Opini

Renungan Kemerdekaan

Belakangan sejak Pilkada DKI Jakarta 2017, saya lebih mudah terharu dan menangis; setiap liat merah putih, setiap dengar lagu Indonesia Raya, setiap liat simpang susun Semanggi dan setiap teringat Pak Ahok dan Pak Jokowi.

17an kali ini saya tidak di Jakarta, tapi saya melihat kemeriahannya di social media. Pak Presiden Jokowi, yang kadang – kadang suka bikin Gemes, punya gagasan lain lagi dengan memakan baju daerah dalam upacara kali ini jadi ingat saat karnaval di sekolah ketika saya masih kecil.

Tapi harapan saya lebih dari pakaian adat terhadap kita bangsa Indonesia. Karena menjaga keragaman bukan hanya tugas seorang Presiden tetapi tugas kita semua.

Menghargai berbagai perbedaan artinya tidak membuat macet jalanan dan menutup jalan raya sembarang saat pengajian, tetapi kita marah saat ada yang melakukan kebaktian di komplek rumah mereka.

Melarang atribut agama lain saat mereka merayakan hari besar agamanya tetapi mengharuskan agama lain utk patuh dan tidak makan saat kita berpuasa.

Minoritas harus dilindungi, bukan disakiti. Kita harus membuka hati untuk tidak mudah termakan ayat-ayat agama tanpa pemahaman yang baik. Belajar agama hanya dari satu kiai atau ulama, apalagi hanya karena mereka sering masuk di TV atau yang wajahnya ditaruh paling besar di poster-poster atau karena mereka memakai surban, jenggotan, atau baju gamisnya paling panjang.

Sebagai orang muslim saya yakin bahwa menuding seseorang kafir hanya karena perbedaan agama atau tidak berlaku adil hanya karena perbedaan agama tidak diijinkan di Al-Qur’an dan Hadist serta tidak di ridhoi oleh Allah SWT. Karena urusan dunia akhirat adalah urusan masing-masing manusia dan Allah SWT.

Dirgahayu Indonesiaku. Semoga seluruh darah Indonesia mencintai mu sedalam para pendiri negeri ini mencintaimu.

I Love U forever… always…

Nita Kartikasari – Proud Indonesian citizen –

Popular

To Top