Saat Genderuwo Plonga Plongo, Pola Komunikasi Sontoloyo

377

Semua orang jadi guru. Semua orang jadi pakar. Semua orang jadi analis. Bidang apa saja. Coba lihat, begitu ada satu berita yang viral, komentarnya lebih heboh. Semua orang merasa punya hak bicara. Ya, memang, tetapi tidak semua orang mampu mengungkapkan apa yang benar.

Perhatikan dua kubu ini saja: Prabowo dan Jokowi. Masing-masing kubu punya istilah serem untuk menjatuhkan lawan. Genderuwo vs Plonga Plongo. Cebongers menyebut kelompok lawan genderuwo. Sebaknya, kampreters mengejek lawannya plonga plongo karena dianggap tidak tegas. Sebagian sibuk mencari PEMBENARAN dan bukan KEBENARAN.

Netizen begitu cepat berkomentar atas munculnya sebuah berita. Di satu sisi, bagus sekali karena mereka jadi berani bersuara setelah sekian puluh tahun dibungkam oleh orde yang gampang menghilangkan orang yang berbeda pendapat. Di sisi lain, ada yang mengatakan kebablasan karena komentarnya seringkali asal njeplak dan tidak dipikirkan matang-matang.

Saat menanggapi berita yang lagi viral, pernikahan #CrazyRichSurabayan yang memberi tiket gratis ke Bali pp, hotel free, souvenir 5-10 gram emas, prewed ke lima benua, hadiah utama 5 mobil jaguar, warganet ramai-ramai berkomentar. Apalagi setelah Tahirsalah seorang paling tajir di Indonesiasaat diwawancarai wartawan online mengatakan bahwa pesta semewah itu sebenarnya tidak perlu mengingat Indonesia yang sedang banyak dilanda bencana. Menurut bos Mayapada grup ini, uang itu seharusnya dipakai untuk menolong masyarakat kecil yang sedang menderita. Pengusaha moncer asal Surabaya ini mengingatkan agar tidak memperlebar jurang antara si kaya dan si miskin. Secara keseluruhan, komentar warganet layak diacungi jempol. Mereka ramai-ramai memuji Datuk Tahir karena meskipun sudah tajir donasinya terus mengalir dari kerendahan hatinya. Bukankah banyak juga yang semakin tajir bertambah kikir? Meskipun begitu, yang nyinyir pun ada.

Baca Juga:  Militer, Stabilitas Negara, dan Kesatuan Indonesia

Mengapa kita suka memakai komunikasi meminjam istilah Jokowisontoloyo?
Pertama, karena euforia kebablasan. Saya ingat saat mempunyai anjing dan saya ikat karena takut mengganggu orang, begitu saya lepaskan dia lahir ke sana kemarin, menabrak apa dan siapa pun sehingga rumah jadi berantakan. Istilah orang Jawa pitek anyaran. Ayam yang baru kita beli dan kita lepaskan biasanya juga liar karena belum beradaptasi dengan rumah barunya. Kita yang biasa takut bersuara karena ancaman yang nyata begitu dibuka langsung ngomong apa saja tanpa mikir alias nyinyir.

Kedua, agar dianggap eksis. Kita bisa merasa inferior dan nobody saat tidak berkomentar. Oleh sebab itu apa pun yang kita pikirkan, tanpa kita filter lagi, langsung kita tumpahkan di gadget kita. Bukan hanya banyaknya typo melainkan juga kesalahan kata dan logika. Yang penting unggah dulu. Kalau nggak ada gue nggak rame!

Ketiga, begitu gampangnya orang berkomentar di media sosial. Di samping blog pribadi, situs online menjamur bukan hanya di musim hujan seperti sekarang, tetapi saat media cetak pengalami penurunan drastis bahkan banyak yang KO dan tersingkir dari ring kompetisi. Coba hitung berapa banyak portal berita online yang bermunculan. Di satu sisi, bagus sekali, karena warganet bisa mendapatkan banyak pilihan. Di sisi lain, banyak juga online publication yang asal muncul, sehingga dikelola ala kadarnya. Karena banyak menulisdan diminta menulis kolomdi berbagai media onlie, saya jadi tahu mana yang dikelola oleh orang-orang yang cerdas dan mana yang asal terbit dan mengumpulkan clickbait. Lebih miris lagi melihat ada orang-orang yang menernak akun untuk mengumpulkan pundi-pundi pribadi.

Cilakanya, komentar nyinyir dan anyir ini terbawa sampai ke ranah intrapersonal, intrapersonal dan tatap muka. Begitu gampangnya makian keluar dari mulut kita hanya karena miskom atau disepelekan. Korban sudah berjatuhan. Gara-gara mulut yang tidak dijaga, harimau yang tidak menjaga mulutnya dibunuh. Saya tentu tidak berpihak pada si pelaku pembunuhan, namun paling tidak korban punya andil dalam peristiwa itu.

Baca Juga:  Pemuda dan Eksistensi Pancasila Menuju Indonesia Emas 2045

Bagaimana kita bisa keluar dari komunikasi sontoloyo itu?
Pertama, dimulai dari diri sendiri. Orang yang paling bertanggungjawab terhadap ucapannya adalah dirinya sendiri. Sejago apa pun ortu mengajarkannya, sebaik apa pun sekolah mendidiknya, seelit apa pun lingkungan kita tinggal, jika kita tidak bisa menjaga mulut, maka kebocorannya menimbulkan bau anyir di mana-mana.

Kedua, berpikir berulangkali sebelum bicara. Kita perlu belajar dari penjahit dan tukang kayu yang mengukur paling tidak dua kali sebelum memotong kain atau kayu. Sekali terpotong, penyesalan tiba. Sekali terlontar, komentar nyinyir sudah terlanjur mengalir.

Ketiga, saling mengingatkan. Tanpa sadar kita seringkali melontarkan kata-kata yang bakal kita sesali. Oleh sebab itu, jika ada yang memberi masukan, jangan reaktif, bahkan memusuhi orang itu. Orang yang memberi masukan kepada kita justru merupakan rem yang baik bagi kita.
Mari perbaiki cara kita berkomunikasi!

Penulis Pelukis Kehidupan di Kanvas Jiwa