Puisi-puisi Moh Suhdy

134

MAKAN HATI
Setiap kali aku berfikir
Mata tak henti hentinya menatap
Dan hati panas rasa terbakar
Inginnya, aku pergi untuk tidak Mengusik waktu tenangnya

Kerut wajahnya yang membuat aku ragu berkata
Walau hanya sepatah kata penghilang sunyi
Karna keberadaanku, pengusik hari harinya
Walau terkadang aku berfikir lebih baik mati

Yogyakarta, 2018

TAKDIR YANG ANYIR
Tapak kaki jihad bersenandung di atas aspal
Kerikil takdir mengalir berbau anyir
Nistapa pagi terlentang dalam hati
Pikirku masih menuju pada sebuah ilusi

Rel Kereta api yang begitu panjang
Melawan, menerjang, atau terlentang
Tak mungkin kita bisa melawan
Karna takdir sudah menanti dan telanjang

Kita mau mengelakpun tak bisa
Birahi sudah pupus di leher kita
Meneguk ludah sajah tak mempan
Karna lahirku dalam satu nampan

Yogyakarta, 2018
AKU GILA
Hati yang tak tenang
Melihat dia dengan kemenangan
Perhatian pada dia juga yang ingin di sayank
Aku gila
Arahpun berubah sejak di persimpangan bulan lalu
Masa depanpun mengambang di balik ketertinggalan
Tentang sejarah, pancasila, dan hukum negara

Ingin mengasingkan diri
Pergi jauh dari keadaan hari ini
Untuk Memulai hidup baru yang pasti
Tanpa dia yang hanya melupakan hati

Yogyakarta, 2018

SERIBU RASA
Berkecamuk rasa dalam hati
Perang akan muncul akhir akhir ini
Tentang hawa yang datang dengan singkat
Memanjat rasa akan hilang untuk dia

Dia Siapa?
Wanita lugu yang rela menunggu
Dengan serpihan kecil rasa yang kutitipkan padanya
Dengan janji-janji yang menghati
Hingga rasaku padanya terhayati

Tuhan
Lantas Aku harus bagaimana?
Ya sudah.
Aku akan bertahan atas namaMu
Yang ada dalam hatinya
Melihat senyummu,
Memandangmu,
Yang nyaris sempurna

Baca Juga:  Memihak Cara

Terus bagaimana dengan dia yang baru datang?
Ikuti.
Buat dia nyaman
Lepas itu, tinggalkan dia.

Tidak!
Aku sudah bercakap
Bahwa semua ini hanya kebetulan
Merasa nyaman hanya synopsis belaka
Karna tuhan tak lagi ada padanya
Melainkan ada pada dia yang rela menanti

Yogyakarta, 2018

CELOTEH PAGI
Jari jemari lentik berfatwa
Bahwa malaikat sedang tersenyum dalam alam bawah sadar
Mengambang, mengamati sosok pujangga yang sedang merindu
Dengan syair yang menjadi sabdanya di setiap alunan suara dekat meja

Celoteh pagi menjadi irama bulsit
Omong kosong pada lidah bohong
Mengokong tanya jawab lidah yang bolong
Seperti air mengeras tapi mengalir diatas lorong

Kata si-si-si kelas pagi
Hanya mengingatkanku pada kisah lalu
Bersamanya senja dan monumen yang ku rindu

Bagaimana?
Aku tak tahu rasa apa yang hadir pagi ini
Bergelimang
Antara Emas Dan perak
Mana yang ku pilih
Aku bergelimang,
Tentang apa aku tak tahu
Celoteh pagi atau rindu tak aku mengerti

Yogyakarta, 2018

Alumni Teater Kertas Banyuanyar Madura. Aktif di Forum Komonikkasi Mahasiswa Banyuanyar WilayahYogyakarta. Aktif di komunitas Gampoja (Gabungan Anak Muda Ponjanan) Wilayah Yogyakarta.