Pesantren Itu Cakrawala Dunia

242
Foto Sumber saif569.wordpress.com
Foto Sumber saif569.wordpress.com

Pesantren selain tempat mencari ilmu agama, juga mengajarkan kemandirian, mengelola rasa, serta solidaritas atas kesamaan mencari ilmu jauh dari rumah. Terdapat istilah di dinding pesantren “Utkuru Mako Sidakom Minal Buyut” ingatlah tujuan dari rumah apa. Ketekunan seorang santri, sangat urgen di pesantren, untuk menggali ilmu, memperdalam, bergulat dengan waktu, serta kedisiplinan dan ketertiban.

Mengenal pesantren, mengenal dunia, beberapa latarbelakang ada di dalamnya, suku, ras, bahasa yang berbeda, mencerminkan kekayaan, interaksi tidak membatasi antara satu dengan yang lain, keakraban pun begitu cepat terjadi, kelucuan pun gemar terjadi. Kata KH. Saifuddin Zuhri, “Mereka adalah orang-orang yang telah banyak berbuat untuk bangsanya, untuk tanah airnya, dan untuk negaranya dengan bekal-bekal yang mereka peroleh dari pesantren. Mereka berbicara kepada bangsanya, kepada negaranya, ya, bahkan kepada lawan, dan musuh sekalipun, dengan memakai ’bahasa pesantren.’
Orang-orang dari pesantren itu adalah warga masyarakat kita… Mereka bukanlah segolongan manusia yang mengasingkan dirinya… Orang-orang dari pesantren adalah kita-kita juga. Jika saja seolah-olah ada tabir pemisah, barangkali sebabnya karena masing-masing disibukkan oleh dunianya sendiri, hingga terlengah untuk memahami.”

Terbukti banyak orang-orang lulusan pesantren mampu bersaing dan mampu beradaptasi, untuk melakukan perubahan, dan kemajuan. Seperti Gus Dur, Saifuddin Zuhri, Mahbub Djunaidi, dan banyak yang lain lain. Selain penerapan diri, dengan belajar tirakat, belajar Qona’a, pesantren mengajar etika yang menjadi prioritas, kitab kitab kuning yang begitu lengkapnya, dari A sampai Z, menjadi hidangan setiap hari.Pesantren punya tradisi yang kuat, yang di pegang teguh, “Menjaga tradisi lama yang baik, dan mengambil tradisi yang baru yang lebih baik” pertama ini bukti pesantren melestarikan tradisi, menjaga, tidak gampang lupa, dan tidak menjadi pelupa, simbol “melawan lupa” itu di tanamkan sejak dini di pesantren, kedua mengambil yang baru, yang lebih baik, ini bukti bahwa pesantren itu dinamis, terhadap perubahan itu sendiri.

Baca Juga:  Garuda Indonesia Resmi Operasikan Layanan Vintage

Pesantren yang terkenal dengan kitab kuningnya, menjadi pegangan untuk membuka cakrawala dunia, dan jendela dunia, kelengkapannya pun tidak di ragukan lagi, sejarah, filsafat, sosial, logika, sastra, matematika, dan lain lain, ini yang membuka keluasan akses pengetahuan, kedalaman berpikir, namun tidak berhenti disitu, di uji juga bagaimana membaca kitab, yang begitu sulit, dan harus menguasai ilmu alat, bahasa arab, dan harus memperhatikan redaksinya (Siakul kalam), bukan hanya membaca tapi tingkat pemahaman menjadi keharusan. Habermas sebagai bapak post modern “Konsep pengetahuan itu harus dialogkan, atau sifatnya konvensional” pesantren itu punya cara memutuskan hukum dengan musyawarah (basul masail), untuk melahirkan hukum hukum sesuai dengan kebutuhan zaman, pesantren itu tidak kaku, dimanis melihat situasi dan perubahan.

Peran pesantren yang membuka cakrawala berpikir, tidak lepas dari proses belajar yang sangat di tekankan, dan pemerataan dengan cara menghafalkan menjadi kewajiban, dari situlah cakrawala pengetahuan para santri terbuka, seperti hal membuka jendela dunia. Mengajarkan jiwa yang penuh optimisme, dan menjunjung hidup bersama. Cara pesantren mendidik santri, melampaui zaman dan masa lalu tetap menjadi gambaran terhadap langkah langkah bertindak atau melangkah kedepan.

Pemimpin Redaksi SerikatNews.com