Pokoknya Jokowi yang Salah Titik

702
jokowi
Ilustrasi (asumsi.co)

Semakin mendekati Pilpres, suhu politik semakin panas. Saling melemparkan hoax dan menyalahkan satu sama lain semakin beringas saja. Meskipun tampak vulgar, saling melemparkan kesalahan ini terus terjadi, padahal sudah banyak orang dan juga tiga emak yang ditangkap gara-gara hoax yang tidak masuk akal.

Ketika debat Capres putaran kedua kemarin, Prabowo menyalahkan Jokowi karena bagi-bagi sertifikat sehingga tanah negara bisa habis.

Saat Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief ditangkap di hotel Peninsula Jakarta gara-gara nyabu, Jokowi disalahkan juga. “Andi Arief cuma jadi korban kegagalan pemerintah Joko Widodo dalam pemberantasan narkoba di Indonesia,” ungkap Waketum Gerindraa Arief Poyuono kepada wartawan.

Kemudian saat pesawat Sriwijaya air yang ditumpangi Ketua DPP Partai Demokrat, Jansen Sitindaon, mengalami delay, lagi-lagi Jokowi yang disalahkan. “Sriwijaya sudah diambil alih Garuda, sudah perusahaan pelat merah ini. Jadi Bu Rini Suwandi, tolong lihat ini, saya minta Menteri BUMN lihat ini, Direktur Utama Garuda lihat ini. Kalau perlu Pak Jokowi, lihat ini Pak Jokowi!” ucapnya. “Jangan dianggap karena saya oposisi kemudian saya dianggap cari-cari persoalan. Tidak, ini fakta,” tambah Jansen (detik.com).

Jokowi lagi!

Membaca kegaduhan politikus yang terus-menerus menyalahkan Jokowi, saya jadi bertanya-tanya apakah tugas presiden di Indonesia itu seperti pekerja serabutan? Pernah melihat iklan begini? Dicari tenaga serabutan. Apa maksudnya? Disuruh apa saja harus dikerjakan. Dalam bahasa manajemen Sumber Daya Manusia, job desk-nya tidak jelas, Yang jelas harus memenuhi semua permintaan atasan atau bosnya. Jika perlu menjadi baby sitter anak atau cucu bosnya.

Kalau semua pekerjaan harus dilakukan oleh presiden, lalu untuk apa dibentuk kabinet dan jajaran di bawahnya? Untuk apa ada dirjen ini dan dirjen itu? Bayangkan saja seorang direktur utama di sebuah perusahaan harus memimpin rapat, namun sebelumnya harus mempersiapakan segala sesuatu: menghubungi satu per satu karyawan yang diajak meeting, mempersiapkan ruang rapat sampai membuatkan kopi dan teh serta cemilan bagi peserta rapat. Alih-alih rapatnya sukses, yang terjadi  malah perusahaan bangkrut gara-gara dirut salah menempatkan skala prioritas.

Baca Juga:  Minangkabau Pasca PRRI

Apakah rakyat Indonesia senang jika Jokowi menerapkan sistem ‘one man show’? Apa saja diurusi mulai dari memimpin rapat kabinet sampai mengecek betul tidak ada tempe setipis ATM? Atau harga telur di pasar berapa ya? Kemudian saat pulang larut malam, bahkan dini hari, dalam kondisi mengantuk, membangunkan Iriana dan bertanya, “Apa betul harga telur naik terus?” Jika ini yang terjadi, bukan harga telur yang naik tekanan darah presiden pun bisa melonjak.

Tempe Lagi!

Saya menyaksikan pameran produk herbal dan organik, saya berdiri di sebuah stan penjual obat yang katanya bisa menurunkan tekanan darah tinggi. “Hai Pak Xavier, tumben bisa santai di Mal?” ujar seorang ibu yang melihat kesibukan saya selama ini.

Ketika ngomong-ngomong soal kesehatan, saya berkata kepada ibu itu, “Ibu tahu enggak bahwa tempe bisa menjadi pemicu tekanan darah tinggi?”

Sambil menggeleng ibu itu bertanya, “Ah, masa sih? Kok bisa?”

“Coba mulai besok pagi, Ibu masakkan suami Ibu dengan menu tempe. Lakukan berturut-turut selama seminggu, pasti tekanan darah suami Ibu naik. Suami ibu akan menggebrak meja makan sambil teriak, ‘Tempe lagi! Tempe lagi!’”

Penjelasan saya itu membuat ibu itu tertawa terbahak-bahak.

Lagi-Lagi Jokowi!

Apa jadinya jika seseorang disalahkan terus-menerus? Jengkel bukan? Istilah ‘genderuwo’ dan ‘sontoloyo’ itu Jokowi ungkapkan karena ada orang-orang tertentu yang  pekerjaannya hanya mencari-cari kesalahan orang.

