh yang mereka jalani. Sam teramat sibuk dengan dirinya. 3 tahun memadu kasih terasa hanya sebuah rekreasi…?

“Aku akan sibuk dengan sekolahku. Kamu juga akan sibuk dengan tesis mu. Kita akan ketemu lagi di Jakarta, pasti, no worries”. Sam berkata dengan penuh kelembutan, meski setengah tak yakin. Memiliki kekasih rupawan, instruktur diving, yang sekarang sedang mengambil kuliah master, jurusan Ilmu Kriminologi, di kampus Salemba, Universitas Indonesia. Teman-teman sekelas Bening adalah para polisi, gagah, ganteng, berpangkat menawan. Siapa yang tak cemburu?

Baca Juga:  Memahami Pelajaran Bu Oka

Di sisi lain, Bening yang suka berpikir pragmatis dan cenderung ekstrim dalam mengambil keputusan, membaca lain sikap kekasihnya itu. Ia ingin melanjutkan hubungan. Tapi tak sedikitpun ia dilibatkan. Ia harus menelan jawaban yang sama setiap kali bertanya. Ia merasa hanya sebagai kekasih bayangan.

Tujuh purnama berlalu…

Meski sibuk dan menjadi larut akan dunia masing-masing, Bening masih menyimpan rasa yang teramat dalam kepada Sam. Di Manila, Filipina, setelah Bening menyelesaikan risetnya tentang penurunan angka kriminalitas dibawah kepemimpinan Duterte, terlintas dalam benak nya untuk menghilangkan penat. Sendiri, ia ke pulau Cebu. Terbang 1.5 jam dari Manila. Malam sebelum tidur, ia menulis di timeline twitter nya …

“Jika aku hujan, turun dari langit.
Aku akan ke sungai,
kemudian ke laut,
menyeberangi samudera,
Menjemput rinduku …”

Kalimat poetic yang ia tulis untuk sang kekasih, tanpa ia berharap akan dibaca dan mendapat balasan, ternyata menjadi pesan terakhir. Pagi itu, ia tak membaca peringatan di emailnya, akan ombak tinggi yang melanda Cebu. Ia hilang terseret ombak. 3 hari kemudian jasadnya baru ditemukan. Terbujur kaku dan terkoyak …

“Own your life”. Bening yang masih meringis melihat kondisi jasadnya mengingat kalimat Sam. Ia berkata kepada ruang hampa. “Samudera .. inilah hidupku sesungguhnya setelah kau pergi. Tanpa tatapanmu, tanpa pelukanmu, tanpa cintamu…”

Di belahan dunia lain, menikmati pemandangan musim gugur yang sangat terkenal di Stockholm, Samudera tengah menyeruput anggur. Aneh. Biasanya ia tak suka manis. Namun kali ini ia memesan Moscato. Aromanya mengingatkan akan wangi keringat gadis pujaannya. Akan desah liar nafas sang kekasih ketika ia tindih dalam romansa yang hanya mereka berdua yang tahu, yang kini tak akan menjelma dari hanya sebatas rindu…

Baca Juga:  Hadiah

Tamat

*Kesamaan nama tokoh pada cerita ini hanya kebetulan semata.

 

Penulis Adalah News Presenter BeritaSatu TV dan Tenaga Ahli DPR RI, Jakarta