Radikalisme Sebagai Musuh Kita Bersama

32

Sebelum penulis menjelaskan lebih jauh tentang bahaya radikalisme, akan penulis jelaskan terlebih dahulu mengenai makna radikalisme agar para pembaca lebih jelas lagi memahaminya. Radikalisme berasal dari kata dasar radikal yang merupakan kata sifat. Radikal berarti aksi mencolok untuk menyerukan paham ekstrem agar diikuti oleh banyak orang. Sedangkan radikalisme adalah ideologi yang mempercayai perubahan menyeluruh hanya bisa dilakukan dengan cara radikal, bukan dengan cara evolusioner dan damai. Konon dalam ilmu filsafat, ada juga yang menyatakan radikal itu sebenarnya berasal dari kata radix yang berarti mendasar. Orang yang berpikiran radikal kalau dalam ilmu filsafat berarti maksudnya berpikir secara mendasar. Benar tidaknya hal itu Wallahu’alam, yang jelas dalam tema penulisan saat ini, penulis memahami makna radikalisme dari kamus politik yang bisa jadi maknanya berbeda dengan pemahaman radikal dalam ilmu filsafat.

Seringkali kita dengar ada sebagian kelompok muslim yang tidak menerima jika radikalisme itu disematkan hanya pada kelompok Islam, karena nyatanya radikalisme itu juga bisa saja terjadi di agama dan di negara-negara lainnya yang penduduknya bukan mayoritas muslim. Dahulu di Jerman misalnya, mempunyai jaringan kelompok radikal yang terkenal dengan nama RAF (Red Army Factun) dan Neo Nazi. Rusia mempunyai kelompok teroris yang dinamakan Norodnaya Volya, Jepang mempunyai kelompok radikal atau teroris yang dinamakan Aum Shinrikyo (Supreme Truth), Inggris juga mempunyai kelompok radikal yang dinamakan IRA (Irish Republican Army), Italia mempunyai kelompok teroris radikal ETA, juga Red Brigade. Pendek kata banyak negara dan banyak agama yang mempunyai kelompok radikalismenya sendiri-sendiri.

Namun penulis tidak ingin menerangkan terlalu jauh mengenai organisasi-organisasi radikal itu, penulis juga tidak bermaksud membela atau menolak keberatan sebagian kelompok muslimin yang merasa keberatan terhadap penyematan radikalisme pada kelompok Islam itu, sebab mau dibela atau ditolak nyatanya fakta telah berbicara, bahwa radikalisme tidak hanya terjadi pada penganut agama Islam melainkan juga terjadi pada penganut agama lainnya selain Islam, dan pelaku radikalisme di Indonesia dan di sebagian negara-negara di Timur Tengah nyatanya juga banyak yang beragama Islam. Karena itu berdebat pada persoalan klaim siapa yang benar dalam persoalan ini hanyalah kesia-siaan belaka.

Baca Juga:  Tiang Salib dan Tiang Listrik

Memperhatikan dampak dari perilaku radikalisme lebih menarik untuk penulis bahas, mengapa? Sebab virus radikalisme yang dapat menjangkiti siapapun saja, pemeluk agama, suku dan ras apapun saja ini haruslah yang patut kita waspadai. Bila seseorang sudah terjangkiti virus ini, siapapun bisa dijadikan sebagai target korbannya, tak peduli ia beda agama, bahkan seagamanya sendiri dan sesama saudaranya sendiripun bisa dijadikan target korbannya. Maka jangan heran ada polisi sholat di masjid ditusuk lehernya oleh orang yang sebelumnya sholat disampingnya, ada orang yang tega meledakkan anak kandungnya sendiri untuk membunuh ratusan jamaat yang sedang melakukan ibadah di gereja dlsb. Radikalisme adalah virus penyakit ideologi politik yang sangat berbahaya. Gerakan politik yang berhasil membius kaum cuti nalar menuju kemabukan doktrin agama yang dogmatis. Radikalisme adalah jalan tercepat menuju neraka, namun para pelakunya malah mengira mereka sedang berjalan menuju ke surga. Miris, prihatin dan inilah musuh kita yang sebenar-benarnya.

Waspadai virus radikalisme karena ia bisa menular dan menjangkiti siapapun saja, tak peduli kamu siapa, agamamu apa, suku dan rasmu apa, status sosialmu apa, pendidikanmu sudah setinggi apa. Banyak orang dari berbagai latar belakang agama terjangkiti virus ini, banyak orang dari latar belakang status sosial dan berpendidikan tinggi terjangkiti virus ini. Radikalisme musuh kita bersama ! Waspadalah!

Profesi: Advokat KAI (Kongres Advokat Indonesia). dan Penulis, Serta Pemerhati Politik