Opini

POLITIK PEMUDA DAN PEMBASISAN POLITIK

Foto: Dokumen Pribadi

Oleh : Drg. Hj. Andi Fauziah Pujiwatie Hatta, S.K.G.

Pemuda adalah penggerak bangsa. Begitulah pernyataan yang seringkali terdengar setiap tahun dalam rangka peringatan sumpah pemuda, sebagai momentum “pengingat” bagi kaum muda Indonesia, membangun kesadaran nasional dan kecintaan tanah air. Bahkan pula menjadi ajang konsolidasi kritis pada kondisi kebangsaan, dengan kemasan pernyataan politik yang diarahkan kepada pemerintah maupun kepada kekuasaan lokal.

Jumlah pemuda di Indonesia menurut data Badan Pusat Statistik sebesar 62,4 juta jiwa pada tahun 2015 atau 25% dari total penduduk Indonesia, dan diperkirakan saat ini bertambah, seiring dengan proyeksi pertambahan usia produktif di Indonesia, berdasarkan analisis Bank Dunia terhadap trend bonus demografi Indonesia. Jika saja jumlah pemuda tersebut secara massif berperan positif dalam Politik Nasional, maka perkembangan modernisasi politik akan semakin cepat dan berkontribusi pada kemajuan negara.

Modernisasi politik dapat diartikan sebagai perubahan kondisi politik yang berkemajuan, disertai menguatnya partisipasi politik dan pengambilan keputusan terbaik bagi rakyat. Perubahan yang menempatkan rakyat sebagai warga negara memiliki kesadaran politik dan keputusan atas kerja-kerja dalam pembangunan. Dalam konteks ini, pendorong utama diperlukan dan dikerjakan oleh pemuda melalui pergerakan nyata dari tingkat lokal hingga nasional.

Selama 30 tahun di masa orde baru yang lalu, pembasisan politik dilakukan oleh mesin kekuasaan yang kuat, hingga sampai kampung dan rumah tangga. Perangkat teritorial yang di operasikan melalui program pembangunan dengan pengawalan wilayah oleh perangkat sipil pemerintah dan militer saat itu. Sistem pembasisan politik yang terorganisir kuat dengan segala aspek dan kuasa atas sumberdaya. Hal ini memanfaatkan hubungan patrimonial dalam budaya bangsa, yang memperkuat relasi patron klien, antara pemerintah penguasa dan rakyat. Saat itu, pemuda adalah riak-riak kecil dalam pemberontakan kesadaran yang diwakili kaum mahasiswa.

Pasca reformasi, kondisi perpolitikan Indonesia menunjukkan peta jalan yang cukup panjang bagi kaum muda, meskipun peluang dan tantangan dalam setiap periodisasi politik (pemilu), menunjukkan trend positif. Adanya mainstream yang memunculkan figur-figur baru dalam kancah perpolitikan nasional, contoh nyata dari hal ini adalah keterpilihan pemuda di parlemen dari mulai DPRD kabupaten, DPRD propinsi hingga DPR RI., bahkan juga terpilih menjadi kepala daerah.

Keterbukaan informasi melalui media sosial, berperan besar pada mainstream baru tersebut. Arus besar pemuda yang mendorong bentuk dan model baru pembasisan politk massa. Kampanye tidak sekedar lagi melalui panggung-panggung terbuka, beserta penyanyi dangdut yang mengiring. Tetapi, kampanye kesadaran melalui jejaring media sosial dengan berbagai bentuk pembentukan opini politik dan kuasa keterpilihan. Bahkan hal ini sangat disukai oleh pemilih, ibarat bertatap muka tanpa bertemu wajah.

Mengapa pemuda menjadi sangat penting dalam pembasisan politik. Terdapat 3 (tiga) hal penting yang perlu dicatat adalah, pertama, pemuda seringkali membentuk jejaringnya sendiri, sebagai bentuk ikatan emosional bahkan ideologis. Ikatan emosional yang ditunjukkan dengan gaya / style yang sama, kesukaan / hobby yang sama, bahkan berkelompok guna mempengaruhi orang-orang disekitarnya untuk turut serta terlibat berpartisipasi.Partai politik sangat memerlukan partisipasi pemilihnya.

Kedua, pemuda memiliki inovasi dan kreasi sendiri, sebuah orisinalitas (keaslian) yang dimunculkan secara tiba-tiba (spontanitas), baik dalam bentuk ide/gagasan kritis maupun aktivitas baru yang menampilkan perbedaan atau pembeda dari orang lain. Hal-hal baru menjadi ciri khas pemuda dalam aktifitas keseharian. Dalam isu politik, faktor pembeda menjadi sangat berpengaruh.

Ketiga, pemuda memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi atas perubahan yang begitu cepat, bahkan pada saat krisis terjadi. Jika anda melihat situasi bencana, maka akan sangat jelas terlihat yang terdepan dan paling cepat bergerak adalah pemuda, bahkan dalam situasi krisis politik pun, niscaya pemuda akan mengambil bagian penting dari kondisi tersebut. Seorang Ir.Soekarno, presiden pertama Indonesia, memulai mengambil bagian penting dalam krisis politk bangsa saat beliau masih pemuda.

Pembasisan politik sangat diperlukan sebagai bentuk pendidikan politik bagi warga negara, suatu situasi yang dikreasikan melalui pendekatan dan strategi dalam memenangkan kepentingan rakyat. Pelibatan penuh (partisipasi) pemuda diperlukan dalam mempertemukan kepentingan politik rakyat atas aspek pembangunan, dengan kepentingan organsiasi politk (partai dan sayap organisasi). Pemuda dalam proses ini menjadi pilar pendorong terjadinya gerakan pembasisan politik bagi warga negara.

Berbagai jejaring pemuda telah terlihat disegala lini, namun demikian memerlukan arah dan proses lebih tajam kepada kepentingan warga negara, salah satuya dalam hal ini dapat memanfaatkan teknologi dan informasi yang disertai keakuratan data, agar lebih operasional mempertemukan berbagai kepentingan di tingkat lokal. Misalnya, terdapat oganisasi kerukunan daerah dan organisasi mahasiswa di berbagai media sosial, yang memerlukan jembatan kepentingan politik, baik melalui paket program pendidikan politik kepemudaan maupun peningkatan ekonomi warga negara.

Proses pembasisan politik tersebut akan menjadi modal pembelajaran bagi pemuda, hingga mencapai kematangan dalam berpolitik yang santun dan mengedepankan kepentingan rakyat (konstituensi) dalam berdemokrasi.

Pada akhirnya, saya selalu meyakini bahwa setiap partai politik saat ini menyadari pentingnya pemuda dalam mendapatkan kesempatan berpolitik, bukan lagi hal yang ‘tabu” dalam berpolitik, sebagai bentuk pendidikan bagi warga negara. Perekrutan dan penggalangan pemuda bersama jejaringnya diperlukan, untuk memunculkan tokoh-tokoh muda dalam bingkai politik di negara ini. Kesempatan selalu terbuka untukmu wahai pemuda.

*Penulis Adalah Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi Partai Golkar

To Top