Puisi Iqbal Nurul Mashun

376

Tanah Kami

Tanahku,
membayangkan tentang kemakmuran
dan kesuburanmu,
aku menaruh harap dan cita cita
kesucianmu telah ku lukis dalam senja
yang  mewarnai disetiap sudut tanahku,
tanah yang makmur dan sejatra

Oh oh tanahku

kegelisahan hadir seketika disudut sudut
warna dalam senja itu
keringat basah menjadi saksi atas perjuangan, diri
harapan dan doa menjadi nestapa keinginan,
yang menyapa ku dalam lamunan
penantian,
terus kuhadapi disetiap jalan,
menuju panen di masa depan

Kotaku Telah Kau Rampas?

Aku telah perjuangkan hak martabat manusia kini telah punah seketika
Engkau rampas paksa Hak ku
atas dasar pembagunan
kau juga telah menimbulkan menih
kebencian dan kehancuran
kau menghinakan diri atas perintah
biar kau dianggap pahlawan

dimanakah kotaku itu
dimanakah..?
dimnahkah..?

kota yang dibagun dari keringat
kesengsaraan
kini kotaku telah puna dan luluh lantah
menjadi pasir yang menghinakan
tangis dan haru menjadi nestapa
kemiskinan
dimana ayah, ibu, anak, keluargaku mau
tinggal sedangkau kerut semua kekayaanku
kekayaan alamku telah kau jadikan hotel bernama asing
kekayaanku kau rampas atas dasar kepentinganmu

oh oh tuhanku
oh oh tuhanku
tolonglah hambamu
saat ini

mengapa kotaku menjadi wajah wajah
tangisan atas kesengsaraan
kesengsaraan atas kepentingan kota yang jaya dan bermartabat
dengarlah suaraku dengar suaraku
suara yang tak henti henti meminta keadilan
atasmu bongkahan kekayaan.

Penderitaan

Demi penderitaanku, aku titip
setetes air mataku dalam satu sajak
sajak yang tak perna dilihat oleh mata hati
para dewa.
tangisanmu terdengar kecakrawalah,
sanah hinggap diujung samudra
penderitaanmu kini tersebar
keseluruh dunia
menceritakan tentang kehancuran
dan kemiskinan anak manusia
suara reruntuhan terdengar
dimanah dimanah
kehancuran, kesengsaraan, telah
sampai diujung sawah
derek- derek mesin penghancur telah tiba merobohkanku,
rumahku, pepohonanku, sawahku,
ikut serta dirobohkan….demi suatu kesejatraan para dewa.