Rahmat

114
Sumber : pixabay.com

Oleh ​Ali Mad Alie*

Setiap ciptaan adalah pion bagi penciptanya. Yang hidup akan mati, cepat atau pun lambat, sebab mati datangnya acak, dan misteri.

 “Aku tak tahu kenapa hal itu terjadi, padahal kemarin dia masih baik-baik saja. Seingatku waktu ronda malam dia masih bisa tertawa, bercanda. Lantas sebab apa dia mati, benarkah dia mati ?!”

“Pesugihan.”

“Sihir. ”

Hiruk dari mereka. Suaranya menggema mengelili mayat Rahmat. Takkan ada perubahan. Rahmat tetap mati. Kematian adalah hal yang pasti bukan pilihan lagi, tak ada yang bisamenolak kematian. Tak kan pernah ada. Kecuali Tuhan telah mati. Ya , Tuhan harus mati lebih dulu jika kita tak mau mati.

Sudah ribuan tahun tetap di pertahankan oleh sluruh manusia yang menghuni bumi ini, telah menjadi dokma turun temurun, tutur tinular, sejak masuknya bangsa india ke tanah jawa hal itu juga mulai tertanam di hati dan benak masing-masing manusia, sebuah Mitos. Kepercayaan masyarakat setempat selalu menghubungkan kematian tak wajar dengan sesuatu. Ulah tangan manusia. Sihir. Santet. Padahal sudah sekian kali para tetua adat, pemuka agama berkata bahwa tiada suatu hal pun mengenai kehidupan manusia kecuali haknya ialah milik tuhan. Sudah menjadi rahasia kehidupan bahwa hal itu akan terjadi bagi setiap mahluk yang bernyawa  pun yang tak bernyawa, tuhan tetap akan mengambilnya suatu saat setelah Dia mulai bosan dengan tingkah laku kehidupan.

***

Mana mungkin mereka tak menganggap itu santet, sedangkan kematiannya tak wajar?! Perutnya keluar nanah, paku dan beling. Perut besar layaknya seekor babi kekenyangan. Bunting. Wajahnya memerah, dengan lebam kehitam-hitaman. Tapi tak mungkin tragedi santet itu ada lagi, bukankah telah berakhir sepuluh tahun lalu, lantas siapa yang menyulut kembali? Hal itu yang sekarag menjelma pada pemikiran masyarakat tempor bukho. Desa tempor bukho termasuk desa yang memang terkenal dengan ilmu hitamnya, semenjak dua puluh dekade terakhir. Semua orang tahu , pasti dulu gencar orang mati tidak wajar di daerah tempor bukho, dan pada akhirnya akan ada satu korbn lagi yang akan mati di tangan keluarga yang merasa kesumat lantaran salah satu keluarganya menjadi korban ke ganasan ilmu hitam, dan hal itu sudah biasa,.tapi, kalau sekarang rasanya sudah tidk mungkin, sumitro menjadi orang terakhir yang mati gara-gara menyantet suadara nya sendiri, saudara kandungnya sumo dengan alasan tanah waris dari orang tuanya dan hal itu berlangsung sepuluh taun lalu, selama ini sudah berakhir tentang santet itu. Tapi, kenapa sekarang mulai ke permukaan lagi? Entah lah hanya tuhan yang tahu. Satu hal yang tak pernah berubah dan akan tetap sama pada pemikiran mereka: siapakah pembunuh Rahmat.

Di jalan. Makam. Angkringan. Kaki lima. toko, dan warung. Tak ada yang beda, seluruhnya pakai satu topik , Rahmat dan kematiannya. Dengan begituRahmat tak pernah mati, dia tetap hidup pada bibir mereka. Bibir tetangga, teman ronda dan semua masyarakat. Rahmat menjadi artis saat kematian menjemputnya. Jadi topik pagi yang takkan pernah berakhir pembahasannya bahkan sampai generasi selanjutnya. Kematian yang tak wajar, takkan pernah membawa kita pada kematian, walaupun pada hakikatnya raga kita tak bernyawa lagi. Tapi, hal itu membawa kita hidup kembali pada bibir dan pikiran mereka. Tak terlupakan. Ketika para cendekiawan berkata: dengan menulis kita takkan pernah mati. Rahmat pun demikian, dengan mati tak wajar kita takkan pernah mati. Dia akan menjadi tokoh inspirator hebat yang akan mempengaruhi tema tulisan para penulis.