Respons orang beragam. Ada yang berkata, “Ah, ternyata bisa galah juga.” Yang sinis berkomentar, “Sifat aslinya muncul!” Benarkah Jokowi seperti itu?

Erick Thohir yang dekat dengan Jokowi mengatakan bahwa pada dasarnya Jokowi itu orang yang santun dan egaliter. “Tapi beliau akan galak, kalau kita enggak kerja. Beliau (juga) galak juga bila kita hanya membuat happy-happy. Enggak suka dia. Dia (juga) tahu kalau ada yang bohong,” paparnya (detik.com).

Baca Juga:  Jokowi Sang Heavy Metal Presiden dan Sepak Bola Heavy Metal ala Jurgen Klopp

Semut pun diinjak akan menggigit. Apalagi Jokowi dan kita. Saya pernah membaca satu artikel entah di  mana yang mengatakan bahwa kemarahan orang yang sabar justru lebih berbahaya. Jokowi ingin tampil natural. Bukan pencitraan, apalagi menjelang pemilu.

Seorang sahabat berkata, “Jika kita menuding kesalahan orang lain dengan jari telunjuk, tiga jari yang lain—jari tengah, jari manis, dan kelingking—mengarah ke diri kita.” Saya tambahkan dan ibu jari menunjuk ke atas atau Tuhan. Jadi orang yang menyalahkan orang lain terus atas setiap persoalan ujung-ujungnya akan menyalahkan Tuhan juga. Lebih parah lagi kalau sampai berkata, “Coba seandainya Tuhan tidak izinkan orang itu lahir, dia tidak akan melakukan kesalahan.”

Tuhan Bukan Saja Diacam Tapi Juga Disalahkan

Ilustrasi orang yang suka menuding orang lain dengan jari telunjuk itu mengingatkan saya saat Hawa jatuh dalam dosa yang kemudian menyeret Adam melakukan hal yang sama. Coba perhatikan percakapan berkut:

Tuhan: “Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?”

Adam: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.”

Ketika Tuhan menginterogasi Hawa, apa yang terjadi?

Tuhan: “Apakah yang telah kauperbuat ini?”

Hawa: “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.”

Saya membayangkan seandainya Tuhan menginterogasi ular, bisa saja ular berkata, “Mengapa Engkau menciptakan aku sehingga aku menggodai manusia?”

Lalu, siapa yang salah? Tuhan! Alangkah beraninya kita berpikir buruk tentang Tuhan!

Pola Pikir Terbalik

Coba kita renungkan. Mengapa di zaman Jokowi banyak pejabat, selebriti dan tokoh masyarakat yang tertangkap mengonsumsi narkoba? Bukan karena pembiaran, melainkan justru karena semakin giat melakukan operasi sehingga banyak yang tertangkap. Saat dituduh mengigau oleh Jubir Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi Ma’ruf, Ace Hasan Syadzily, Waketum Gerindra Arief Poyuono tetap  menyalahkan Jokowi. “Maka korban dari peredaran narkoba yang kayak model Andi Arief hingga berjumlah jutaan. Nah kok kami bilang Andi Arief korban kegagalan Joko Widodo dalam hal pemberantasan peredaran narkoba, banyak yang tim sana enggak nyampe pikirannya ya, di mana pengguna narkoba yang korban peredaran narkoba disebabkan oleh gagalnya pemerintah. Nah itulah pemberantasan narkoba itu dalam sebuah negara merupakan tanggung jawab seorang Presiden dalam melindungi warga negara dari kerusakan-kerusakan jiwa dan mental akibat narkoba.”

Baca Juga:  Daendles, Raffles dan Kolonialisme

Pola pikir ini seperti ketika seorang pencuri mobil yang mau ditangkap polisi ngebut di jalan dan kemudian menabrak tiang listrik, maka yang disalahkan adalah polisi dan tiang listriknya. Seorang rohaniwan pernah berkata, “Kita tidak bisa mencegah burung terbang di atas kita, tetapi kita bisa mencegahnya agar tidak bersarang di kepala kita.”

Demikian juga dengan korupsi. Prabowo berkata bahwa korupsi zaman now—seperti kanker—sudah stadium empat. Mengapa ada orang berkata seperti itu? Karena di zaman Jokowilah KPK semakin bertaring. Tentu saja semakin banyak koruptor yang tertangkap. Apa di zaman orba dan presiden-presiden sebelumnya korupsi lebih sedikit? Tidak! Jawaban yang benar, karena lebih sedikit yang ketahuan dan ditangkap. Meminjam istilah Gus Dur, begitu saja kok repot. Bisa kita modifikasi, begitu saja kok tidak mengerti.

Penulis Pelukis Kehidupan di Kanvas Jiwa