Perjuangan Demokrasi Bondan Gunawan dan Gus Dur

340

SERIKATNEWS.COM- Peluncuran Buku Bondan Gunawan berjudul “Hari-Hari Terakhir Bersama Gus Dur” odi Museum Nasional, Rabu malam, Musem Nasional Jln Merdeka Barat Jakarta, (25/7/18.)

Buku terbitan, Penerbitan Buku Kompas (PBK) ini dibedah merujuk pada tema “Demokrasi Politik dan Demokrasi Ekonomi untuk Indonesia Raya” bersama dua pembicara Prof. Dr. Mochtar Pabotinggi dan Dr. Yudi Latief.

Sekilas Biografi tentang Bondan Gunawan, ia adalah seorang Nasionalis sejati, aktif dalam dunia pergerakan di Geraka Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) berkuliah di Universitas Gajah Mada (UGM) Jogyakarta walaupun akhirnya pindah ke Institut Teknik Bandung (ITB) akibat peristiwa G30S/PKI, ia juga mendapatkan curiga-curiga sebagai aktivis pergerkan dan seorang Sukarnois. Beruntungnya ia mendapatkan perlindungan dari Jendral Angkatan Darat Sarwo Edhie sebagai kakak kandungnya.

Dalam buku Hari-Hari Terakhir Bersama Gusdur, ada kutipan menarik dari Almarhum Gus Dur mengatakan bahwa Bondan Gunawan adalah banteng yang berkeliaran diluar habitatnya. Karena latarbelakangnya Kaum Abangan dan bersahabatanya dengan kaum Santri Pesantren.

SerikatNews

Dr. Yudi Latief, Mengucapkan selamat kepada Mas Bondan atas peluncuran buku Hari-Hari Terakhir Bersama Gusdur. Menurut ia buku ini keluar disaat yang tepat, disaat keadaan para Elite Politik ini belingsatan mencari tiket kekuasaan.

Sepintas mengutip perkataan Gus Dur bahwa Bondan Gunawan sebagai Banteng yg berkeliaran karena memiliki afiliasi dan konektivitas. Walaupun ia tumbuh dari stigma-stigma negative kaum nasionalisme Orde Lama, dan juga sebagai seorang yang juga terkoneksi kepada para jendral-jendral Orde Baru walaupun akhirnya ia juga ikut dalam melengserkan Suharto.

Yudi Latief mencoba menyamakan peran Bondan Gunawan dengan H Agus Salim di zaman bergerak, Sama-sama punya afiliasi dan konektivitas luas dalam bergerak. H Agus Salim selalu diterima dimana pun, dalam Serikat Islam dan Partai Liberal Belanda sekali pun.

Baca Juga:  Kepengen Jadi BANSER

Matan Ketua Unit Kerja Badan Pembina Idelogi Pancasila (BPIP) juga mengatakan, Keadaan Indonesia pasca Reformasi, Demokrasi dipilih karena sebagai sistem yang keburukanya paling sedikit, karena Demokrasi adalah Goverment Peopole, tapi sekarang Demokrasi sedang mengalami dalam dua krisis, yaitu kerisis legitimasi dan krisis efisien.

Bagi Yudi Latief mengutarakan, Politik hari ini hanya semata sebagai alat atau sarana perjuangan jabatan, tetapi politik sebagai polic atau sebuah aturan tidak bekerja hari ini.

Ia mengatakan Demokrasi syndrom atau bisa dibilang kelelahan demokrasi, disebabkan oleh faktor elite yg tidak bertanggng jawab, akhirnya populisme dan menguatnya sayap sayap kanan seperti di Eropa. Karena kelemahan demokrasi itu sendiri.

Buku ini juga dilengkapi kisah-kisah persahabatan Bondan dan Gus Dur yang berjibaku merintis tegaknya Demokrasi di Indonesia, dengan memprakasai berdirinya Forum Demokrasi (Fordem) tahun 1991, perjuanganya bersama diluar pemerintahan, masa transisi menuju Era Reformasi.

Momen 20 tahun Reformasi menjadi saat yang sangat baik untuk merefleksikan potongan-potongan kisah dan perjuangan kita sebagai bangsa selama ini, sembari memberi bekal bagi generasi muda. Ucap Bondan.