Mungkin pelakunya juga ikut menyamarkan diri. Ikut mengumbar bersama masyarakat yang benar-benar polos.

***

Dua minggu yang lalu tepatnya hari jumat. Pagelaran itu dimulai. Sebagian warga berpartisipasi sebagian lain melihatnya dengan jijik. Yang lain acuh tak acuh. Pagelaran rutin tiap jumat. Sabung ayam. Terlihat si Jago milikRahmat yang katanya tak ada duanya di kampung ini berkokok tak kalah angkuhnya dengan Rahmat. Supardi kala itu mau tidak mau harus menerima tantangan Rahmat, meskipun dia tahu kalau ayam miliknya tak mungkin menang, tapi mau gimana lagi dia tidak mau dicemooh dan dianggap penakut oleh sesama. Hitungan ketiga ayam itu suadah berada dalam satu arena, mereka sama-sama gagah. Menjaga wibawa. Pertarungan sengit tak ada yang mengalah. Gigih.

“ ayo Jago tumbangkan.”

“ kamu juga harus tunjukkan Merah. Jangan mau kalah sama si Jago.”

“ menurutmu siapa yang menang. ?”

“ pasti si Jago.”

 “ tapi kelihatannya Merah tak akan segampang itu terkalahkan.” KataSlamet.

“ jaga mulutmu, tak tahukah kau pada si Jago ?, dia tak terkalahkan.” KataRahmat membentak. Mendengar kataSlamet. Hatinya serasa panas, ayamnya diremehkan. Kembali suara-suara menggema beterbangan bersama debu langkah mereka, serta kepakan dan benturan sang ayam. Mereka terus memberikan dukungan. Laksana arena piala dunia. Bahkan lebih ramai, tak disangka. Ayam rahmat yang dijagokan menggelepar tanpa nyawa. Miris, darah bercucuran dari kepala, sedangkan dadanya pecah. Merah berkokok berteriak bangga dengan kemenangan itu. Slamet tersenyum lebar. Dari jauh dia bersorak mengolok Rahmat. Dari matanya dia tak puas hanya dengan kematian Jago.

“ kamu curang Supardi, ayammu dikasih mantra. Ayammu takkan menang melawan ayamku jika saja tak kau beri jampi-jampi. Kamu curangSupardi. Curang. Ku bunuh ayammu.” Rahmat tampak memerah. Dia tidak terima karena ayamnya kalah, mati. Menggelepar. Kericuhan terjadi. Supardi tetap mempertahankan ayamnya, dia merasa benar. Dia memang benar, dia tak pernah merasa menjampi-jampi ayamnya. Ayamnya patut di banggakan. Jika kalah ya kalah.

“Jika kalah, tetap kalah. Kamu tak usah menuduhku seperti itu. Terlalu keji. Terlalu bau mulutmu.” Supardi pun mulai memanas dan marah. Matanya melotot.

“Jika kau takut kalah, kenapa menantangku?!”

“Tapi kamu curang.”

“Banyak mulut kau, ku bunuh saja biar mulutmu diam.”

Dari mulut pada tubuh. Mereka saling pukul, tetapi banyak yang melerai. Mereka berpisah. Hari itu mendung, karena debu yang belarian.

***

Banyak warga yang tak suka pada rahmat. Benci. Dia terlalu naïf dan tega. Dia tak segan-segan mencuri ayam tetangga demi kepuasan dirinya. Dia begitu pemalas, dulu ada kerjaan dia tak mau terlalu sulit katanya, padahal lumayan, pendapatannya bisa buat makan sehari-hari. Ada yang gampang dan instan menurutnya. Mencuri. Diperingatkan dengan halus sudah, digebukin sekampung pernah. Tetapi naluri malingnya tetap saja lahir. Warga berembug cari jalan keluar. Dapat. Menjadikan dia peronda. Untuk mencuri dia akan berpikir tujuh keliling. Dia berhenti. Tak lagi mencuri.

***

Sebuah suara lahir sesaat dengan tempo sepersekian detik. Pelan bagai sayup dedaunan. Seperti riak air. Takkan ada yang mendengar dan tahu, hanya dirinya dan angin yang mendengar. Hatinya yang bicara.

“Kematianmu kebahagiaanku …”

Hanya bayangan berkelebat dan sepoi angin berhembus. Sepi.

*Penulis adalah anggota LPM Humaniush, Mahasiswa Studi Agama-Agama UIN Sunan Kalijaga.

Baca Juga:  Tidak Sekedar Meperingati