Puisi Khalid Baladewa

413

BURUH YANG TERLUPA

Mereka membuat mesin waktu
dari usia, keringat dan letih dirimu

Jarum jam bergerak lebih gesit
Lebih tajam menikung
Kamu anggap tuhan yang kejam

Kulitmu berubah menjadi kaca yang mengkilap
Dagingmu menipis
Belulangmu menjadi besi yang keras
Hingga istrimu lupa memanggil
“mas”

Kamu berputar seperti roda
Menjadi mesin penghasil uang
para kuasa
kamu anggap takdir yang tidak sepaham

mari pulang. Terlentanglah di atas dipan
lihat mereka menyulap waktu dengan harga,
dengan emas dan tembaga

masihkah kita manusia!?

2017

DOA BULAN MEI

Tuan
Bibit padi telah tumbuh
Aku menolak beton dan pabrik yang angkuh

2017

WASIAT

Dengar. Dengarlah bisik burung-burung di sisa pohonan
mereka meracau. Menagih hujan pada tuhan
menagih bibit pohon, buah-buahan dan bunga-bunga hutan

Dengar. Dan rasakan kicau pilu burung pipit
dari satu bangunan ke bangunan lain
mencari sisa sawah tempat bermain
dan menunggu padi menguning

Dengarlah seru lelah burung murai
mereka terus berlari dan berlari
dari timah yang mengintainya

Dengar. Dengarlah irama angin musim-musim
suaranya sakau oleh alkohol mesin-mesin
tubuhnya kering dipanggang jalan dan beton

Dengar. Pagi sekali langit dipecah suara bising
burung-burung menepi ke dalam ingatan
kicaunya tertahan dari dalam diam

Dengarlah deru mesin pabrik-pabrik asing
iramanya sumbang tidak karuan
itulah nyinyian edan buat generasi masa depan

Dengar. Dengarlah sapa bisu matahari
yang menanggung perih setiap hari
setelah dibalut asap polusi

Dengar.
dengar. Dengarlah siul nyaring nenek moyang
suaranya tertahan dalam bayang-bayang
Sekarang,
masihkah kamu tidak mau mendengarnya?

2017

PELAJARAN MENGHITUNG

Kamu sudah punya anak dua
setiap sore kamu mengundi kereta dengan angka
karena memang rumahmu di pinggir rel jogja-solo
malamnya kamu pergi ke warung Pak Harto
mebeli nasib anak-binimu pada angka-angka

Baca Juga:  Puisi-Puisi Ivan Aulia

Sepeluh ribu. Dua puluh rimbu. Tiga puluh ribu
harapanmu semakin liar saja
di sakumu tinggal kertas dan pensil tua
uang istrimu yang kamu curi dari tumpukan BHnya
habis sudah
padahal hasil dari memijat tetangganya

Pada jam tiga pagi
kamu pulang dari rumah Pak Harto
membawa kantuk dan setumpuk prediksi
sebelum masuk ke bilik rumahmu ada derit kereta dari solo
kamu bilang pasti
ada lagi dari tugu menuju sorabaya
kamu bilang pasti
lagi, kamu bilang pasti

“Dari mana bang? Seringkali pulang pagi begini.”
istrimu bertanya. Matamu sudah tidak bisa dibuka lagi
kamu tidur hingga sore
istrimu ngomel ini-itu kamu tak tahu
berungtung ia belum ganti BH lagi
maka tak tahu jika uangnya sudah habis diundi

Anakmu yang kedua menangis keras sekali
minta jalan-jalan sore
kamu ajak menyusuri rel kereta
satu, dua, tiga kamu bersura
dan meminta anakmu menirunya
rupanya kamu tidak ingin anakmu bodoh dalam menghitung
angka-angka
seperti dirimu yang selalu kalah olehnya

2017

BUNDA MARIA

Aku rasa warna kulit bundaku mulai berubah:
kuning se kuning padi

Setelah subuh yang jatuh di atas sejadahnya
ia bergegas ke dapur, menyalakan tungku
dan menghangatkan doa untukku

Dengan suaranya yang lembut
ia membangunkan aku dari selubung mimpi yang berkabut
aku merasa
suaranya adalah suara bidadari yang tertahan

Aku merasakan bau tubuhnya seperti
bau jagung di ladang,
bau singkong dan bawang

Aku merasakan matahari membakar seluruh tubuhnya
hingga semakin pucat saja
namun kamu masih rutin ke ladang hingga petang

Aku rasa
puisi-puisi yang kamu tanam di setiap pematang
doa yang kamu petik dari setiap ladang
tumbuh dalam dadaku
mengakar dalam sajakku

Baca Juga:  Pahlawan Devisa (1)

2017

*Penulis Pekerja Kuli Bangunan di Al-Kindi Krapyak